Bupati Sumbawa Sebut 4 Nilai Kearifan Lokal pada Prosesi Melala

oleh -40 views
bankntb

SUMBAWA BESAR, SR (21/09/2017)

Bupati Sumbawa, HM Husni Djibril B.Sc mengatakan, melala merupakan satu tradisi yang lazim dilakukan masyarakat Sumbawa sejak memasuki Bulan Muharram. Melala ada proses pembuatan minyak Sumbawa yang dilakukan para ahli minyak atau yang populer disebut sandro. Ini juga merupakan tradisi warisan lelulur masyarakat Sumbawa dan salah satu wujud kemajuan peradaban masyarakat dalam hal pengobatan tradisional. Dalam tradisi ini ungkap Bupati saat membuka kegiatan Parade Melala di Lapangan Pahlawan, Rabu (20/9) malam, terdapat empat nilai kearifan lokal yang patut dipetik dan diwariskan kepada anak cucu di masa mendatang. Pertama, sebut Bupati, adalah pelestarian lingkungan hidup. Sebab bahan-bahan yang digunakan dalam proses pembuatan minyak ini tidak terlepas dari akar kayu atau kulit kayu serta buahnya. “Ini mengisyaratkan agar kita terus melestarikan sumberdaya alam yang kita miliki, tidak melakukan ilegal logging, namun harus mampu menggeliatkan apotik hidup di lingkungan keluarga dan rumah tangga kita masing-masing,” ujar Bupati Haji Husni.

Kedua, dalam hal kesehatan. Orang tua terdahulu dengan keanekaragaman kekayaan alam tumbuh-tumbuhan obat, telah mampu membuka tabir di semua kebesaran yang diciptakan Allah SWT bahwa kesehatan sangat penting dari setiap orang. Dengan segala ikhtiarnya mampu membuat berbagai macam ramuan minyak Sumbawa dengan berbagai macam khasiatnya. Ketiga, dari sisi ekonomi. Keberadaan minyak Sumbawa berdampak yang cukup baik bagi kehidupan ekonomi masyarakat Sumbawa. Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk proses pembuatannya selain akar-akaran juga buah kelapa, madu dan bahan lainnya. Selain diproduksi secara khusus, minyak Sumbawa juga bisa diproduksi untuk keperluan banyak orang dan bisa dipasarkan. Upaya ini mampu mengangkat ekonomi masyarakat menengah ke bawah yang memanfaatkan peluang tersebut. Apalagi branding Minyak Sumbawa sudah sangat dikenal dimana-mana. Keempat, dari sisi social, khasanah budaya yang sudah diletakkan orang tua jaman dahulu harus terus dipelihara dan menjadi bagian dalam interaksi social yang memperkuat jati diri dan kebanggaan sebagai Tau Samawa. “Empat nilai inilah yang ingin kita sampaikan kepada masyarakat khususnya generasi muda Sumbawa. Bahwa kita sebagai Tau Samawa senantiasa memegang teguh falsafah “taket ko nene kangila boat lenge” (takut kepada Allah dan malu untuk berbuat jahat atau buruk) dan diimplementasikan dalam menjalin hubungan hablumminallah dan hablumminannas,” demikian Bupati. (JEN/SR)

iklan bapenda
Baca Juga  Hari ini, Presiden Kembali Kunker ke NTB