“Aku Bercerita Tentang Negeriku di Bulan Agustus”

oleh -3 views
Heri Kurniawansyah HS
bankntb

Oleh : Heri Kurniawansyah HS (Fisip UNSA & Penerima Beasiswa LPDP RI Magister Departemen Kebijakan Publik Fisipol UGM )

SUMBAWA BESAR, SR (15/08/2017)

amdal

Ketika aku mendengar kata “Agustus”, pikiranku dan bahkan kita semua tentu akan tertuju pada hari jadi negeri ini. Hari ulang tahun biasanya selalu dimaknai bahwa harapan-harapan yang belum terkabulkan agar dapat terwujud di masa-masa yang akan datang. Namun pemaknaan harapan-harapan tersebut sejatinya harus direfleksikan tidak hanya di hari jadinya, melainkan di setiap harinya bahwa harus ada ikhtiar dalam merubah kehidupan kearah yang lebih baik, begitu juga dengan hari jadi bangsa ini, sejatinya refleksi bangsa ini tidak hanya terjadi di bulan agustus semata, namun refleksi tersebut harus tercipta dari hari ke hari secara bersama-sama membangun bangsa demi meredam “demistifikasi” yang selama ini selalu melekat di bangsa tua ini. Namun budayanya bahwa refleksi bangsa di Bulan Agustus memang jauh lebih masif dan lebih mapan dalam memaknai harapan-harapan bangsa yang belum terwujud. Kini usia 72 tahun telah menghampiri negeri ini. Usia yang sudah matang untuk mendewasakan diri. Sistem demi sistem, era demi era, pemimpin demi pemimpin bahkan penjajahan demi penjajahan telah dilewatinya, sehingga patutlah negeri ini disebut sebagai negeri yang telah ditempa dengan berbagai pengalaman yang sangat luar biasa. Jika negeriku adalah seorang manusia, maka dia pasti adalah orang yang paling hebat di dunia ini. Namun inilah negeriku yang begitu rumit dan kompleks dengan ragam permasalahan-permasalahan dapurnya.

Kini “Agustus” telah datang menyapa negeriku. Tiba saatnya mempersiapkan berbagai ceremonial untuk menyambut hari kelahirannya, hati ini sangat bahagia dengan kegiatan-kegiatan ceremonial menjelang ulang tahunnya. Euforia penyambutannya sangat terasa di penjuru nusantara, baik di kota, di pedesaan, maupun di pelosok negeri. Bendera merah putih berkibar di setiap rumah, kemudian kota dan desa terhias oleh pernak pernik merah putih dan umbul-umbul. Kegiatan-kegiatan perlombaan selalu meramaikan suasana ulang tahunnya. Euforia masyarakat menyambut hari lahirnya seakan melupakan sejuta permasalahan pelik bangsa ini. Bahagia masyarakat menyambutnya seakan memberikan warna dan semangat baru bagi negeriku. Sejuta harapan dititipkan di setiap memperingati hari lahirnya, karena moment hari jadi adalah moment untuk mengevaluasi diri dari setiap permasalahan yang ada. Membaca buku sejarah dan mendengar cerita para guru dan orang tua kita tentang perjuangan para pendahulu bangsa, betapa konsisten dan teguh pendiriannya demi menjaga harga diri bangsa sehingga kita semua bisa menikmati hidup dengan ragam kebebasan saat ini. Atas perjuangan tersebut tentu konsekuensinya harus terbayar dengan menggapai harapan apa yang menjadi cita-cita para pendahulu kita. Ternyata sampai saat ini harapan mereka masih terasa hampa bahkan tidak tentu arah.

