Ketegasan dan Kecerdasan: Pilihan Menuju Kursi NTB Satu

oleh -1 views
Dien Firdaus Pranata
bankntb

Oleh: Dien Firdaus Pranata, Mahasiswa FISIP Universitas Samawa (UNSA)

SUMBAWA BESAR, SR (16/08/2017)

amdal

Saat ini Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) sudah mulai sibuk dengan agenda lima tahunan wajib pemilihan pemimpin baru. Meskipun akan dilakukan pada tahun 2018, namun atmosfer politik kian mendominasi karena Pemilihan Gubernur (Pilgub) ini. Mulai dari poster dan spanduk yang terpampang di berbagai sudut jalan dan tempat umum, bahkan berita–berita di media massa dan media sosial yang semakin ramai dan menghangat, baik tentang tokoh maupun ke arah mana koalisi partai akan berlabuh. Semua pemberitaan semacam ini semakin ramai dan menjadi komoditas politik utama menjelang 2018.

Komoditas politik menjadi suatu keniscayaan menjelang pemilihan pemimpin di Indonesia. Sudah menjadi suatu tradisi tidak tertulis yang mengakar. Tidak salah memang untuk mempromosikan diri agar dipilih menjadi pemimpin selama tidak melanggar hukum, akan tetapi masyarakat kita sudah terlalu terbiasa dengan komoditas politik tanpa melihat isi dari komoditas ini. Tokoh calon pemimpin. Hal inilah yang seharusnya menjadi fokus perhatian masyarakat NTB. Bukan malah mengalir begitu saja terbawa berita dan tanpa tahu apa yang sedang mereka nikmati.

Berbicara mengenai tokoh calon pemimpin NTB maka erat kaitannya dengan ketegasan dan kecerdasannya dalam memimpin. Tak pelak lagi, kedua hal ini menjadi sangat penting dalam mengukuhkan posisi sang calon pemimpin. Sederhananya, seorang pemimpin yang cerdas akan memberikan jalan keluar solutif untuk permasalahan di provinsi ini dan ketegasan yang ia miliki akan membuat berbagai aturan dan kebijakan daerah berjalan sebagaimana mestinya.

Kedua hal ini sangat penting kaitannya dalam kepemimpinan. Logikanya, kecerdasan yang tinggi tidak akan menghasilkan karya yang baik jika tidak tegas dalam memberikan keputusan. Kecerdasan dan ketegasan seorang pemimpin merupakan keniscayaan yang menyertai seorang pemimpin dalam bertindak. Bagaimana tidak, terlalu banyak pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan oleh pemimpin di NTB, mulai dari permasalahan yang mendasar hingga permasalahan kompleks tingkat tinggi. Permasalahan-permasalahan dasar yang dikelompokkan menjadi tiga. Yaitu pertama, wujud fisik berupa pembangunan dan kesenjangan. Kedua, sumber daya manusia berupa kualitas pendidikan dan kebutuhan dasar manusia. Dan ketiga, kekuatan ekonomi dan perencanaan jangka panjang sangat perlu untuk diselesaikan.

Baca Juga  Gubernur: Lulus Kuliah Harus Berani Ukir Masa Depan Sendiri

Permasalahan pertama adalah pembangunan dan kesenjangan fasilitas. Pemimpin yang akan sah melanjutkan estafet kepemimpinan gubernur tahun 2018 sangat perlu memperhatikan hal ini. Pembangunan di NTB begitu terlihat mencolok perbedaannya baik dalam hal kualitas infrastruktur maupun kecepatan dalam pembangunan. Pemimpin yang cerdas dan tegas akan memikirkan dan mengalokasikan perhatian pada masalah ini sesuai proporsi kebutuhan per daerah tingkat bukannya “memukul rata” agar pembangunan yang adil dapat tercapai.

Permasalahan kedua yaitu sumber daya manusia. Sangat banyak aspek penting yang digunakan dalam menilai tingkat kualitas sumber daya manusia. Dua di antaranya kesehatan dan pendidikan. Penilaian kualitas suatu daerah akan terlihat dari segi pendidikan dan kualitas pelayanan kesehatannya. NTB hingga saat ini masih dihadapkan pada permasalahan yang terkait dengan pendidikan. Pengiriman tenaga kerja misalnya. Pemerintah daerah sudah seharusnya mengucurkan program pro rakyat untuk mengurangi jumlah tenaga kerja yang dikirimkan. Terkait hal ini, kebanyakan tenaga kerja yang dikirim bukanlah tenaga ahli nan profesional dan masih menimbulkan masalah karena latar belakang pendidikannya. Jika kita bisa mengirimkan tenaga kerja ke luar negeri namun dengan kualitas pendidikan yang tinggi, pastilah akan memberikan dampak positif yang lebih daripada saat ini.

Selain pendidikan, kesehatan sebagai kebutuhan dasar pun harusnya menjadi sorotan. Calon gubernur nanti harusnya sudah harus berfikir cerdas dan memberi keputusan tegas dalam kebijakan yang terkait kesehatan dasar. Secara gamblang dapat dilihat, betapa banyak keluarga prasejahtera di NTB dan masih kesulitan dengan akses kesehatan yang memadai. Tentu hal ini menjadi pekerjaan rumah yang sangat besar bagi calon pemimpin nanti.

Baca Juga  Seberangi Laut, Doktor Zul Sapa Masyarakat Pesisir Pulau Moyo

Ketiga, mengenai kekuatan ekonomi dan pembangunan jangka panjang. Harapan yang sangat besar nantinya pada gubernur 2018 untuk meningkatkan pendapatan daerah melalui pemaksimalan sumber daya serta pengolahan sumber daya alam, minimal setengah jadi untuk menaikkan nilai barang. Bukan hanya pengolahan, tetapi iklim investasi pun harus bisa dimaksimalkan untuk semata–mata kesejahteraan masyarakat NTB. Disamping kekuatan ekonomi, NTB juga perlu pemimpin cerdas dan tegas yang visioner untuk pembangunan NTB kedepannya. Gubernur NTB yang nanti akan memimpin memang hanya 5 tahun dalam sekali periode, namun hanya pemimpin yang cerdas dan tegas akan membuat hasil kerjanya membekas dan memberikan dampak kesejahteraan bahkan beberapa tahun kedepan meski tidak menjabat lagi.

NTB memiliki banyak sekali masalah atau pekerjaan rumah. Pemimpin yang cerdas dalam merancang kebijakan dan program kerja serta visioner dengan masa depan NTB yang pantas menjadi pilihan. Bukan hanya cerdas, tetapi NTB juga perlu pemimpin yang tegas dalam aplikasi program mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh warga NTB. (*)

iklan bapenda