Hilangnya Tradisi Nuja’ Rame Dalam Adat Pernikahan Tau Samawa

oleh -31 views
Ria Armida Aziza
bankntb

Oleh: Ria Armida Aziza, Mahasiswa Semester VI Pendidikan Ekonomi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Samawa (UNSA) Sumbawa Besar

SUMBAWA BESAR, SR (19/07/2017)

Suku Samawa adalah suku yang mendiami bagian barat Pulau Sumbawa atau bekas wilayah Kesultanan Sumbawa. Wilayahnya seluas 8.493 km2 yang berarti lebih dari setengah Pulau Sumbawa dengan luas keseluruhan mencapai 14.415,45 km2, sedangkan bagian timur pulau ini didiami oleh suku Bima. Suku Sumbawa adalah campuran kelompok etnik-etnik pendatang yang telah membaur dengan kelompok etnik pendatang yang lebih dahulu mendiami bekas wilayah Kesultanan Sumbawa, sehingga melahirkan kesadaran akan identitas budaya sendiri yang dicirikan dengan kehadiran Bahasa Sumbawa atau Basa Samawa sebagai bahasa persatuan antar etnik yang mendiami sebagian pulau ini. Para tau Samawa zaman dahulu memiliki berbagai macam kebudayaan yang selalu mereka lakukan setiap melakukan kegiatan sehari-harinya. Dan hal tersebut sudah menjadi tradisi para tetua pada saat itu.

Pada zaman dahulu, kebiasaan gotong-royong sangat kental menyelimuti keseharian masyarakat Samawa. Dalam segala kegiatan, selalu dikerjakan secara bergotong-royong. Misalnya membangun rumah, menanam padi di sawah maupun ladang, panen buah dan lain-lain. Kebiasaan-kebiasaan tersebut masih tetap lestari di Tana Samawa sampai dengan saat ini.

Dan salah satu budaya atau tradisi Suku Samawa yang masih cukup sering dilakukan oleh masyarakat Sumbawa adalah mengenai tata cara kompleks pernikahan dalam masyarakat Sumbawa yang selalu diselenggarakan dengan upacara adat yang mengadopsi proses perkawinan Adat Bugis-Makasar. Diawali dengan bajajaq (pendekatan), bakatoan (meminang), basaputis (bermusyawarah memutuskan keperluan pernikahan), bada’ (pemberitahuan kepada mempelai wanita bahwa dia akan menikah), nyorong (kegiatan penyerahan barang kepada mempelai wanita), upacara barodak (pemakaian lulur dan pancar unTuk calon pengantin), ete ling (meminta jawaban mempelai wanita), dan pada malam hari menjelang kedua calon pengantin dinikahkan dan basai (resepsi). Jika masyarakat sekarang hanya mengenal tradisi yang telah disebutkan ini, ternyata ada banyak hal yang benar-benar terlupakan oleh sebagian masyarakat kita yaitu kegiatan sebelum dilakukannya prosesi perkawinan tersebut, yaitu nuja’ rame. Nuja’ rame adalah bagian dari tradisi pernikahan masyarakat Sumbawa yang dilakukan ketika ada acara perkawinan. Walaupun sebenarnya nuja rame merupakan tradisi yang sering dilakukan masyarakat Sumbawa pada saat masa panen telah berakhir tetapi setelah Nuja Rame akan dilanjutkan dengan acara pernikahan.

Nuja’ merupakan salah satu adat Sumbawa yakni proses penumbukan padi menjadi beras atau beras menjadi tepung. Alat nuja’ yakni nisung atau rantok dan ngalu. Nisung atau rantok merupakan wadah tempat padi atau beras dimasukkan dan ngalu merupakan alat untuk menumbuk. Selain itu, proses Nuja ada yang dikenal dengan “Nuja rame”, yaitu proses penumbukkan lebih dari dua orang penumbuk dalam satu wadah, baik nisung ataupun rantok. Nuja’ rame sering kita temui di acara pernikahan, sunatan dan acara-acara besar lainnya di masyarakat Sumbawa.

