OPINI: Serba Serbi Luluran Pernikahan Adat Sumbawa yang Turun Temurun

oleh -102 views
SAHMINI
bankntb

Oleh : Sahmini (Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program study Pendidikan Ekonomi Semester VII Universitas Samawa)

SUMBAWA BESAR, SR (26/07/2017)

amdal

Barodak berasal dari kata Odak yang artinya luluran. Sering juga disebut Barodak Rapancar, karena selain luluran, juga dilakukan proses memerahkan kuku tangan dengan daun pancar. Intinya, ini proses untuk mempercantik diri bagi calon pengantin. Makna yang lebih dalam adalah untuk penyucian diri bagi calon pengantin dalam memasuki kehidupan rumah tangga. Tradisi ini merupakan salah satu prosesi perkawinan maupun khitan yang ada dalam  masyarakat Sumbawa.

Tradisi Barodak/Rapancar ini biasanya dilakukan setelah didahului berbagai prosesi perkawinan lainnya seperti Bajajak (menjajaki), Bakatoan (melamar), Basa putis (menetapkan hari pelaksanaan acara), dan Nyorong (pengantaran barang kepada mempelai wanita). Kemudian setelah Barodak Rapancar, dilanjutkan dengan acara Nikah (menikah), Rame Mesa (Meramaikan di tempat acara) dan Tokal Basai (resepsi). Rangkaian tahapan ini, hampir utuh dijalani oleh masyarakat Kabupaten Sumbawa sejak berpuluh tahun lamanya. Namun akhir-akhir ini juga sering kita menjumpai bahwa acara Barodak disatukan dengan kegiatan Nyorong.

Dimana ketika keluarga mempelai pria tiba dengan semua barang bawaannya, keluarga pihak mempelai wanita sudah mempersiapkan acara barodak lengkap dengan acara Ratib dan Gong Genang ikut mengiringi jalannya ritual hingga selesai. Setelah saling berbalas lawas, akhirnya pintu dibukakan yang ditandai dengan pengguntingan pita. Kemudian seserahan diserahkan dan dimulailah acara inti Barodak yang disaksikan para kaum wanita.

Kegiatan ritual barodak ini, bagi masyarakat Sumbawa memiliki makna tersendiri. Setiap perlengkapan odak, yaitu bedak tradisional Sumbawa yang terdiri dari beberapa jenis bunga serta bahan lainnya yang diramu menjadi satu oleh Ina’ odak. Di sebagian daerah sumbawa terdapat juga jenis makanan tertentu yang nantinya diberikan kepada mempelai, misalnya ketan yang telah masak (merah, putih, hitam, kuning) telur masak, jajanan khas dari daun (tikal), kesemuanya itu menurut warga Sumbawa melambangkan keikhlasan kesatuan hati dan tekad.

Pada proses Barodak Rapancar ini, Ina odak terlebih dahulu menyalakan lilin di atas kelapa yang lengkap dengan batoknya yang nantinya dikelilingi kepada dua mempelai sambil  memanjatkan doa kepada Tuhan yang Maha Esa. Ketika hendak dimulai upacara adat barodak, dila malam pun dinyalakan (lilin khas sumbawa). Dila malam adalah simbol dari harapan adanya cahaya terang yang akan menyinari perjalanan perkawinan pengantin ini, termasuk juga menghindari niat jahat terhadap pengantin. Dila malam itu dipasang di atas kelapa sebagai kelengkapan dalam prosesi barodak. Ada pula pegu berisi beras kuning. Selain itu, di arena barodak juga dihiasi dengan kembang hias bermacam-macam yang ditempelkan di batang pohon pisang kecil. Batang pisang kecil yang dipakai adalah pisang yang baru memiliki lima atau enam daun. Dahannya disisakan tiga daun yang dipakai. Pohon pisang yang
dihias kembang-kembang ini ditanam di dalam pegu berisi beras. Ini juga merupakan simbol kesetiaan seperti halnya pada acara akad nikah,  Ina odak lalu menyuruh calon mempelai wanita untuk memasukan cincin khusus dari Ina odak ke mulutnya.

