Kemerdekaan; Antara Kemasygulan dan Kebahagiaan (Refleksi Harlah 72 Tahun Indonesia)

oleh -1 views
Ubaidullah
bankntb

Oleh : UBAIDULLAH (Ketua I Pemuda Muhammadiyah Sumbawa)

SUMBAWA BESAR, SR (13/08/2017)

amdal

“Negara merdeka adalah negara yang kuat, berdaulat, mandiri, dan disegani oleh negara lain. Negara merdeka adalah yang rakyatnya memilki kebebasan, kesejahteraan, kebahagiaan, dan kemandirian bukan dirundung duka kesedihan dan nestapa ketertinggalan”

Tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia memproklamirkan kemerdekaannnya. Hari kemerdekaan ini memiliki nilai historis dan filosofis yang sangat dalam untuk bisa dipahami oleh setiap warga negara. Nilai (value) historis ini adalah nilai sejarah yang tentunya menjadi edukasi bagi setiap warga negara agar mampu memahami bagaimana sejarah para pejuang kemerdekaan membebaskan negara dari belenggu imperialisme dengan semangat patriotik dan nyawa sekalipun taruhannya. Sejarah ini harus terus kita hujamkan dalam dada dan hati kita rakyat dan generasi muda bangsa, agar terus menerus mengekskavasi sejarah kemerdekaan bangsa untuk kemudian kita jaga, rawat dan mempertahankannya dengan baik.

Hari kemerdekaan yang kita rayakan setiap tahun itu, tidak hanya menjadi sebuah acara yang bersifat seremonik dan atraktif belaka, namun lebih dari itu esensi dari kemerdekaan itu harus lebih kita dalami dan aplikasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Selaras dengan pembukaan UUD 1945 alinea ke 1 dan 2 “bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Dan perjuangan pergerakan Indonesia telah sampailah pada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa menghantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur”.

Baca Juga  Dr Zul: Lulusan SMK AL-KAHFI Harus Bisa Terbang Tinggi

Esensi substantib dari kemerdekaan itu sesuai dengan pembukaan UUD 1945 seperti yang tertera di atas bahwa kemerdekaan adalah hak prerogatif setiap bangsa di dunia ini. Sehingga setiap penjajahan baik yang terjadi dalam skup internal (suatu negara) maupun eksternal (oleh negara lain) harus ditumpas, dihapuskan karena semua itu tidak sesuai dengan rasa kemanusiaan dan keadilan yang merupakan hak setiap orang. Dengan kemerdekaan itu pula Bangsa Inodonesia telah sampai klimaks yaitu kebahagiaan. Dengan kebahagiaan yang dicapai oleh bangsa ini, secara otomatis akan menicptakan dan menghantarkan bangsa ini, agar tercapainya masyarakat Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Memaknai kemerdekaan tidak hanya dengan menampilkan dan melaksanakan aktivitas-aktivitas yang hanya bersifat atraktif seremonik tanpa nilai edukatif yang substantif, tapi lebih dari aktivitas dalam memeriahkan hari lahirnya bangsa harus dilakukan dengan melihat seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara ini. Nampaknya, kita harus lebih melek membuka hati dan pikiran bahwa masih banyak home work pemerintah untuk mewujudkan tujuan pembukaan UUD 1945 ini. Pemerintah harus mampu memberikan public service yang baik kepada rakyat dan bangsa, sesuai dengan amanah konstitusi yaitu UUD 1945. Amanah konstitusi ini akan nampak terlihat manakala pemerintah lewat segala kebijakan yang ditelorkan harus berpihak kepada kepentingan rakyat dan bangsa. Itulah makna yang harus dipahami oleh kita semua terhadap kemerdekaan ini.

Penulis ingin mengajak pembaca semua menengok kembali kondisi Bangsa Indonesia hari ini, dimana kondisi sosial, ekonomi, politik, hukum dan kemananan yang terbilang tidak bersahabat. Bukti empirik dari semua itu adalah utang negara sampai hari ini mencapai USD 320,28 atau setara 4.274 T seperti yang dilansir oleh Bank Indonesia mengenai posisi utang luar negeri per Januari 2017 (merdeka. Com tanggal 20 Maret 2017). Artinya bahwa masing-masing rakyat Indonesia menanggung utang 15 juta per kepala (Menkeu). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Maret 2017 jumlah penduduk miskin, yakni penduduk dengan pengeluaran perkapita perbulan di bawah garis kemiskinan mencapai  27, 77 juta orang (10,64 persen jumlah total penduduk), dikutip dari tempo.com. Angka kemiskinan semakin tumbuh, kesenjangan sosial terus meningkat, hukum yang terus terlihat tumpul ke atas tajam ke bawah. Iklim politik naisonal semakin rapuh, nilai-nilai  demokrasi semakin dihancurkan dengan gaya kepemimpinan yang pura-pura.

Baca Juga  Wujudkan Pemilu PANDAI, KPU Minta Media Massa Netral dan Informatif

Data-data di atas cukup membuat kita cemas dan khawatir bahwa negara dalam keadaan sakit parah. Tentunya, dengan bertambahnya umur bangsa ini menjadi 72 tahun yang cukup tua tidak hanya terus mempelihatkan nuansa kemasygulan terhadap rakyat. Kemerdekaan itu adalah kebebasan, kebahagiaan, kenyamanan, dan kesejahteraan yang harus diberikan negara lewat pemeimpin kepada rakyatnya. Kemasygulan bagi rakyat tidak harus terus melandanya, tetapi negara (pemimpin) harus bertanggungjawab menghilangkan ketertinggalan, kebelengguan, kemiskinan, kebodohan, ketimpangan sosial yang melanda rakyat dan bangsa hari ini. Tentunya kita berharap bangsa Indonesia yang genap berumur 72 tahun ini, harus mampu menjadi bangsa yang maju, berdaulat, sejahtera dan tentunya menjadi bangsa yang baldatun tooyibatun warabbun gofur. (*)

iklan bapenda