PUPINKA Lahir Solusi Atasi Kemerosotan Moral Generasi Muda

oleh -33 views
bankntb

SUMBAWA BESAR, SR (19/08/2017)

Peredaran narkoba dan obat-obatan terlarang lainnya sudah merambah di semua lini kehidupan. Sasarannya tidak hanya orang dewasa namun juga anak-anak yang masih berusia sangat belia. Kondisi ini sangat miris, menghawatirkan dan sudah masuk kategori darurat. Hal tersebut bisa terjadi karena kurangnya pemahaman masyarakat tentang bahaya narkoba di samping tidak adanya wadah bagi mereka untuk berekspresi dan melakukan kegiatan-kegiatan positif. Berangkat dari pemikiran itu, Fahmi, Yadi dan Heru Cs–kalangan muda RW 03 Kelurahan Bugis Kabupaten Sumbawa, mendirikan taman bacaan. Sesuai dengan lokasinya di pinggir sungai, taman bacaan itu diberi nama “Pupinka” (Pustaka Pinggir Kali). Dengan lokasi seadanya dan berada di bantaran sungai, taman bacaan sederhana tersebut didirikan pada 21 April 2017 bertepatan dengan Peringatan Hari Kartini. Momen ini dimaknai sebagai upaya perubahan dari gelap gulita menuju terang benderang sebagaimana buku R.A Kartini yang sangat terkenal “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

amdal

Yadi—salah satu inisiator Pupinka didampingi Fahmi dan Heru Kalbuadi, menjelaskan, Taman Bacaan Pupinka tidak hanya sekedar menarik minat dan kesadaran membaca, tapi lebih jauh merubah pola pikir dan karakter masyarakat di lingkungan sekitar. Memang awalnya terasa berat. Merubah kebiasaan masyarakat bagaikan memegang bara api. Tidak sedikit yang mencemooh, namun cukup banyak yang memuji langkah pertama mereka. Awalnya dengan memperbanyak perbendaharaan buku termasuk bantuan dari Taman Baca “Dila” Jalan Diponegoro maupun bantuan buku dari individu-individu. Lambat tapi pasti anak-anak mulai mendekat, bahkan orang tua ikut terlibat karena merasa penasaran dengan sesuatu yang baru di lingkungan tempat tinggalnya. Keberadaan Pupinka mulai diperluas. Anak-anak tidak hanya datang lalu membaca buku, tapi juga mendapat pembinaan gratis. Bagi yang tidak bisa membaca dan menulis, diajari sampai bisa, demikian dengan baca Al-Qur’an dituntun hingga melek. Termasuk menyiapkan les gratis bagi anak-anak yang kurang dalam Bahasa Inggris dan Matematika. Tenaga pengajarnya pun sukarela. Mereka berasal dari mahasiswa dan guru yang terpanggil untuk mengamalkan ilmunya. Suasana di pinggir sungai yang dulunya sepi dan gelap kini menjadi ramai. Anak-anak mulai terbiasa berkumpul untuk melakukan rutinitas yang positif. Sedikit demi sedikit mereka diberikan pemahaman betapa pentingnya memiliki tubuh yang sehat, menjadi generasi yang kuat, serta otak yang cerdas baik secara intelektual maupun spiritual. Itu bisa terwujud ketika mereka bebas narkoba, tramadol dan komix, serta terbiasa melakukan kegiatan-kegiatan positif. Selain karakter sudah mulai terbentuk, pola hidup bersih juga terlihat. Bantaran sungai yang dulunya kumuh dengan sampah berserakan, kini berubah bersih. Bantaran sekitar Pupinka ditata sedemikian rupa, sehingga sedap dipandang mata. Masyarakat setempat sudah malu membuang sampah ke sungai, dan secara inisiatif membuat wadah sampah. Kegiatan lainnya yang dilakukan Pupinka timpal Heru, setiap malam Jumat, mereka menggelar Yasinan. Tidak hanya di taman bacaan saja yang menjadi pusat kegiatan dan berkumpul, tapi Yasinan itu dilakukan dari rumah ke rumah. Maknanya agar rumah yang selama ini terkesan seperti kuburan menjadi hidup karena diisi dan disemarakkan dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Melihat langkah kecil yang dilakukan jajaran Pupinka ini, ujar Heru yang berprofesi sebagai perawat ini, warga mulai memberikan dukungannya.

Baca Juga  SMA 1 Badas dan SMA 1 Rhee Mulai Dibangun Tahun 2015

Ditambahkan Fahmi, untuk menggali kreatifitas anak-anak, Pupinka di setiap momen hari besar selalu menggelar berbagai lomba. Meski sederhana dan dana terbatas dari hasil urunan, semua kegiatan yang dilaksanakan berjalan sukses. Anak-anak yang sebelumnya gagu dan gugup tampil di depan publik, kini sudah mulai berani. Mereka sudah mampu berdiri di atas panggung untuk membaca puisi, bercerita, mengaji, bahkan berteater. Dari bekal ini, anak-anak binaan Pupinka kerapkali mengikuti berbagai event. Meski sebagian besar belum meraih juara, minimal mereka terbiasa dan memiliki jiwa bertarung.

“Kami memiliki keterbatasan bukan hanya SDM tapi juga dana. Kami tidak ingin keterbatasan ini menghentikan langkah kami untuk berkreatifitas dan berbuat hal-hal yang bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan di sekitar kami. Apapun itu, kami harus berbuat, karena jika tidak dilakukan dari sekarang kapan lagi, dan jika bukan kita lalu siapa lagi,” demikian Fahmi—anak yatim yang tengah menyelesaikan kuliahnya di Universitas Samawa (UNSA) ini. (JEN/SR)

 

iklan bapenda