“Kabupaten/Kota di Pulau Sumbawa Tidak Serius Urus Pariwisata”

oleh -10 views
Ir. H. Badrul Munir, MM
bankntb

SUMBAWA BESAR, SR (26/09/2017)

Ketua Regional Institut, Ir H Badrul Munir MM menyebutkan seluruh kabupaten/kota di Pulau Sumbawa termasuk Kabupaten Sumbawa tidak serius mengurus pariwisata. Padahal potensi pariwisata sangat beragam dan besar. Namun kondisinya, geliat pariwisata hanya terlihat biasa-biasa saja. “Saya sudah pelajari seluruh program pariwisata kabupaten, hanya Lombok Utara saja yang serius. Sedangkan seluruh daerah di Pulau Sumbawa tidak serius mengurus pariwisatanya,” kata Haji Bam—sapaannya pada Workshop Sadar Wisata dan Sapta Pesona yang digelar Regional Institut 104 dan Samawa Center dalam rangka Membedah Koridor Pariwisata Sumbawa, di Hotel Transit, Senin (25/9) kemarin.

amdal

Kondisi ini ungkap Haji Bam, karena kelembagaannya yang tidak serius, dan potensi besar namun diurus oleh lembaga yang kecil. Selain itu destinasi wisata juga tidak focus. Harusnya memilih dan fokus pada satu destinasi bukan semua destinasi. “Karena kalau kita membangun semua destinasi tentu tidak akan bisa dan tidak akan ada hasilnya,” kata Haji Bam.

Ia juga menyoroti system pemasaran yang terbilang amatiran. Daerah tidak bisa menunjukkan produk destinasi mana yang harus dipasarkan. “Pertanyaannya, mana destinasi yang mau kita pasarkan itu. Pasar itu butuh promosi. Kalau sekarang ingin promosi, apa yang mau dipromosikan. Uang rakyat jangan dipakai untuk hal yang tidak layak. Tidak ada destinasi yang layak dipromosi misalnya di Sumbawa ini kecuali Pulau Moyo, itupun tidak perlu kita atau Pemda yang promosikan,” ujar mantan Wakil Gubernur NTB ini.

Baca Juga  TGB Ingatkan Jauhi Riba Dengan Usaha Bisnis Berbasis Syari'ah
Ir. H. Badrul Munir, MM

Pariwisata menurutnya, harus dilihat sebagai sebuah industri. Mana destinasinya, mana pemasarannya, dan lembaga yang mengelolanya, serta bagaimana industri pariwisata itu digerakkan. “Kalau empat ini tidak jelas jangan mimpi pariwisata itu akan maju,” tukasnya.

Saat ini, ungkap Haji Bam, Kabupaten Sumbawa belum memiliki peta destinasi yang bisa menjadi acuan untuk mengembangkan destinasi. “Kalau memang kita fokus mau mengembangkan destinasi, hari ini kita berbicara masalah perwilayahan yang disebut dengan koridor. Setelah ini terbahas baru kita akan bicara daya tariknya apa. Apakah budaya, aksesibilitas, dan sarana-prasarana,” bebernya.

Kemudian ketika ingin komit membangun pariwisata yang berbasis masyarakat, tokoh yang dikenal dengan sebutan Sang Pijar ini mengingatkan bahwa telah lahir UU Desa, dan negara mengakui otonomi desa dan desa adat serta seluruh adat istiadat yang ada di situ. Selanjutnya, dilakukan survey kepada wisatawan dari seluruh negara termasuk Indonesia. Perlu ditanyakan apa yang membuat mereka kembali ke Indonesia, NTB maupun Sumbawa. Sekitar 60 persen menjawab karena daya tarik budaya, dan 30 persen daya tarik alamnya, 5 persen daya tarik buatan manusia. “Jadi kalau kita ingin unggul, mari kita kembangkan pariwisata budaya yang berbasis kepada budaya, baik budaya sejarah maupun budaya yang berbasis desa. Karena dunia sekarang sedang rindu dengan desa-desa yang berbudaya,” imbuhnya.

Ia mencontohkan jalan menuju Ai Beling yang rusak parah. Keadaan ini tidak menjadi alasan destinasi itu tidak bisa dijual sebagai daya tarik wisata. Ini bisa disiasati dan mengemasnya menjadi pariwisata petualangan. “Kita bisa jual misalnya ada event wisata adventure sepeda atau sepeda motor dan lainnya. Jangan heran sekarang ada satu negara di Afrika yang kondisi aksesibilitasnya jelek, tapi justru pariwisatanya meningkat secara drastis. Karena dia kreatif,” ujarnya.

Baca Juga  Secara Door to Door TNI-Polri Sumbawa Barat Bagi 207 Paket Sembako

Lebih jauh dikatakannya, Provinsi NTB sudah memiliki Rencana Induk Pengembangan Pariwisata yang berlaku sejak 2013 hingga 2018 mendatang sebagai amanat UU Pariwisata. Ketika dirinya masih aktif sebagai Wagub NTB Tahun 2009, Ia mengajukan rencana induk untuk memajukan pariwisata NTB. “Dalam Rencana Induk ini kita punya 11 rencana pengembangan yaitu 4 di Pulau Lombok, 7 di Pulau Sumbawa. Untuk di Pulau Sumbawa, 2,5 di Kabupaten Sumbawa, dan masing-masing 1,5 di KSB, Dompu dan Bima. Jadi lebih besar di Pulau Sumbawa, sehingga maju mundurnya pariwisata NTB sangat ditentukan oleh Pulau Sumbawa,” pungkasnya. (JEN/SR)

iklan bapenda