OPINI: Mengenal Lebih Dekat Perempuan Sumbawa pada Masa Dulu

oleh -41 views
Cindy Suci Ananda
bankntb

Oleh: Cindy Suci Ananda, Mahasiswa Program Studi Teknobiologi Fakultas Teknobiologi, Universitas Teknologi Sumbawa (UTS)

SUMBAWA BESAR, SR (06/08/2017)

amdal

Melalui tulisan ini saya mengajak para pembaca untuk kembali ke masa berpuluh-puluh tahun silam. Tujuannya untuk mengenal sejarah wanita-wanita hebat Sumbawa pada masa kerajaan. Mengenal bagaimana mereka berperilaku, bagaimana mereka dihormati dan bagaimana mereka di tengah masyarakat, serta bagaimana perempuan-perempuan Sumbawa terlibat dalam membangun Tau dan Tana Samawa ini. Sumbawa memang tidak memiliki pahlawan wanita, tapi tidak berarti bahwa perempuan Sumbawa pada masa dulu hanya duduk berpangku tangan. Meski demikian, Masa kerajaan Sumbawa juga pernah dipimpin oleh dua sultanah (sultan wanita), yaitu Sultanah I Masugi Ratu Karaeng Bonto Parang dan Sultanah Siti Aisyah.

Menurut penuturan Bapak Aries Zulkarnain–salah satu tokoh adat masyarakat Sumbawa, secara keseluruhan perempuan Sumbawa pada masa kerajaan memang lebih banyak berdiam di rumah dan mengurus rumah tangga. Meski tidak ikut serta dalam kegiatan rapat, namun dalam setiap pengambilan keputusan, suara dan pendapat wanita Sumbawa selalu dipertimbangkan. Laki-laki pada masa itu tidak pernah mengambil keputusan sendiri. Semua keputusan tetap meminta pertimbangan perempuan. Hal tersebut bahkan masih berlangsung hingga sekarang. Contohnya ketika acara Basaputis, suara kaum perempuan adalah suara yang didengarkan secara dominan, dengan ciri khas pertanyaan adalah “Me luk pang tau sawai ?” maksudnya ingin meminta pendapat dan petimbangan dari kaum perempuan.

Baca Juga  DPR RI Ingatkan Parlemen Negara OKI Resiko Normalisasi dengan Israel

Perempuan Sumbawa, mereka sangat dihormati. Mereka tidak ikut berperang, untuk menjaga keturunan sebagai generasi penerus Sumbawa saat ini. Perempuan Sumbawa pada masa itu, mereka sangat dilindungi bahkan sampai banyak yang tidak merasakan dunia pendidikan. Tidak ada sekolah seperti pada masa ini, tidak ada mata pelajaran umum seperti yang kita dapatkan sekarang. Hanya ada satu jenis sekolah, yaitu sekolah milik pemerintah Belanda. Perempuan-perempuan Sumbawa tidak diizinkan untuk masuk sekolah milik Belanda.

Mengapa ? Alasannya sederhana, karena wanita sangat spesial dan mereka sangat dilindungi. Pada zaman tersebut hanya ada sekolah milik Belanda, sehingga seragamnya pun sesuai dengan budaya mereka, yaitu mengenakan dasi. Seragam tersebut tidak sesuai dengan pakaian yang dikenakan perempuan pada zaman tersebut yang tertutup. Ada alasan sendiri mengapa demikian, intinya perempuan-perempuan Sumbawa pada masa kerajaan sangat dilindungi. Meski demikian, pendidikan hanya dirasakan pada strata tertentu saja.

Adapun model pakaian yang digunakan oleh perempuan pada zaman tersebut disebut dengan istilah batedung tuntang atau bakere dua. Pakaian yang dikenakan sangat sopan, menggunakan kain dan baju kebaya panjang, kemudian mengenakan satu kain lagi sebagai penutup kepala (batedung). Seperti disebutkan di dalam buku “Kepemimpinan dalam Rapang Adat Tanaq Samawa” yang ditulis oleh Bapak Aries Zulkarnain, model pakaian masyarakat Sumbawa yang tidak mengikuti gaya berpakaian dan hidup Belanda merupakan salah satu bentuk pertahanan budaya Tau Samawa dan berlangsung sangat lama. Gerakan itu disebut dengan istilah gerakan anti “cepeo dan tali korok”.

Meski tidak bersekolah pengembangan kualitas diri dan mendidik generasi diajarkan dengan tetap berpedoman pada Al-Qur’an. Keterampilan seperti mengaji diajarkan kepada anak-anak, kemudian belajar hidup dan kehidupan sesuai dengan alam. Perempuan pun secara tidak langsung dituntut untuk dapat menjaga diri sendiri dengan sikap, seperti tidak berlebihan, tidak bersolek jika berada di luar rumah, dan mesti berpakaian sopan, yakni selalu batedung. Sikap seperti itu menunjukkan betapa kentalnya nuansa keislaman pada masyarakat Sumbawa sejak dulu. Betapa kuat pengaruh perempuan, menjadikan mereka sangat spesial, dilindungi dan dihormati dan telah melahirkan dan mendidik pemimpin-pemimpin dan generasi hebat yang dimiliki Tau dan Tana Samawa sejak dulu, saat ini hingga pemimpin Sumbawa di masa depan. (*)

Baca Juga  Profesor Universitas Canbera Australia Temui Wabup Sumbawa

 

iklan bapenda