OPINI: Konflik Israel-Palestina; Elegi yang Tak Berujung

oleh -12 views
Ubaidullah
bankntb

Oleh: Ubaidullah (Mahasiswa Pascasarjana UMS / Ketua Pemuda Muhammadiyah Sumbawa Bidang Humas)

SUMBAWA BESAR, SR (25/07/2017)

amdal

“Maafkan kami saudara, kami tahu kalian dalam kondisi sakit, susah semuanya. Kami bangga pada kalian giroh perjuangan yang tak pernah padam, ibarat api yang terus ingin membakar bumi, tanpa kecuali kalian semua bersatu padu memperjuangkan hak dan kemerdekaan kalian. Di tengah hiruk-pikuk kami di sini kalian dihujani peluru, gas air mata sehingga kalian luka parah bahkan mati syahid. Kami di sini selalu ada mendukung dan mendoakan kalian saudara-saudara. Kami yakin Allah bersama hambanya yang berjuang membela agama-Nya. Salam rindu dari kami rakyat dan bangsa Indonesia”.

Saya ingin memulai tulisan ini dengan kita kembali membaca dan memahami kembali histori of violent betwent Israel and Palestine (sejarah konflik antara Israel dan Palestine). Sejarah mencatat bahwa konflik yang terjadi di tanah Palestina yang dimana kita umat Islam mengetahui bahwa di Palestina terdapat masjid (tempat suci) yang dilalui oleh Nabi Muhammad SAW saat melakukan Isra dan Mi’raj. Konflik Israel dan Palestina bisa tarik ulur sejak Tahun 2000 SM.

Namun dalam sejarah kontemporer, konflik antara Palestina dan Israel dimulai pada Tahun 1967 ketika Israel menyerang Mesir, Yordania, dan Syiria dan berhasil merebut Sinai dan Jalur Gaza (Mesir), dataran tinggi Golan (Syiria), Tepi Barat dan Yerusssalem (Yordania). Pada saat itu, Israel dengan mudah menghancurkan angkatan udara musuhnya karena dibantu informasi oleh CIA (Central Intelligense Agency = Badan Intelijen Pusat milik USA). Sementara itu angkatan udara Mesir ragu membalas serangan udara Israel, karena Menteri Pertahanan Mesir ikut terbang dan memerintahkan untuk tidak melakukan selama dia ada di udara.

Nampaknya violence (konflik) memang tak akan menemui titik terang (saya lebih senang menyebutnya sebuah elegi yang tak berujung) karena terlihat dari fakta sejarah hampir 30 tahun lebih konflik ini terjadi. Proses demi proses dilakukan melalui negosiasi kedua belah pihak dan dilakukan mediasi oleh PBB pun tetap mendapat hasil yang suram. Kalau kita merunut kronologi dari konflik ini, misalnya dihitung mundur dari tahun 1967 sampai 2017, berbagai proses yang dilakukan oleh semua pihak yang ingin nimbrung dalam penyelesaian. Ternyata konflik ini baik secara tersirat maupun tersurat telah dikatakan oleh para ulama. Seperti dikatakan oleh Syeikh Prof. Dr. Muhammad Jibril (Dosen Tafsir Al-Azhar) dikutip dari Ustd Abdul Somad, Lc, MA, menanyakan kenapa Allah tidak membinasakan Israel itu ? lalu apa yang tersisa untuk kalian ?, jawabnya, ternyata Allah sengaja sisakan ini sebagai medan jihad kita kepada Allah.

Baca Juga  November 2016, AKPER Samawa Tempati Gedung Sendiri

Israel dalam Alqur’an ?????     

Mari kita melihat eksistensi Yahudi dalam Qur’an. Karena perlu kita menempatkan permasalahan Palestina pada posisi penting. Saya ingin menguak fakta-fakta dalam Qur’an dalam memetakan persoalan ini. Ternyata Qur’an jauh hari telah menggambarkan fakta yang terjadi hari ini di Palestina melalui ayat yang mulia. Ada beberapa fakta yang telah digambarkan Al-Qur’an dan sekarang terjadi begitu nyata di Palestina.

