Full Day School Policy: Ada Apa Denganmu ?

oleh -2 views
Ubaidullah
bankntb

Oleh: UBAIDULLAH (Ketua Umum Imasus dan Ketua Pemuda Muhammadiyah Sumbawa Bid. Humas)

SUMBAWA BESAR, SR (16/08/2017)

amdal

“Sungguh aneh tapi nyata, mungkin adagium ini sangat tepat dengan polemik istilah full day school (FDS). Lucu, geli, dan juga gatal rasanya ketika aku diperdebatkan, didemo, dan bahkan dijadikan mangsa pembasmi hama. Padahal aku bukan hama yang mematikan, atau bukan benih yang melahirkan radikalisme, dan premanisme, tapi aku adalah sebuah istilah atau kebijakan yang memberikan perubahan dan produktivitas bagi manusia. FDS adalah percikan-percikan api perubahan, api pembaharuan yang bukan sekarang baru bergumul tapi telah lama aku hadir menghiasi relung dan sudut kehidupan manusia, terutama pada basis-basis santri yang dari bangun pagi sampai tidur kembali selalu dalam keadaan belajar. Heets….nampaknya aku baru sadar ternyata di balik kehadiranku di tengah sistem pendidikan ini, ada yang ingin meraut keuntungan materi,,mungkin ? Karena aku tidak substantif lho untuk diperdebatakan” (Jeritan Si Cangkir).

Sebelum lebih jauh kita berbicara tentang kebijakan ini, penulis ingin memulai dengan menjelaskan mengenai apa yang dimaksud dengan FDS itu ? dan bagaimana histori atau sejarah dari FDS ?. Full day school (FDS) adalah sekolah sepanjang hari penuh atau atau bisa disebut dengan kegiatan belajar mengajar (KBM) yang dilaksanakan sejak pukul 06:45-15:00. Full day school (FDS) sendiri muncul sejak awal tahun delapan puluhan di Amerika Serikat (dikutip dari media Informasi dan Pendidikan Indonesia). Ada beberapa hal yang melatarbelakangi para orang tua untuk tertarik memasukkan anaknya ke FDS, antara lain yaitu semakin leluasanya kaum ibu yang bekerja di luar rumah dan mereka yang mempunyai anak berusia di bawah 7 tahun, membludaknya jumlah anak usia prasekolah, makin tinggi pengaruh TV dan makin meningkatnya mobilitas para orang tua, serta segala kemajuan dan modernitas yang mulai berkembang pesat di semua aspek kehidupan. Full day school (FDS) ini bila dilihat dari proses pelaksanaannya sebagian waktu yang dipakai untuk program pelajaran yang bernuansa nonformal, fleksibel, menyenangkan bagi siswa dan memerlukan kreativitas dan sentuhan inovasi dari para guru.

Baca Juga  Pendaftar Kurang, SMA 4 Masih Cari Siswa

Akhir-akhir ini publik dibuat ribut oleh istilah full day school (FDS) atau 8 jam sehari selama lima hari sekolah. Kebijakan ini dikeluarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) lewat Peraturan Menteri (Permen) Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Libur Sekolah. Kebijakan ini telah berlaku pada tahun ajaran baru yang jatuh pada Juli 2017. Namun bagi sekolah yang belum memiliki sumber daya dan sarana transportasi yang memadai, maka kebijakan ini dilakukan secara bertahap. Pada prinsipnya tidak ada yang salah dari kebijakan ini, karena bertujuan pada penguatan karakter anak didik.

Kebijakan tentang full day school policy (FDS) atau 8 jam sekolah selama lima hari ini, bukan barang baru yang harus dijadikan polemik, karena sebelum istilah ini didengungkan dengan diperkuat dengan lahirnya Peraturan Menteri (Permen), nampaknya sistem ini telah berlaku dan diterapkan di sekolah-sekolah seperti SMA Tebu Ireng Jombang, SD/SMP/SMA IT dan masih banyak sekolah yang memang sudah menerapakan sistem full day school (FDS) ini. Yang menarik dari kebijakan ini adalah sampai dipolitisir menjadi sesuatu tidak wow menjadi wow sampai ada demo yang ingin membunuh menteri. Hal ini tidak substantif untuk didemo dan diperdebatkan dengan keras dan kasar. Karena ini bisa menjadi bumerang buat pemerintah tata kelola pendidikan yang lebih baik.

