Dinas PUPR Sumbawa Tegur Kontraktor Jembatan Utan

oleh -11 views
PPK Heri Jayadi didampingi PPTK Bambang R
bankntb

SUMBAWA BESAR, SR (24/08/2017)

Hasil pengerjaan Proyek Pemeliharaan Jembatan Gantung Utan Tahun 2017 dikritisi masyarakat. Bahkan masyarakat meminta agar pengerjaan proyek senilai Rp 1,18 Milyar ini dihentikan karena dinilai tidak sesuai spesifikasi tekhnis dan asal-asalan. Terhadap persoalan ini Dinas PUPR Kabupaten Sumbawa akan melakukan teguran kepada kontraktor pelaksana, CV. Concrete Indonesia. “Besok surat teguran kami layangkan,” kata Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Heri Jayadi saat dicegat SAMAWAREA usai diundang hearing di Komisi III DPRD Sumbawa, Kamis (24/8).

amdal

Teguran ini ungkap Jayadi—sapaan PPK Dinas PU didampingi Bambang R selaku PPTK, tidak menghentikan kegiatan proyek. Yang dihentikan adalah pengerjaan yang menggunakan material kayu. Sebab hasil pengecekan ada sebagian kayu yang tidak sesuai spek dan telah disingkirkan dari lokasi untuk diganti. Masalah kayu ini menjadi ranah kehutanan. Dalam RAB, kayu yang digunakan adalah jenis kelas kuat I dan awet I. Untuk jenis kayu ini yang menentukannya adalah pihak kehutanan yang dibuktikan dengan adanya rekomendasi. Kebetulan dari dinas teknis ini mengeluarkan dua rekom. Rekomendasi pertama dikeluarkan Dinas Kehutanan, setlah masyarakat Utan mendatanginya di PUPR menyampaikan persoalan kayu tersebut. bersama kehutanan, PUPR turun melakukan investigasi jenis kayu sekaligus cek metode kerja yang dipakai kontraktor. “Saat itu kami menghentikan sementara pemasangan kayu, tapi untuk pekerjaan lain tetap berlanjut seperti pembersihan tanah dan karatan plat gelagar yang kemudian dicat untuk pelindung besi,” kata Jayadi.

Baca Juga  Tim Pencegahan Korupsi Diminta Bekerja Serius
PUPR dan KHP Ropang inspeksi Jembatan Gantung Utan

Setelah itu, pihaknya kembali berkoordinasi dengan Dishut meminta tenaga ahli untuk menjustifikasi pembenaran kualitas kayu. Dari pengecekan tenaga ahli ini, Dishut mengeluarkan rekomendasi kedua. Sebab ditemukan dari 427 batang kayu yang berada di lokasi proyek terdapat 24 batang yang tidak sesuai jenis dan harus diganti. Selain itu ada 10 batang yang cacat di antaranya bengkok dan lapuk. Selebihnya merupakan kayu jenis kuat I dan Awet I, II. Kayu tersebut menurut hasil penelitian tim ahli ini kerap dipergunakan untuk jembatan dan bantalan rel kereta api.

Terkait dengan kinerja konsultan pengawas, Jayadi mengaku sempat kecewa dan marah. Mereka diberikan tugas untuk memantau atau mengawasi setiap gerakan pekerjaan. Konsultan pengawas ini harus memastikan material dan pengerjaannya sesuai spesifikasi tekhnis. Jika tidak sesuai spek dapat langsung ditolak. Bila kontraktornya membandel konsultan dapat melaporkannya ke PPK agar diambil tindakan tegas.

Di bagian lain Jayadi memberikan apresiasi kepada masyarakat yang menjadi mata dan telinga pemerintah dalam mengawasi proses pengerjaan proyek yang didanai APBD Sumbawa 2017 ini. Sikap proaktif dan inisiatif masyarakat melakukan pengawasan ini secara tidak langsung mencegah daerah mengalami kerugian. Untuk itu Jayadi berharap masyarakat terus memberikan dukungan dan bersama PUPR melakukan pengawasan pada kegiatan proyek Jembatan Utan yang masa pengerjaannya masih tersisa 2 bulan lagi ini. (JEN/SR)

iklan bapenda