Festival Rantok 1001 Deneng Dihadiri Budayawan Nasional dan Aktor Film

oleh -35 views
Foto: Burhanuddin

SUMBAWA BESAR, SR (02/10/2017)

Bupati Sumbawa, HM Husni Djibril B.Sc didampingi Budayawan Nasional, Selamet Raharjo dan Taufik Rahzen membuka secara resmi Festival Rantok 1001 Deneng II di Kecamatan Maronge, Senin (2/10). Pembukaan festival unik ini ditandai dengan gonteng rantok (pemukulan nisung). Hadir dalam kesempatan itu Sekda Sumbawa Drs. H. Rasyidi, Asisten Pemerintahan Dr. HM  Ikhsan M.Pd, Kadis Pariwisata Ir H Junaidi M.Si, Sutradara/Produser Film Adi Pranajaya dan Kapolsek Plampang IPTU Sarjan.

Dalam sambutannya, Bupati Husni Djibril mengaku bangga dengan terpeliharanya budaya turun temurun ini. Festival tersebut mengingatkan Bupati pada masa kecilnya dan almarhum ibunya.  Saat ia kecil, belum ada mesin Heler untuk merontokkan bulir-bulir padi. Orang tuanya menggunakan rantok (nisung) untuk menumbuk padi. Selain sebagai alat untuk menumbuk padi, rantok juga untuk mengumpulkan warga ketika ada acara adat guna menyambut kedatangan tamu. “Rantok dan nisung ini dibuat dari kayu dan deneng dibuat dari bamboo. Keduanya merupakan alat untuk menumbuk padi,” kata Bupati.

 

Foto: Burhanuddin

Di bagian lain, Bupati menyinggung Adat Samole Daeng yang juga digelar masyarakat setempat. Adat ini untuk mengusir hama tikus secara halus dan tidak dilakukan secara kasar seperti sekarang ini. Mengapa diperlakukan halus, karena tikus ini binatang pendendam. “Prosesi Adat Samole Daeng ini dengan cara meletakkan makanan di pematang ketika padi sudah mulai berisi,” jelasnya.

Baca Juga  Banjir Terjang 30 Desa, Gubernur Turun ke Bima Beri Bantuan

Bupati berharap dua adat yang digelar ini dapat terus dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan budaya Sumbawa. Dan kehadiran tokoh dan budayawan nasional menyaksikan prosesi adat ini akan menjadi motivasi bagi masyarakat untuk menjaga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Sementara Camat Maronge, Lukmanuddin. S.Sos mengatakan, Festival Rantok 1001 Deneng ini digelar selain melestarikan adat budaya juga menjalin kebersamaan. Biasanya adat ini dilaksanakan petani sebagai ikhtiar menjelang musim panen. Dalam prosesi adat ini juga ada disebut dengan Bagorek dengan memotong hewan di sumber air seraya memohon kepada Allah untuk keberhasilan mengolah pertanian. Ada juga prosesi Biso Tian Pade, juga upaya untuk memohon kepada yang Maha Kuasa agar hasil melimpah. (BUR/SR)

dukacita dukacita bankntb