OPINI: Melawan Ancaman Ideologi Bangsa Sejak Dini

oleh -14 views
DAVIT KURNIAWAN
bankntb

DAVIT KURNIAWAN: Mahasiswa Semester VI (Enam) Pendidika Ekonomi Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Samawa UNSA

SUMBAWA BESAR, SR (23/07/2017)

amdal

Sebagai warga negara Indonesia yang baik kita telah mengetahui bahwa ideologi negara kita adalah Pancasila. Pembelajaran ini kita dapatkan dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas. Materi ini kita dapatkan dalam pelajaran kewarganegaraan, dimana kita harus mengetahui segala ketentuan-ketentuan yang terdapat di Indonesia. Akan tetapi, ilmu yang kita dapatkan saat di sekolah mengenai Pancasila hanya sedikit, karena kita hanya diberikan gambaran umumnya saja oleh guru, akibatnya kita tidak memahami betul nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

Pancasila berasal dari Bahasa Sanskerta yaitu panca artinya lima sedangkan sila artinya asas, jika diartikan secara harfiah Pancasila adalah lima dasar. Saat ini di Indonesia lagi dihebohkan dengan banyaknya ormas yang anti Pancasila yang membuat pemerintah membubarkan beberapa ormas yang anti terhadap ideologi bangsa ini. Di samping itu, maraknya perselisihan antara suku, adat, ras, dan agama saat ini membuat terpecahnya Bhineka Tunggal Ika di negara kita tercinta ini. Apalagi kasus yang paling menghebohkan, saat pesta demokrasi untuk pemilihan umum gubernur wilayah Jakarta beberapa bulan silam, di mana salah satu calon gurbernur atas nama Basuki Tjahaya Purnama atau yang biasa dipanggil Ahok dituntut oleh salah satu ormas, dengan kasus penistaan Agama Islam. Ahok dituduh salah mengartikan isi surat Al-Maidah ayat 51 di Pulau Pramuka Kepulauan Seribu. Dari peristiwa tersebut Ahok menjadi tersangka dan diganjar hukuman 2 tahun penjara setelah menjalani 22 kali persidangan.

Baca Juga  SMA Negeri 1 Sumbawa Besar Mengucapkan Selamat Idul Fitri 1441 H

Kasus di atas adalah salah satu tragedi yang mengawali perpecahan persatuan Indonesia. Seperti yang kita ketahui bahwa Pancasila adalah ideologi dari negara kita yang mempersatukan antara beragam suku, adat, ras dan agama di Indonesia (Bhineka Tunggal Ika). Sejak kasus Ahok berlangsung banyak masyarakat yang berbeda pendapat dan saling menghujat di media sosial, dimulai dari masalah agama hingga suku bahkan yang lainnya. Menurut saya kurangnya pengetahuan sejak dini tentang arti Pancasila lah yang menyebabkan kurangnya rasa toleransi terhadap sesama Bangsa Indonesia. Maka dari itu penanaman nilai Pancasila harus dimulai sejak dini agar mengurangi atau bahkan tidak mengulangi kejadian yang mampu memecah persatuan Indonesia dari bangsa sendiri.

Hal yang terpenting harus dilakukan dalam menanamkan nilai Pancasila ini dimulai dari usia dini hingga remaja. Usia dini adalah anak yang berusia dari 0-8 tahun. Para ahli mengatakan bahwa masa anak usia dini adalah masa yang fundamental untuk menentukan bagi perkembangan selanjutnya, masa ini juga adalah masa keemasan (golden age), masa peka, inisiatif yang tinggi, berprakarsa dan perkembangan diri. Begitu pentingnya masa ini sehingga dibutuhkan stimulus yang bermakna agar mendapatkan perkembangan yang optimal. Serta masa remaja yang rentan dengan rasa ingin tahu yang keras dan kerap meniru, entah itu baik atau buruk, karena di benak mereka hanya terlintas “ini yang aku suka, maka aku akan lakukan, dan ini yang tidak aku suka, maka aku tidak akan mengikutinya”. Seperti itulah yang ada di dalam pikiran anak remaja. Maka dari itu orang tua dan guru harus memiliki pemahaman yang lebih dari nilai-nilai pancasila itu sendiri agar dapat memberikan yang terbaik kepada anak-anak penerus bangsa ini.

Baca Juga  Pelatihan Berbasis Kompetensi Tahap I 2020 Diikuti 96 Orang

Terbatasnya pemahaman orang tua di rumah terhadap pancasila menjadikan ranah sekolah adalah yang paling bagus untuk menjadikan tempat menanamkan nilai pancasila. Atas pemikiran tersebut, banyak masyarakat yang mendesak agar pancasila dapat dijadikan sebuah mata pelajaran pada kurikulum. Karena banyaknya desakan untuk menjadikan pancasila sebagai salah satu mata pelajaran pemerintah telah membuat strategi agar penanaman dari nilai-nilai pancasila di sekolah dapat direalisasikan. Sebagaimana dikatakan oleh Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila, Yudi Latief “kita hanya membantu supaya Pancasila sebagai bahan ajar, system delivery, metodologinya harus berbobot, menarik dan lebih sesuai dengan perkembangan masyarakat saat ini”. Maka jika ini dapat terealisasikan saya menjamin akan berkurangnya tindakan radikal di Indonesia yang menurunkan nilai dari ideologi negara (Pancasila).

Guru seharusnya mampu lebih sigap untuk hal ini, karena guru adalah panutan dari setiap muridnya, guru seringkali ditiru. Oleh karena itu tugas seorang guru dalam hal menanamkan nilai Pancasila di Indonsia harus ditekan agar putra-putri bangsa tidak salah lagi dalam mengartikan nilai Pancasila. Janganlah membuat suatu kepentingan menjadikan kita ini berbeda-beda. Manusia diciptakan berbeda-beda, entah itu dari agama, suku, ras, dan semacamnya. Tetapi ingat ! meskipun kita berbeda kita tetap satu ibu pertiwi, dimana kita terlahir di tanah yang sama, memakan makanan dari tanah yang sama, meminum air dari sumber yang sama, maka dari itu kita satu, Bangsa Indonesia, dan Saya PANCASILA ! (*)

iklan bapenda