Pada umumnya, setelah masa panen masyarakat samawa melakukan acara perkawinan bagi keluarga-keluarga yang sudah siap melakukannya. Karena setelah masa panen itulah biasanya semua persiapan untuk melakukan pesta pernikahan telah tercukupi. Dari seluruh pelosok kampung (dulu) semua warga berbondong-bondong membawa hasil panen padi mereka untuk dituja (tumbuk) di salah satu rumah warga. Selain itu, nuja rame juga sebagai momen Panulung (bantuan) bagi keluarga yang akan melaksanakan pesta perkawinan. Ketika hari nuja’ rame dilaksanakan, beberapa orang menyembunyikan rantok (alat penumbuk padi), dengan cara dipukul dengan ngalu (alu dari kayu dan bambu) sebagai tanda bahwa ada keluarga yang akan melaksanakan nuja’ rame. Nuja’ rame biasanya dilakukan oleh ibu-ibu. Biasanya, rantok ini dibunyikan pagi-pagi buta ketika orang belum keluar dari rumahnya dan suasana kampung masih sunyi sepi dari aktifitas warga. Sehingga semua warga bisa mendengarkan bunyi rantok tadi. Rantok pun tidak asal dibunyikan saja, tetapi dengan teknik khusus sehinggga menghasilkan irama (pagonteng) yang membuat orang senang mendengarnya. Suaranya pun bak tabuhan drumband di jaman sekarang. Irama dari rantok tadi di setiap desa mempunyai ciri khas tersendiri, sehingga menghasilkan keragaman jenis pukulan nuja’ rame. Setelah masyarakat beramai-ramai datang, barulah rantok tadi berhenti dibunyikan. Kemudian masing-masing masyarakat menyerahkan sendiri barang bantuan (panulung) kepada keluarga pengantin. Panulung yang sudah terkumpul nantinya akan diserahkan oleh keluarga calon pengantin pria kepada keluarga calon pengantin wanita. Namun kalau keluarga pengantin wanita yang melaksanakan adat nuja’ maka panulung (bantuan) itu digunakan pada saat pelaksanaan akad nikah dan pesta perkawinan. Begitulah kira-kira sedikit gambaran mengenai tradisi masyarakat Sumbawa pada zaman dulu yang mungkin ada beberapa masyarakat Sumbawa zaman sekarang yang masih melaksanakan tradisi tersebut.

Baca Juga  Desa Poto, Contoh Pemajuan Kebudayaan di Indonesia

Membahas tradisi dan adat istiadat zaman sekarang pada sebagian generasi muda bukannya rasa antusias yang akan diperoleh tetapi hanya anggukan kecil yang menandakan bahwa masalah itu bukan urusan mereka. Padahal dalam tradisi yang kecil dan kuno tersebut tersimpan banyak pelajaran hidup yang mampu kita petik sebagai generasi muda seperti adanya gotong royong yang tinggi sesama manusia dan bagaimana layaknya hidup bermasyarakat yang berjiwa sosial yang dalam masyarakat sekarang sudah sangat jarang kita temui. Budaya dinomor-duakan karena dianggap sudah ketinggalan zaman dan tidak sesuai dengan pemikiran masa sekarang yang harus mengikuti alur peradaban. Bukan menyalahkan adanya aliran modernisasi hanya saja masyarakat awam sekarang masih belum mampu memilah dirinya, sehingga segala pengaruh yang masuk diterima tanpa adanya penyeleksian. Dan yang berakhir, dengan banyak budaya-budaya dan tradisi yang seharusnya dilestarikan malahan harus hilang dengan sendirinya.

Kearifan Lokal Samawa

Pada umumnya, setelah masa panen masyarakat Samawa melakukan acara perkawinan bagi keluarga-keluarga yang sudah siap melakukannya. Karena setelah masa panen itulah biasanya semua persiapan untuk melakukan pesta pernikahan telah tercukupi. Nuja Rame bagi masyarakat Tana Samawa setiap tahunnya tidak pernah absen terutama ketika berakhirnya masa panen. Dari seluruh pelosok kampung (dulu) semua warga berbondong-bondong membawa hasil panen padi mereka untuk DITUJA (tumbuk) di salah satu rumah warga. Selain itu, nuja rame juga sebagai momen PANULUNG (bantuan) bagi keluarga yang akan melaksanakan pesta perkawinan.

