Home / Ekonomi / Minta Tarif PDAM Diturunkan, Demo Warga Marente Berakhir Ricuh

Minta Tarif PDAM Diturunkan, Demo Warga Marente Berakhir Ricuh

SUMBAWA BESAR, SR (16/10/2017)

Aksi demo puluhan massa dari Desa Marente Kecamatan Alas di Kantor Bupati Sumbawa, Senin (16/10) berakhir ricuh. Massa terlibat bentrok dan saling dorong dengan anggota Satpol PP setempat. Hal ini dipicu setelah massa yang memaksa masuk menemui Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa dihadang dan dihalau aparat. Aksi saling dorong ini berlangsung cukup alot. Suasanapun semakin gaduh ketika satu orang warga diamankan dan diseret menuju kantor Satpol PP. Massa lain pun langsung merangsek membantu rekannya tersebut. Aparat pun menjadi sasaran pelemparan tomat massa aksi. Beruntung aparat kepolisian yang ikut mengawal jalannya aksi demo tersebut berhasil meredam ketegangan dan massa kembali tenang.

Dalam orasinya, Korlap Aksi, Iying Gunawan menyampaikan tuntutan. Di antaranya soal tingginya tarif pemasangan air PDAM maupun tarif bulanan. Selama ini warga Marente tidak mendapatkan banyak manfaat dari keberadaan PDAM, justru cenderung menyengsarakan. Padahal Marente adalah wilayah hulu sungai dan sumber mata air PDAM. Seharusnya masyarakat setempat mendapat kompensasi digratiskan dari tarif apapun sebagai wujud konstribusi perusahaan air minum milik daerah ini. Tapi justru tarif PDAM sangat mencekik masyarakat. Tarif perbulannya dinilai tidak wajar, hingga sampai Rp 250 ribu. Biaya pemasangannya pun demikian, sangat besar, hingga mencapai Rp 4 juta. “Mata air kami dikuras hingga menjadi kering, kami juga dicekik dengan harga tarif yang fantastis. Ini tidak benar. Kami minta warga Marente khususnya Dusun Beru, digratiskan,” pintanya.

Selain soal tarif, massa juga mendesak PDAM untuk memberdayakan masyarakat Marente bekerja dan menjadi karyawan. Sebab banyak karyawan didistribusikan dari luar Marente. Jika PDAM tidak bisa memberikan konstribusi, mereka mengancam akan menyegel dan membongkar pipa PDAM. “Jangan salahkan kami jika melakukan hal-hal yang tidak diinginkan karena memang PDAM yang menginginkan kami melakukannya,” teriak salah seorang warga.

Menanggapi tuntutan itu, Hamzah, perwakilan PDAM Sumbawa, menjelaskan bahwa harga pokok produksi airnya adalah Rp 2.677. Sementara tarifnya sesuai peraturan Permendagri sebesar Rp 1.860. Artinya, penjualan air jauh di bawah produksi dan harganya sangat murah. ‘’Penjualan air sudah sesuai mekanisme,” terangnya.

Dia juga heran kenapa baru kali ini mempersoalkan tarif airnya. Padahal sudah ditetapkan sejak empat tahun lalu oleh bupati sebelumnya. Sementara tarif pemasangan standarnya yakni Rp 1,6 juta. Yakni dengan panjang pipa empat meter dari pipa induk. Apabila jarak rumah lokasi pemasangannya lebih dari empat meter, maka dikenakan biaya tambahan. Tentunya sesuai dengan RAB bahan kebutuhan yang dipakai. Mendengar pernyataan tersebut, massa tidak puas. Massa pun mengajak pihak PDAM itu melakukan hearing ke DPRD Sumbawa. (JEN/SR)

Lihat Juga

Putra Sumbawa dan Putri Mataram Duta Genre Provinsi NTB

MATARAM, samawarea.com (9/8/2020) Tak hanya dinobatkan sebagai Bunda Genre NTB, Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *