Rastra Berbutir Kuning Distribusi Bulog Ditolak Warga Lantung

oleh -15 views
bankntb

SUMBAWA BESAR, SR (03/08/2017)

Sekitar 1.800 kilogram beras sejahtera (Rastra) yang didistribusikan Bulog Subdivre Sumbawa ditolak warga Desa Padesa Kecamatan Lantung Kabupaten Sumbawa, Selasa (1/8) kemarin. Pasalnya beras untuk masyarakat miskin ini berbutir kuning. Hal ini diketahui setelah perangkat desa setempat melakukan pemeriksaan. Saat itu juga Camat Lantung meminta agar Rastra itu dikembalikan dan diganti yang baru.

Abdul Rauf—tokoh masyarakat Lantung, menyayangkan adanya beras yang dinilai tidak layak konsumsi itu kepada masyarakat. Harusnya Bulog melakukan seleksi beras sebelum didistribusikan agar yang diterima masyarakat berkualitas. “Jangan karena masyarakat kami tidak mampu lantas diberikan beras dengan kualitas yang tidak layak konsumsi,” sesalnya.

Kepala Bulog Subdrive Sumbawa, Lalu Tawang yang didampingi Kasi Pelayanan Publik, Syamsuddin kepada SAMAWAREA, Rabu (2/8) mengatakan persoalan itu langsung bisa diselesaikan saat itu juga dengan cara ditukar dengan Rastra yang lain. Distribusi Rastra di Desa Padesa Kecamatan Lantung sebanyak 1.800 kilogram untuk jatah dua bulan. Namun di dalam truk rastra yang dibawa Bulog mencapai 10 ton. Ketika Rastra itu ditolak, saat itu juga warga di sana menggantinya dengan yang lain. “Jadi tidak lebih dari 24 jam, beras itu langsung ditukar, dan dipilih oleh perangkat desa,” jelasnya.

Diakui Lalu Tawang, dalam rastra itu ada butiran berwarna kuning. Padahal beras butiran kuning itu layak dikonsumsi. Hanya persepsi masyarakat yang menilai beras tersebut tidak layak konsumsi. Keberadaan beras butiran kuning itu tidak banyak dan itupun berdasarkan aturan yang berlaku. Dalam aturan penerimaan dalam 100 kilogram beras terdapat tiga persen beras seperti itu. Artinya butiran kuning tersebut tidak banyak sesuai dengan standar beras medium. Butiran kuning ini bisa ada kemungkinan karena kurangnya penanganan di tingkat petani sehingga kadar ai beras tersebut mencapai 17 persen. Karena itu ia berharap kepada penyuluh pertanian kedepannya bisa menerapkan sistem mekanisasi dalam pertanian. Petani juga harus segera menjual hasil panennya dan tidak disimpan terlalu lama karena bisa menyebabkan kekuningan. ‘’Yang jelas butiran kuning itu bukan beras busuk. Ini terjadi akibat perlakuan pasca panen,” ujarnya.

Baca Juga  JPS Gemilang Terus Terdistribusi, Giliran 76 KK di Desa Berare

Namun demikian ke depan Bulog akan berupaya agar tidak ada lagi beras berbutiran kuning tersebut. Tentunya ada alat untuk menyortir beras yakni colour sortir. Dengan alat itu beras berwarna kuning akan tersortir dengan sendirinya. Sejauh ini NTB belum memiliki alat tersebut, hanya beberapa penggilingan di Pulau Jawa.

Disinggung mengenai proses pembelian beras oleh Bulog, Lalu Tawang mengaku berasal dari Mitra Bulog. Bulog tidak bisa langsung membeli beras langsung ke petani karena cara ini bisa dianggap monopoli. Setiap beras dari mitra Bulog yang masuk ke gudang Bulog akan disortir. Jika memenuhi syarat sesuai aturan, maka akan diterima. Namun jika tidak akan dikembalikan kepada mitra untuk diolah kembali. (JEN/SR)

iklan bapenda