Fakta 1; adanya Yahudi yang sadis dan bengis terhadap orang muslim, serta senantiasa melanggar perjanjian. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang Yahudi dan orang orang musyrik (Al-Maidah 82). Fakta 2; adanya kaum muslimin yang terusir dan terbunuh di Palestina  karena keyakinan mereka ber-Islam. Allah berfirman: “yaitu orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: Tuhan kami hanyalah Allah (Huaj:40). Fakta 3; adanya skenario global di balik konflik Palestina. Allah berfirman: ”orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Tidak heran kalau kemudian di balik keangkuhan Israel hari ini, karena adanya dukungan Amerika Serikat. Bahkan kalau kita kembali menoleh ke sejarah masa lalu mengenai eksistensi negara Israel di tanah Palestina, adalah karena kebaikan hati Inggris kepada kaum Yahudi, sekaligus kebencian mereka kepada Islam. Dua negara ini selalu mendukung zionis Israel. Bukan hanya teknis persenjataan yang selalu disuplai, tetapi juga kebijakan perdamaian dan juga penghianatan perdamaian yang selalu diamankan Amerika.

Berangkat dari fakta di atas, pantaslah jika kemudian konflik ini selalu memiliki jalan buntu. Fakta sejarah itu dapat dimaknai sebagai sebuah keniscayaan yang memang harus terjadi sehingga umat Islam menjadikan medan pertempuran ini sebagai ladang jihad fi sabilillah. Orang-orang Israel adalah perampok, pembunuh, bengis, bejat dan tak punya malu. Mereka sebenarnya tidak punya tanah dan tempat tinggal, karena mereka pendatang dari Amerika yang kemudian mencari cara dengan berbagai dalih untuk menguasai tanah Palestina. Hal ini terbukti ketika seorang wartawan bertanya kepada anak-anak Palestina mengenai eksistensi Negara Israel. Ternyata jawaban mereka cukup mengejutkan bahwa “tidak ada Negara Israel dan Yerussalem bukan ibukota Israel. Israel pendatang dan perampok”. Fakta ini membuktikan bahwa Bangsa Palestina tidak menganggap ada Negara Zionis Israel, tapi karena konspirasi global yang didukung oleh negara adidaya seperti AS, Inggris, Prancis dan lainnya, maka kemudian Israel berani terus melakukan kejahatannya.

Baca Juga  DPR RI Kecam Pelarangan Shalat di Masjid Al Aqsha oleh Israel

Lalu bagaimana posisi dan sikap kita Bangsa dan umat Islam Indonesia mengenai konflik yang saya sebut dengan istilah “Elegi yang tak berujung ini” ?. Pertama, selaras dengan amanah UUD 1945 “kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”. Posisi Indonesia sebagai negara merdeka dan negara muslim terbesar di dunia harus mampu mengambil sikap yang jelas dan tegas lewat politik luar negeri yang bebas aktif. Pemerintah harus menekan PBB segera mengadakan sidang untuk menghentikan kekejaman Israel yang  ingin mengusai Masjid Al Aqsha tempat suci umat Islam. Kedua, secara sosiologis dan historis umat Islam Indonesia dan Palestina adalah bersaudara, maka ketika ssaudara kita sakit, kita harus merasakan sakitnya. Bantuan logistik terlebih doa agar selalu kita panjatkan untuk mereka. karena tidak mungkin kita akan pergi hadir dalam pertempuran di sana. Sehingga Allah meringankan, menjaga, dan memberikan mereka kekuatan dalam menjalani hari mereka di tengah hiruk-pikuk peperangan. Ketiga, Bangsa Indonesaia harus menyadari bahwa Palestina yang pertama mengakui kemerdekaan Indonesia. Maka sudah seyogyanya kita membalas melalui kebijakan yang pro terhadap mereka, dan menghentikan sekaligus boikot segala produk Israel. (*)

 

iklan bapenda