Baca Juga  Mahasiswa KKN UTS Sulap Daun Kelor Jadi Teh dan Masker

Setelah saya memperhatikan, ternyata kebahagiaan dan euforia rakyat menyambut hari jadi negeri ini hanya berlangsung ketika Bulan Agustus saja. Semangat tersebut tidak berboncengan lagi dengan jiwa para penguasa setelah ceremonial Agustus-an. Menyambut hari jadi negeriku begitu semarak, namun ketika saya menoleh ke belakang dan ke samping, ternyata pelik permasalahan negeriku melampaui batas kewajaran. Saya berpikir, setelah merdeka kita akan hidup nyaman dan damai, namun yang terjadi justru kita terjajah oleh bangsa sendiri, bahkan penjajahan melebihi ganasnya penjajahan jaman pendahulu kita. Dahulu kita telah terjajah secara fisik, namun saat ini kita telah terjajah dengan beragam cara, dan bahkan dilakukan oleh orang-orang yang menganggap dirinya negarawan. Para pendahulu kita lebih memilih menahan lapar berhari-hari daripada berkompromi dengan penjajah, namun mental kita saat ini sudah menjadi seperti penjajah. Saya mengambil remot TV, kemudian menyetel TV yang tua itu, seketika saya langsung dihadapkan dengan kabar miring negeriku. Tiada hari tanpa korupsi, tiada hari tanpa bencana, tiada hari tanpa berita yang membuat hati ini shok. Hatiku semakin miris ketika para koruptor tersenyum lebar tanpa dosa di depan kamera TV. Inilah “kabar kabari” negeriku. Namun saya sedikit bisa tersenyum ketika saya memindahkan channel TV, karena disana ada Sule, Andre, Narji, Aceng, Idoy, Dadang, Akum, dan kawan–kawan yang menghiburku dan membuatku tersenyum. Untung ada mereka”.

Generasi bangsa kini telah terkoptasi modernisasi liberal sehingga kultur barat selalu dijadikan trend dalam berperilaku. “Mereka” dengan bangga mempertontonkan diri sebagai generasi modern tanpa identitas. Generasi adalah keniscayaan penyambung pembangunan, namun betapa miris ketika generasi akan bermental liberal bagi bangsa demokratis seperti bangsa ini. Setiap Hari Senin mereka selalu menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, hormat kepada “merah putih” dan “mengheningkan cipta” mengenang para pahlawan, namun kegiatan tersebut hanyalah rutinitas ceremonial yang maknanya tidak terbawa dalam kehidupan sosialnya. Sepertinya kultur barat menjadi “primadona” di kalangan generasi saat ini. Contohnya begitu beragam di depan mata kita, bagaimana mereka berbicara, bergaul dan bertindak. Namun harapan untuk kembali ke marwah bangsa tentu masih ada, tinggal bagaimana caranya mendesain ulang esensi sistem bangsa ini, termasuk sistem pendidikan dan sistem-sistem lainnya.

Baca Juga  Jeff: Jangan Lagi Ada Partai yang Diobok-obok Pemerintah

Perjuangan para “veteran” kita sungguh luar biasa, sehingga kita bisa mengenal dengan angka dan kata “17 Agustus” yang merupakan tonggak sejarah bahwa Indonesia akan berlari menuju kebebasannya dari penjajahan dan menuju kemenangan serta pembangunannya. Namun jika “mereka” menyaksikan sembrautnya negeri ini, mungkin mereka akan menangis betapa kita tidak menghargai perjuangan tumpah darah mereka. Saat ini kita hidup dengan serba modern, serba mudah dan pragmatis, namun kita menyisihkan apa yang menjadi cita-cita mereka. Sejuta problematika bangsa adalah bukti sembrautnya praktik idealis bangsa. Kita dipertontonkan oleh skenario-skenario konspirasi untuk perut pribadi. Di depan mata rakyat secara terang-terangan tanpa malu mempertontonkan perilaku penjajah. Ironisnya orang-orang seperti itu terkadang menjadi primadona, semakin berbuat salah semakin terkenal, yang berprestasi justru tanpa nama. Inilah rumpun peliknya permasalahan bangsa tua ini.

Ada harapan dan semangat baru ketika kita mendekati tanggal 17 Agustus, rakyat menyambutnya dengan gegap gempita seakan ada makna dan ingin mengatakan “wahai para pahlawanku, tersenyumlah”. Makna tersebut seakan memuncak ketika “sang merah putih”, berkibar di tiangnya. Makna tersebut pun akan memuncak ketika para generasi berprestasi, dan makna tersebut juga akan memuncak ketika para penguasa menyingsingkan lengan bajunya untuk membangun negeri ini. “Mereka” pasti akan tersenyum ketika para penguasa takut dengan dosa. Namun yang terjadi, kita ternyata masih membuat “mereka” menangis. Saya masih optimis bahwa negeriku akan berdikari seraya mengatakan “Akulah Indonesia yang akan menaklukkan dunia ini”. Maka bawalah makna “hari kemerdekaan” ini dalam jiwa raga kita untuk membangun bangsa ini. Asa dan harapan tentu masih luas, jangan jadikan moment hari jadi bangsa ini sebagai moment “berkhutbah” saja, namun manifestasi “perjuangan” harus terejawantahkan terutama kepada penguasa dan generasi bangsa. “Saya optimis”.

Dirgahayu Negeriku ! (*)

iklan bapenda