1.200 Mahasiswa Baru UTS Disambangi Wamen ESDM

oleh -0 views
bankntb

SUMBAWA BESAR, SR (24/09/2017)

Sebanyak 1.200 orang mahasiswa baru Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) Tahun 2017 menyambut kedatangan Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Arcandra Tahar dalam kunjungan kerjanya di Kabupaten Sumbawa, Minggu (24/9). Arcandra yang didampingi Anggota Komisi VII DPR RI, Dr. H. Zulkieflimansyah SE., M.Sc tiba di UTS setelah berkunjung ke lokasi proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Sumbawa, di Labuan Badas, Kecamatan Badas Sumbawa. Arcandra juga sempat mampir di Arena Pacuan Kuda Pordasi Sumbawa Kecamatan Moyo Hilir untuk menyaksikan kehebatan para joki cilik tanpa pelana menunggang kuda pacuan.

amdal
Wamen ESDM Arcandra Tahar didampingi Pendiri UTS, Doktor Zulkieflimansyah dan Rektor UTS, Dr. Andy Tirta di Kampus UTS

Di hadapan mahasiswa baru UTS dari seluruh propinsi ini, pejabat yang bernama lengkap Ir. Arcandra Tahar, M.Sc., Ph.D ini menceritakan kisah hidupnya yang cukup menginsprasi. Arcandra lahir di Padang, Sumatera Barat, 10 Oktober 1970 dari kalangan keluarga sederhana dan tinggal di salah satu daerah terpencil wilayah Kota Padang. Arcandra menyelesaikan S-1 di Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB) padahal sejak lulus SMA sudah mendapat tawaran dari negara untuk melanjutkan study keluar negeri. Lulus dari ITB, keinginannya untuk menimba ilmu di luar negeri sangat besar. Iapun mengajukan lamaran dan diterima kuliah S-2 di Texas A&M University, Amerika Serikat, hingga selesai. Arcandra kemudian kembali melanjutkan pendidikan S-3 di Amerika Serikat. Setelah itu, ia menjadi konsultan di berbagai perusahaan internasional termasuk pernah bekerja di Andersen Consulting. Setelah 20 tahun berada di Negeri Paman Sam, pemilik hak paten tentang desain offshore di Amerika Serikat ini kembali ke tanah air karena dipanggil Presiden Jokowi untuk memangku jabatan sebagai Menteri ESDM menggantikan Sudirman Said. Jabatan itu hanya berlangsung singkat, hanya 20 hari dan menjadikannya sebagai menteri dengan masa kerja terpendek dalam sejarah di Indonesia karena polemic dwikewarganegaraan. Hanya berselang dua bulan, tepatnya 14 Oktober 2016, Arcandra resmi dilantik menjadi Wakil Menteri ESDM mendampingi Menteri ESDM Ignasius Jonan.

Proses hidup itu ungkap Arcandra, merupakan kekuasaan tuhan. Ia percaya bahwa nasibnya sudah ada yang mengatur tanpa harus berbuat dan berpikir macam-macam yang menyebabkannya frustasi. Yang terpenting baginya terus berusaha menjadi orang yang selalu bermanfaat bagi siapa saja, dalam posisi apapun, kapan dan dimanapun berada. “Mungkin ada yang bertanya, sudah diberhentikan menjadi menteri kok mau jadi Wamen. Saya kira semua bertanya seperti ini,” singgung Arcandra.

Baca Juga  Mahasiswa UTS Sumbang Medali Emas di Porprov

Menurutnya, bukan jabatan yang menentukan seseorang menjadi baik, tapi kebaikan apa yang diperbuatnya setiap hari dan bermanfaat bagi orang lain. Ia mengibaratkan jabatan tersebut sebagai seorang juru parkir. Semua kendaraan mulai dari becak, sepeda motor hingga mobil mewah diterima dan dijaganya agar aman. Ketika pemilik kendaraan itu datang mengambilnya, dengan ramah dan ikhlas, tukang parkir ini menyerahkannya karena sadar itu hanya titipan. Demikian dengan jabatan bukan bersifat permanen melainkan hanya sementara. Jabatan yang ada sekarang sewaktu-waktu bisa hilang. Karenanya harus selalu siap bahwa dimana pun berada teruslah berusaha berbuat kebaikan. “Kalau kita punya kebaikan satu saja dalam sehari maka setahun kita sudah punya 365 kebaikan. Di kementerian saya selalu mengatakan jika bisa membuat kemudahan dan terobosan dalam birokrasi satu saja untuk satu hari, berapa banyak orang yang bisa kita tolong dalam setiap harinya. Intinya bukan jabatan yang menentukan bahwa kita bisa menolong atau tidak, tapi prilaku untuk membantu orang setiap hari itulah yang menjadikan kita bermanfaat,” ujarnya.