Baca Juga  Persiapan Prakerin, 132 Siswa SMKN 1 Plampang Dibekali

Selama proses barodak ini berlangsung, para orang tua ini akan memberikan nasihat-nasihat perkawinan kepada calon pengantin. Ina Odak akan mendampingi pengantin selama barodak dan ikut memberikan nasihat. Setelah para orang tua yang mengusap lulur pada pengantin, giliran terakhir adalah ina’ odak. Sebelum mengusap lulur, ina odak akan memercikkan air boreh yang dibuat dari kembang tiga rupa yakni, kamboja, melati dan bunga eja. Setelah itu, dila (lampu) akan diputar melingkari kepala hingga wajah pengantin atau calon pengantin. Ritual ini sebagai simbol menolak hal-hal yang membahayakan bagi pengantin selama menjalankan kehidupan yang baru. Setelah selesai, dila malam ditiupkan di depan wajah pengantin atau calon pengantin, lalu asapnya diambil dan ditempelkan pada kepala pengantin atau calon pengantin.

Kemudian, ina odak meluluri calon mempelai wanita, dimulai dari wajah hingga leher, dilanjutkan ke kedua lengan calon mempelai. Begitu pula terhadap calon mempelai pria. Selanjutnya, ina odak akan menempelkan gilingan daun pancar ke jari kedua calon mempelai. Setelah selesai, para tamu yang semuanya kaum ibu melanjutkan apa yang dilakukan oleh ina odak terhadap kedua calon mempelai. Satu per satu para ibu yang sudah dipilih oleh ina’ odak melulur kedua calon mempelai. Ritual ini berakhir setelah ina odak memastikan odak atau bedak yang dilulur ke wajah dan lengan calon kedua mempelai sudah cukup.

Baca Juga  Sambut HAN, Ratusan Pelajar Senam Sehat dan Jalan Santai

Dalam acara barodak tersebut yang berhak menjadi Ina’ odak terkadang setiap daerah berbeda-beda. Bagian timur dari Sumbawa memilih anak gadis yang baru menginjak remaja untuk menjadi ina’ odak dengan anggapan bahwa mempelai wanita dan pria memiliki cahaya yang berseri-seri. Sedangkan untuk bagian Sumbawa Kota yang menjadi ina’ odak adalah orang yang sudah terpercaya dan sudah berpengalaman, tetapi untuk Sumbawa bagian barat yang menjadi inak odak adalah ibu-ibu yang telah dewasa namun yang belum menikah (perawan tua). Namun selain itu di beberapa desa juga menjadikan Ina’ odak berdasarkan keturunannya. Meskipun yang menjadi Ina’ odak di setiap wilayah berbeda namun pada umumnya kegiatan barodak ini sangat melekat dalam acara pernikahan di tanah Sumbawa (Samawa). Dari tradisi yang dimiliki Tana Samawa memiliki keunikan tersendiri dari prosesi luluran yang ada di luar daerah seperti yang tertulis sebelumnya. Keunikan dari tradisi terebut hingga kini masih lestari dan tetap dilakukan dalam acara pernikahan maupun khitan. Tradisi barodak Sumbawa di bagian timur sangat berguna bagi generasi penerus karena keterlibatan generasi muda agar lebih mengetahui tradisi daerahnya meskipun dalam proses meramu bedak lulur dibantu oleh orang tua setempat.

Budaya dan tradisi yang ada di Sumbawa memang sepatutnya dijaga agar tidak memudar atau hilang seiring kemajuan zaman seperti beberapa tradisi dalam acara pernikahan yang kini mulai jarang kita temukan yaitu: Tama kengkam (mempelai tidak diizinkan keluar rumah/dipingit), Pangantan ngindring (mempelai mengelilingi desa), Nuja’ rame (kegiatan masyarakat dalam menumbuk pagi dalam acara pernikahan). Tradisi tersebut hampir jarang sekali kita temui dalam masyarakat Sumbawa saat ini. Jadi pengenalan tradisi tersebut kepada generasi muda sangat penting agar yang menjadi keunikan dan khas daerah kita tidak punah seiring dengan pergantian generasi. (*)

iklan bapenda