Munas IV ABPPTSI di Bali Terbelah

oleh -1 views
bankntb

BALI, SR (18/07/2017)

Munas IV Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (ABPPTSI) yang diselenggarakan di Hotel Puri Sharon, Bali, sejak 16 Juli hingga 18 Juli 2017, dibuka Wapres Jusuf Kalla sekaligus sebagai Keynote speech, Pengarahan Menristekdikti dan Pembekalan dari beberapa Dirjen Kemenristekdikti.

amdal

Sebagaimana disampaikan Prof. Dr. Edie Toet Hendratno SH, M.Si salah seorang peserta Munas mewakili Yayasan Universitas Pancasila, bahwa penyelenggaraan Munas IV ABPPTSI secara nyata dan kasat mata sudah direkayasa sedemikian rupa hanya untuk menyukseskan Ketua Umum Prof Thomas Suyatno yang sudah menjabat 3 periode untuk melanjutkan kepimpinan periode IV. Cara-cara yang tidak lazim tersebut dilakukan tanpa mengindahkan kaidah-kaidah organisasi sesuai AD/ART.

Beberapa catatan pelanggaran terhadap AD/ART, adalah masalah keanggotaan dan kepesertaan Munas yang jelas-jelas melanggar AD/ART, sehingga peserta yang diundang sangat terbatas, tidak lebih dari 300 yayasan, dibandingkan dengan jumlah yayasan mencapai 4.000. Dari undangan tersebut pun mayoritas adalah yayasan-yayasan yang secara nyata pendukung ketua umum, sehingga ruang sidang sudah diwarnai kelompok tersebut. Selebihnya adalah yayasan yang diundang melalui komunikasi tidak resmi, sehingga kehadiran mereka pun tidak diterima dengan alasan ruang sidang terbatas.

Pelanggaran lain, merubah anggaran dasar (AD) terkait jabatan Ketua Umum dari maksimum 2 kali menjadi tidak terbatas atau bisa dipilih berkali-kali, tanpa ada pembatasan. Sikap tidak terpuji yang dilakukan oleh para pendukung Ketum yang sedang menjabat, dengan berteriak-teriak, dan melecehkan pembicara-pembicara yang berbeda pendapat, tidak menunjukkan sebagai insan pendidik, yang seharusnya memberikan contoh ketauladanan bagaimana berperilaku sebagai pendidik yang memimpin BP PTS.

Baca Juga  Akhirnya Dana BOS TW IV Cair

Pada awalnya saat Ketua Sidang dipimpin oleh Marzuki Alie P.hD, situasi sangat kondusif, suasana sangat mencair, semua diberikan kesempatan bicara dan dijelaskan satu persatu secara terbuka, sehingga sidang bisa berjalan dengan lancar, walaupun semua peserta menyadari adanya pelanggaran terhadap AD. Namun dengan musyawarah untuk mufakat semua peserta Munas menyepakati sidang dilanjutkan.

Tapi ketika kepemimpinan sidang diambil alih oleh ketua sidang, Wisnu, situasi berubah. Perlakuan yang tidak adil dari kepemimpinan ketua sidang yang melakukan pembiaran kepada kelompok-kelompok pendukung TS—sebutan Thomas Suyatno serta sedikit sekali memberikan kesempatan kepada mereka yang berbeda pendapat, telah membuat kekecewaan sebagian peserta sidang. Kekecewaan inilah akhir para peserta sidang ikut walk out, mengikuti sikap Prof Dr. Eddie Toet Hendratno.

Marzuki Alie P.hD, selaku salah satu pimpinan sidang, akhirnya ikut keluar dari ruang sidang, mengingat beberapa kali peringatannya kepada ketua sidang tidak diindahkan sama sekali, sehingga merasa tidak ada manfaat lagi dalam memimpin sidang.

Melihat representasi Badan Penyelenggara Pendidikan yang masuk dalam ABP PTSI sangat tidak memadai, tidak lebih dari 300 yayasan dari jumlah yayasan pendidikan yang ada sekitar 4000-an, serta kepemimpinan yang tidak demokratis, dibuat seperti kerajaan ingin berkuasa terus-menerus, akhirnya muncul kesepakatan. Yaitu menyepakati untuk mendirikan organisasi baru yang lebih partisipatif, kredibel, akuntanbel, serta merangkul semua BP PTS di Indonesia, yaitu Himpunan BPPTS Indonesia. “Semoga ini menjadi pembelajaran yang baik bagi sahabat-sahabat yang masih bergabung di ABPPTSI,” demikian press release yang ditandatangani Prof.Edhie Toet Hendratno SH, M.Si dan Dr. H. Marzuki Ali MM, M.Si yang diterima SAMAWAREA, Selasa (18/7). (JEN/SR)

iklan bapenda