Baca Juga  Amman Mineral Gelar Journalistic Class untuk Wartawan di NTB  

Sebelum melakukan kegiatan nuja rame dan Antat Panulung (mengantar bantuan) salah satu perwakilan dari keluarga pengantin, akan BERAJAK (mengundang) seluruh keluarga dari calon pengantin. Yaitu dengan cara mengajak dari rumah ke rumah (Entek Bale Turin Bale) untuk menyampaikan amanat bahwa akan dilaksanakan hajatan pernikahan keluarganya. Bila salah satu dari keluarga tidak dapat ditemui karena sedang tidak berada di rumah, maka utusan tadi akan meninggalkan selembar daun sirih (godong eta) kemudian ditempelkan di pintu rumahnya. Daun inilah yang menjadi penyampai pesan kepada si pemilik rumah bahwa akan ada keluarga yang akan melangsungkan acara perkawinan. Pemilik rumah tadi secara otomatis akan mencari siapa keluarganya yang akan mengadakan hajat perkawinan. Setelah asal dari daun sirih diketahui, maka semua keluarga datang sambil membawa barang-barang bantuan (panulung) untuk keluarga pengantin pada acara nuja rame.

Ketika hari pelaksanaan adat nuja rame, beberapa orang membunyikan rantok (alat menumbuk padi) dengan cara dipukul dengan deneng (Alu dari kayu dan bambu) sebagai tanda bahwa ada keluarga yang melaksanakan Nuja Rame (Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh ibu-ibu). Biasanya, rantok ini dibunyikan pagi-pagi buta ketika orang belum keluar dari rumahnya dan suasana kampung masih sunyi sepi dari aktifitas warga. Sehingga semua warga bisa mendengarkan bunyi rantok tadi. Rantok pun tidak asal dibunyikan saja, tetapi dengan teknik khusus sehinggga menghasilkan irama (pagonteng) yang membuat orang senang mendengarnya. Suaranya pun bak tabuhan drum band dijaman sekarang. Irama dari rantok tadi di setiap desa mempunyai ciri khas tersendiri, sehingga menghasilkan keragaman jenis pukulan nuja’ rame.

Setelah warga masyarakat beramai-ramai datang, barulah rantok tadi berhenti dibunyikan. Kemudian masing-masing warga menyerahkan sendiri barang bantuan (panulung) kepada keluarga pengantin. Panulung yang sudah terkumpul nantinya akan diserahkan oleh keluarga calon pengantin laki-laki kepada keluarga calon pengantin wanita. Namun kalau keluarga pengantin wanita yang melaksanakan adat nuja, maka panulung itu digunakan pada saat pelaksanaan akad nikah dan pesta perkawinan.

Adat nuja’ ini sangat membantu keluarga yang melaksanakan hajatan perkawinan. Untuk itulah adat nuja ini masih dipertahankan sampai sekarang. Di beberapa desa yang kami ketahui, rata-rata panulung pada adat nuja rame ini disepakati berupa beras ½ liter, telor satu butir, gula ½ kg, dan uang Rp 1.000/kepala keluarga. Ada juga panulung yang berupa barang-barang lain sesuai dengan kesepakatan adat di masing-masing wilayah adat (setiap desa). Panulung biasanya disesuaikan dengan barang-barang yang dibutuhkan untuk melaksanakan pesta pernikahan.

Seiring dengan perubahan zaman, nuja’ sudah jarang kita temui dikarenakan masyarakat sekarang lebih memilih menggunakan mesin penggiling yang prosesnya lebih cepat. Kini proses nuja’ sudah jarang kita temui yang seharusnya proses nuja’ harus dilestarikan karena merupakan adat peninggalan nenek moyang masyarakat Sumbawa. (*)

iklan bapenda