Kades Poto Minta Maaf dan Mengaku Sudah Menikah Siri

oleh -6 views
Kades Poto Kecamatan Moyo Hilir, Hamzah
bankntb

Hamzah: Kami Sudah Damai dan Laporan Polisi Dicabut

SUMBAWA BESAR, SR (09/08/2017)

amdal

Situasi keamanan di Desa Poto Kecamatan Moyo Hilir sempat terganggu. Hal ini menyusul aksi massa pasca kasus asusila yang menjerat oknum kepala desanya. Massa sempat menyerang kades, dan merusak kantor desa. Terhadap kondisi tersebut Kades Poto, Hamzah perlu memberikan klarifikasi.

Kepada SAMAWAREA, Rabu (9/8) sore, Kades Hamzah menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Sumbawa khususnya warga Desa Poto. Sesungguhnya apa yang dilakukannya adalah sebuah kekeliruan. Namun demikian Hamzah menyatakan bahwa antara dirinya dan NI—wanita yang tertangkap bersamanya, adalah isterinya melalui pernikahan siri. Pernikahan siri tersebut dilakukan 32 hari setelah menerima putusan sidang dan telah habis masa iddahnya tepatnya, 24 Juli 2017 lalu. Selama ini dirinya belum berani mengungkapkan lantaran belum memberitahukan mengenai pernikahan siri itu kepada istri sahnya. Sehingga dia sengaja membawa NI ke salah satu hotel. Dengan adanya kasus ini, akhirnya semua menjadi jelas dan istrinya sudah mengetahuinya. “Jadi secara agama, NI adalah istri sah saya. Jadi secara agama juga saya tidak melakukan perzinahan sebagaimana yang dituduhkan selama ini. Saya berani terus terang menikah siri karena saya sudah menceritakan masalah ini kepada istri saya,” ujarnya.

Selain itu Hamzah mengaku sudah berdamai dengan mantan suami NI. Perdamaian itu dilakukan di kantor Camat Moyo Hilir yang dihadiri camat setempat, NI, pihak keluarga mantan suami NI, dan disaksikan aparat kepolisian, Senin (5/8) sekitar pukul 13.00 Wita. Dari kesepakatan damai ini, disusul dengan pencabulan laporan polisi di Polres Sumbawa. “Semua sudah clear, dan tidak ada lagi persoalan antara saya dan mantan suami dari NI,” akunya.

Baca Juga  Merampok, Remaja Putus Sekolah Ditangkap Polisi

Di bagian lain, Hamzah menyinggung alasan dia masuk kantor sebelum aksi massa itu terjadi. Ini dilakukan karena desakan masyarakat yang mendukungnya agar dia bekerja seperti biasa. Selain itu dia masuk kantor bermaksud untuk memberikan klarifikasi beberapa isu miring mengenai dirinya kepada stafnya dan masyarakat lainnya. Namun belum sempat maksud itu terlaksana, seklompok massa datang melakukan penyerangan dan pengrusakan kantor desa sambil membawa senjata tajam. Bahkan beberapa di antaranya nyaris menebasnya, beruntung berhasil menyelamatkan diri di dalam ruang kerjanya dengan cara menguncinya dari dalam. “Untung saja polisi datang mengamankan dan melindungi saya,” imbuhnya.

Terkait dengan penyerangan tersebut, Hamzah menduga ada yang menggerakkan dan memprovokasi dengan menunggangi kasus tersebut. Karena itu ia berharap polisi dapat mengusutnya secara tuntas dan mencari aktor intelektual pengrusakan kantor desa yang merupakan aset negara yang wajib dijaga. “Sekali lagi saya menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Poto, Kapolsek, Danramil, dan Camat, karena tidak menginformasikan sebelumnya mengenai keinginan untuk masuk kantor saat itu,” ucapnya.

Disinggung desakan sekelompok masyarakat yang mendorong BPD untuk memberhentikannya sehubungan dengan kasus asusila yang menimpanya ? Hamzah menyatakan siap jika kasus itu dianggap melanggar aturan dan perundang-undangan yang berlaku. “Saya siap menerima putusan itu asalkan tidak bertentangan dengan undang-undang dan aturan yang berlaku. Begitu pula sebaliknya dengan masa jabatannya sekitar 2 tahun 2 bulan, jika diperbolehkan oleh masyarakat yang mendukungnya, saya juga siap menjalankan tugas dan mengemban amanah ini,” pungkasnya. (JEN/SR)

iklan bapenda