Perlu dipahami oleh kita semua bahwa kebijakan full day school tidak semestinya berada di dalam kelas sehari full, tapi proses pembelajaran tetap seperti biasa. Namun yang ditekankan adalah penguatan nilai karakter siswa ketika menyelesaikan jam formal, maka kegiatan eksatrakulikuler diperkuat dengan aktivitas-aktivitas yang bernilai edukatif dan kosntruktif. Pola penguatan nilai karakter pada diri peserta didik adalah dengan terus belajar santai, bermain di Masjid, Gereja, dan Pure untuk memperkuat nilai spritual dan moralitasnya. Seperti dikutip dari Tribun.com mengenai penyataan Meteri Pendidikan dan Kebudayaan adalah “usai belajar setengah hari, hendaknya peserta didik (siswa) tidak langsung pulang ke rumah, tetapi dapat mengikuti kegiatan ekstrakulikuler yang menyenangkan, dan membentuk karakter kepribadian, serta mengembangkan potensi anak didik.” Artinya bahwa kebijakan full day school (FDS) ini tidak harus anak didik berada di kelas dari pagi sampai sore, melainkan anak diberikan ruang berekspresi, berkreasi, dan berimajinasi dengan hal positif yang dapat memperkuat karakter dan kepribadian mereka. Misalnya, pelajar yang muslim datang ke Mushallah latihan mengaji, cermah/pidato, buat puisi begitu juga yang agama lain. Dengan melakukan aktivitas-aktivitas yang memiliki nilai edukatif ini, tentunya peserta didik dapat terhindar dari pengaruh-pengaruh negatif dan juga kegiatan yang sifatnya kontraproduktif seperti penyalahgunaan narkoba, tawuran, miras, seks bebas dan lain sebagainya.

Baca Juga  Sumbawa Tuan Rumah Konferensi Internasional Perubahan Iklim APO

Ternyata kebijakan ini tidak serta merta diterapkan di seluruh sekolah yang ada di nusantara ini, melainkan kebijakan masih diujicoba di 5.300 sekolah bahkan 9.000 sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa sistem ini dianggap baik dan produktif. Full day school seperti yang saya jelaskan di awal bukan barang baru yang diobralkan, tapi suatu sistem atau kebijakan yang sudah lama diterapkan di hampir semua sekolah swasta baik yang bertaraf international/tidak di kota-kota besar. Hal ini menunjukkan bahwa FDS adalah sesuatu yang biasa dan sudah diterapkan. Yang menarik dan menggelitik dari kebijakan ini adalah ternyata belum satu bulan berjalan sistem ini sudah dicabut oleh Bapak Presiden Jokowi atas desakan dari pihak yang merasa akan eksistensinya mungkin hancur dan tidak mendapat apa-apa. Padahal kalau kita membaca dengan seksama, teliti, dan jeli, kebijakan ini sangat bagus dan tidak ada yang diuntungkan maupun dirugikan. Kebijakan ini muncul tentu tidak maunya seorang menteri sendiri tapi atas dasar konsensus bersama baik seorang Presiden dan bawahannya. Kebijakan ini sangat produktif, konstruktif, dan juga positif untuk jadikan pijakan dalam merekonstruksikan peserta didik yang berakhlak mulia dan berkarakter dalam mengarungi kehidupan di tengah geliat modernisasi, globalisasi yang menggerus nilai kemanusiaan, kejatidirian. Full day school (FDS) ini dapat membentuk ahlak dan aqidah dalam menanamkan nilai-nilai positif serta memberikan pondasi yang kuat dalam belajar di semua aspek kehidupannya. (*)

 

iklan bapenda