Didampingi Bupati Sumbawa, HM Husni Djibril B.Sc, Wamen Arcandra menyapa mahasiswa baru UTS berasal dari Aceh sampai Papua

Bupati Sumbawa, HM Husni Djibril B.Sc menyatakan bahwa kisah hidup Wamen ESDM ini cukup menginspirasi terutama untuk para mahasiswa yang menimba ilmu di UTS. Banyak wejangan yang diberikan guna memotivasi siapapun untuk berbuat hal-hal yang bermanfaat bagi orang lain. Seperti yang dilakukan Doktor Zulkiefklimansyah, meski berkiprah di Jakarta namun tidak pernah lupa Sumbawa sebagai tanah kelahirannya. Doktor Zul berhasil membangun peradaban di Sumbawa dengan mendiri UTS—kampus kecil namun berkualitas dunia. Bupati meyakini kiprah ini akan menjadi sejarah dan dikenang oleh generasi di masa akan datang. Karena itu ia sangat bangga, bahagia dan terharu ketika melihat dan mendengar seribuan mahasiswa dari luar daerah, Aceh hingga Papua berbondong-bondong menuntut ilmu di UTS. “Jadi saya mengucapkan selamat datang untuk para mahasiswa baru UTS untuk menuntut ilmu di kota kecil kami. Di sinilah sumber ilmu yang kalian kejar, seriuslah, dan selalu memohon doa kepada Allah SWT agar ilmu yang bermanfaat dapat kalian peroleh di kampus yang berada di kaki Bukit Olat Maras ini,” ucapnya.

Baca Juga  Dewan Riset Daerah Sumbawa Dibentuk, Resmi Dilantik Bupati

Demikian kepada Wamen Arcandra, Bupati menyampaikan terima kasih atas kehadirannya, berharap mampu memotivasi pemerintah daerah dan masyarakat Sumbawa untuk terus membangun dan berkonstribusi.

Sebelumnya Rektor UTS, Dr. Andy Tirta mengakui jika tahun ini, UTS menerima mahasiswa baru sebanyak 1.200, sekitar 600 orang di antaranya berasal dari luar daerah, yakni dari Aceh hingga Papua. Meski UTS berada di sebuah lembah jauh dari kota yang bahkan tidak terlihat atau tercatat dalam peta, namun di kaki Bukit Olat Maras yang merupakan bukit kebahagiaan, mereka akan berkarya dan memberikan konstribusi bagi umat manusia di dunia. Hal ini sejalan dengan visi besar UTS menjadi rumah pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan untuk tumbuh utuh sebagai seorang manusia yang memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi semesta alam.

Ditambahkan Dr. H Zulkieflimansyah—pendiri UTS, bahwa kampusnya disebut juga dengan Kampus Elang. Dengan sebutan itu Ia berharap mahasiswa UTS dapat seperti elang yang mampu terbang tinggi mengarungi dan menaklukkan lembah, samudera, pulau, negeri bahkan dunia. UTS diwujudkan sebagai kampus nyaman dan menyenangkan bagi mahasiswanya. Nyaman dan menyenangkan ini bukan hanya masalah fisik tapi kehangatan perasaan dan indahnya persaudaraan untuk tumbuh utuh sebagai manusia. “Kita tidak ingin satu kampung yang ada di dekat kampus ini menjadi menderita karena kehadiran kita. Mahasiswa UTS harus tumbuh menjadi manusia utuh yang pikirannya cerdas, fisiknya kuat tapi punya maknawiya yang bagus sebagai hamba Allah. Kita ingin dia pintar dan mengetahui perubahan dunia, fisik prima karena makan dan olahraga cukup, tapi ketika adzan memanggil mereka tersungkur melepas segala sesuatu menghadap Allah SWT,” demikian Doktor Zul. (JEN/SR)

iklan bapenda