Curiga Bayi Tertukar di RSUD Sumbawa, Orang Tua Desak Tes DNA

oleh -7 views
Jumaedi didampingi keluarganya menemui pihak RSUD Sumbawa
bankntb

SUMBAWA BESAR, SR (04/09/2017)

Pelayanan RSUD Sumbawa kembali mendapat sorotan masyarakat. Kasus kali ini terbilang sangat serius. Pasalnya ada pasien yang komplin jika bayinya diduga tertukar. Adalah Jumaedi (25) warga Desa Empang Bawa, Kecamatan Empang.

amdal

Dituturkan Jumaedi saat ditemui wartawan, Senin (4/9) tadi, dugaan ini bermula ketika isterinya, Endang Lestari yang semula dibawa ke Puskesmas Empang dirujuk ke RSUD Sumbawa untuk persalinan, Sabtu (2/9) lalu. Rujukan ini terpaksa dilakukan karena istrinya harus melahirkan secara caesar. Sekitar pukul 19.00 Wita, istrinya melahirkan. Jumaedi tidak sempat melihat apa jenis kelamin anaknya, karena dilarang masuk ke ruang operasi. Namun dari bidan yang sempat ditemui iparnya memberitahukan bahwa anaknya berjenis kelamin laki-laki. Ini juga diperkuat dengan surat kelahiran dari RSUD yang menyatakan anaknya berjenis kelamin laki-laki. Betapa senangnya Jumaedi. Setelah itu dia sempat masuk melihat anaknya dan mengadzankannya tapi tidak mengecek jenis kelaminnya. Selanjutnya dia diminta untuk menandatangani surat yang cukup banyak, termasuk surat keterangan kelahiran dengan jenis kelamin anak laki-laki. Bidan juga memintanya untuk membeli perlengkapan bayi. Khabar gembira ini langsung disebar Jumaedi kepada keluarga dan mertuanya di Empang. Tentu saja keluarga sangat senang terutama sang mertua karena itu adalah cucu laki-laki pertama. Namun kegembiraan itu hanya berlangsung singkat. Sebab saat bayinya diserahkan pada Minggu (3/9) sekitar pukul 14.00 Wita, ternyata berjenis kelamin perempuan. Jumaedi tidak terima dan melakukan komplin karena menduga bayinya tertukar.

Baca Juga  Hilang Tiga Hari, Pegawai PU Ditemukan Tewas Terbakar

Memang diakui Jumaedi, sebelum bayinya diserahkan bidan kepadanya, dia sempat curiga karena ada gelagat yang janggal. Sejam sebelumnya, dia dipanggil untuk mengambil bayi. Saat bergegas, bidan tidak langsung menyerahkan anaknya tapi hanya ditanya banyak hal, setelah itu dia diminta keluar. Sementara orang tua lainnya langsung bisa mengambil anaknya. “Saya heran, saya dipanggil tapi nda ambil anak, sedangkan orang tua lainnya bisa mengambil anaknya yang juga baru selesai persalinan,” kata Jumaedi.

Selang beberapa saat dia kembali dipanggil untuk masuk ruangan. Di tempat itu dia kembali ditanya apakah sudah mengecek bayinya dan mengazankannya. Untuk mengazankannya ia mengiyakan, tapi tidak untuk mengecek secara detil bayinya. Lagi-lagi dia diminta keluar ruangan. Cukup lama dia menunggu bisa mendapatkan bayinya. Tibalah bayinya diserahkan. Ketika dicek ternyata berjenis kelami perempuan. Pihak rumah sakit sempat menyampaikan permohonan maaf karena ada kesalahan melingkari jenis kelamin di dalam surat kelahiran. “Kalau memang bayi saya perempuan kenapa tidak diinformasikan pada malam hari saat bidan mengganti pakaiannya. Kenapa baru keesokan harinya saya diberitahu. Ini ada apa,” tanyanya.

Kata maaf dari rumah sakit menurut Jumaedi tidak bisa diterimanya begitu saja, apalagi harus percaya jika benar-benar bayinya berjenis kelamin perempuan setelah sebelumnya diinformasikan laki-laki. Untuk meyakinkan hal ini, Jumaedi meminta pihak rumah sakit melakukan tes DNA. Jika tidak dilakukan, ia mengancam akan membawa persoalan ini ke ranah hukum. (JEN/SR)

BACA JUGA: https://www.samawarea.com/2017/09/ini-klarifikasi-rsud-soal-dugaan-bayi-tertukar/

iklan bapenda