Kembangkan Madu Hutan, KPH se-Pulau Sumbawa Teken MoU

oleh -10 views
bankntb

SUMBAWA BESAR, SR (19/07/2017)

Kabupaten Sumbawa menjadi lokasi pertama dalam kegiatan Forum Bisnis Kehutanan Berbasis Masyarakat di wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) se-Pulau Sumbawa. Kegiatan ini mendapat dukungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Pemprov NTB dan Pemkab Sumbawa. Bahkan dalam kegiatan yang terlaksana di aula H Madilaoe ADT lantai III kantor Bupati Sumbawa Rabu (19/7) ini, dilakukan penandatanganan MoU Kesepahaman Bersama KPH di Pulau Sumbawa untuk Pengembangan Madu Hutan Berbasis Masyarakat di Provinsi NTB.

amdal

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTB, Ir. Madani Mukarom M.Si menyampaikan, KPH merupakan harapan terakhir pengolah hutan yang baik dan benar. Sehingga keberadaan KPH dinilai menjadi bagian penting dalam tatakelola hutan dan menjadi pengawas di lapangan. Karena anggota KPH berinteraksi langsung dengan masyarakat dan para pihak lainnya. Seluruh KPH yang dulunya berada di bawah pemerintah kabupaten/kota beralih menjadi lembaga di bawah Dinas LHK Provinsi. Saat ini jumlah KPH ada 11 lembaga dari sebelumnya 23 lembaga. ‘’Terkait dengan kelembagaan KPH, dan ini menjadi komitmen kami dengan Pak Gubernur adalah pengamanan hutan. Dulunya pengamanan hutan itu adalah KPH yang didukung Pemkab Sumbawa, pemerintah pusat, dan TNI. Sekarang KPH sendiri patroli 24 jam selama tujuh hari. Ini salah satu komitmen saya dengan Pak Gubernur,’’ tuturnya.

Baca Juga  Status SP4 Buin Batu Plampang Ngambang

Sementara Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hutan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Dr. Rufi’ie menyampaikan, tujuan kegiatan ini untuk kerjasama lintas pemerintah bersama pihak swasta dalam rangka membangun bisnis kehutanan berbasis masyarakat di Provinsi NTB. Sumbawa menjadi lokasi penyelenggara ekonomi bisnis ini yang pertamakali di Indonesia. Karena Kementerian LHK sudah mengetahui bahwa Sumbawa terkenal dengan komoditas madu hutan. Bahkan madu Sumbawa ini sudah cukup terkenal di skala nasional maupun internasional. Termasuk keberadaan Jaringan Madu Hutan Sumbawa (JMHS) yang menggalang kelompok masyarakat dan petani madu hutan. ‘’Madu di Sumbawa ini sudah merupakan merk. Dimana saat orang datang ke Sumbawa pasti pulang membawa madu,’’ ujarnya.

Terhadap forum bisnis ini, Kementerian LHK menawarkan pendekatan yang terintegrasi, dengan melibatkan pendekatan kehutanan sosial, pengembangan klaster, dan pendanaan melalui dana bergulir dari Pelayanan Umum Pusat Pembiayaan Pembangunan Hutan (PUP3H) di wilayah kelola KPH. Salah satu fokus penting dari forum bisnis ini adalah peran KPH terutama di Sumbawa. Yang telah memanfaatkan komoditas hutan bukan kayu dan juga ekowisata. ‘’Saya sudah langsung ke lapangan, dan pemandangan di Batu Dulang itu tidak kalah dengan di Jawa atau tempat lain. Tinggal memperkuat infrastruktur, kemudian mempromosikannya sehingga orang lebih tertarik untuk datang kesana. Soal jaraknya saya kira tidak terlalu jauh,’’ ujarnya.

Baca Juga  Lagi, KSB Dapat Bantuan 8000 Unit Septic Tank

Selain itu, Kementerian LHK juga menawarkan beberapa bentuk dukungan dan kerjasama, seperti penguatan kapasitas KPH dalam pengembangan hutan berbasis masyarakat, pengembangan klaster industri yang untuk saat ini berbasis madu dengan integrasikan industri pendukung dan industri terkait berbasis teknologi untuk meningkatkan daya saing dan memenuhi kebutuhan pasar. Kemudian penguatan kelompok usaha berbasis masyarakat dalam skema terkait kelembagaan, pemenuhan persyaratan perizinan dan lainnya. ‘’Kami optimis kerjasama ini akan berhasil. Terutama karena adanya dukungan yang sangat positif dari Pemerintah Provinsi NTB dan Pemkab Sumbawa,’’ tandasnya.

Sekretaris Daerah Kabupaten Sumbawa Drs. H. Rasyidi dalam sambutannya mengatakan, madu seakan-akan merupakan salah satu ikon Sumbawa. Di kalangan masyarakat luar, madu asli Sumbawa merupakan sebuah jaminan bahwa madu tersebut memiliki berbagai khasiat bagi kesehatan. Persepsi ini sebenarnya merupakan sebuah image positif bagi wilayah Pulau Sumbawa. ‘’Karena itu menjadi tantangan tersendiri bagi seluruh elemen masyarakat Sumbawa agar image positif tersebut dapat kita pertahankan, yang pada akhirnya bisa berdampak positif terhadap daya saing produk kita madu Sumbawa. Dalam konteks ini tentunya banyak hal yang harus menjadi perhatian kita bersama agar keberadaan madu Sumbawa tetap eksis dan memberi nilai tambah bagi masyarakat. Hutan yang menjadi daya dukung utama keberadaan lebah madu harus benar-benar kita pelihara dan lestarikan,’’ tegas Sekda. (JEN/SR)

iklan bapenda