Semarak Nimung Rame Warnai Festival Samba di Plampang

oleh -21 views
Nimung Rame
bankntb

SUMBAWA BESAR, SR (06/08/2017)

Nimung Rame yang menjadi adat budaya Tau Samawa sejak dahulu menjadi ikon dalam Festival Samba yang digelar di Kecamatan Plampang, Minggu (6/8) tadi. Kegiatan yang mengusung tema Samawa Malanti Budaya ini dibanjiri ribuan warga bukan hanya dari Kecamatan Plampang namun juga kecamatan lain di Kabupaten Sumbawa. Kegiatannya sangat semarak dan sukses.

Kepala Desa Sepakat, Juhardin S selaku Ketua Nimung Rame kepada SAMAWAREA mengatakan, bahwa Nimung Rame ini sengaja dimasukkan dalam rangkaian Festival Samba. Hal ini dimaksudkan agar adat dan budaya nenek moyang Tau Samawa tetap lestari dan terus dilaksanakan. “Nimung rame ini biasanya dilaksanakan nenek moyang kita usai panen padi. Ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta Alam, di samping mempererat silaturahim,” jelasnya.

Kades Sepakat, Juhardin dan Anggota DPRD NTB, Baijuri Bulkiah SH

Dalam acara ini juga mengajarkan kebersamaan dan kegotong-royongan. Masing-masing warga membawa beras ketan dan kelapa serta kelengkapan lainnya. Tercatat 254 kilogram ketan terkumpul yang kemudian dijadikan ‘nimung’ (nasi bambu) sebanyak 1.274 buah.

Sementara Anggota DPRD Propinsi NTB, Baijuri Bulkiah SH yang sempat hadir mengaku bangga sebagai Tau Samawa dengan digelarnya festival tersebut. Ini bisa sukses tidak terlepas dari inisiatif pemuda kreatif dan seni yang tergabung dalam Sanggar Seni Batu Tongkok Plampang. Karena itu kegiatan akbar seperti ini patut didukung dalam upaya pelestarianan adat istiadat Samawa yang nyaris punah. “Alhamdulillah anak-anak muda kita tak ingin melupakan sejarah dan adat istiadatnya. Mereka dengan penuh semangat  mempertahankan dan melestarikan adat budaya yang memiliki nilai yang sangat tinggi ini,” ucapnya, seraya berharap ke depan semua sekolah diwajibkan ikut serta membangun budaya Samawa peninggalan leluhur, mengingat era globalisasi saat ini budaya daerah hampir terkikis.

Baca Juga  Masyarakat Telaga Keluhkan Saluran Irigasi Tergenang

Secara terpisah, Iqbal Sanggo selaku pelaku seni menyatakan salut dan angkat jempol kepada Komunitas Sanggar Seni Batu Tongkok Plampang, yang sukses menggelar acara akbar tersebut. Sebab proses pengerjaannya merupakan hasil swadaya dan gotong-royong masyarakat. “Sampai tahun ini Festival Samba sudah berhasil diselenggarakan oleh teman-teman muda Plampang kedelapan kalinya. Bagi saya ini sebuah prestasi dan dedikasi yang berhasil dibuktikan oleh teman-teman muda Plampang, meskipun memang harus terus dikembangkan baik dari materi sampai pengelolaan festival agar terus lebih baik,” ujarnya.

Menurut Iqbal, soliditas dan konsistensi di tengah tantangan dan hambatan membangun kesadaran dan perhatian banyak pihak adalah sesuatu yang mesti terus dirawat oleh Sanggar Seni Batutongkok Plampang. Festival Samba ini sebagai sarana mengabarkan kepada semua pihak bahwa spiritnya adalah ingin “membumikan” kebudayaan Samawa. Tidak berlebihan jika Festival Samba adalah festival dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. “Efek Festival Samba bagi masyarakat Plampang khususnya, sangat positif dan memberikan kebermanfaatan bagi proses lestarinya kebudayaan dan terjaganya kebersamaan. Alhamdulillah kami bersyukur di beberapa kecamatan di Sumbawa memiliki geliat yang sama dalam berfestival dan sudah mulai menunjukan keseriusannya,” pungkasnya. (BUR/SR)

iklan bapenda