Hobby Unik Menjadi Tradisi yang Bernilai Seni

oleh -18 views
bankntb

Oleh: Sri Devi, Mahasiswa Semester VI Pendidikan Ekonomi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Samawa (UNSA) Sumbawa Besar

SUMBAWA BESAR, SR (16/07/2017)

amdal

Taliwang adalah sebuah kecamatan yang juga merupakan pusat pemerintahan (ibu kota) kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Kota Taliwang yang telah ditetapkan sebagai ibukota Kabupaten Sumbawa Barat yang resmi berdiri pada tanggal 20 November 2003. Dalam usianya yang relatif muda juga berusaha mengembangkan pariwisata untuk menunjang keberadaan kota tersebut.

Taliwang memiliki beragam kesenian dan kebudayaan khas seperti rumah adat, pakaian adat, tari tradisional, alat musik tradisional, dan lain-lain. Selain kebudayaan, adapula makanan khas Taliwang. Ayam Bakar Taliwang, Pelecing Kangkung dan jajanan yang paling khas sekali dari daerah Taliwang yaitu Palopo. Taliwang sebagai ibukota Kabupaten Sumbawa Barat juga didukung oleh wisata budaya. Mulai kawasan pesisir pantai beralih ke pedalaman Kabupaten Sumbawa Barat berbagai lokasi wisata alam potensial menantang untuk dikunjungi dan dijelajahi. Kecamatan Seteluk menawarkan pendakian ke Desa Mantar, pemukiman penduduk di puncak gunung dengan keunikannya yang tidak akan dijumpai di tempat lain. Berikutnya Danau Lebo di Taliwang dengan keanekaragaman flora dan faunanya siap untuk dijelajahi dengan jukung tradisional. Selain dari wisata tersebut, ada juga tempat-tempat wisata di setiap wilayah pesisir seperti, Pantai Kertasari yang terkenal dengan budidaya rumput lautnya, Pantai Labuan Balat, Pantai Lawar Sekongkang, Pantai Maluk hingga Poto Tano yang terkenal baru-baru ini dengan keindahan Pulau Kenawa dan pulau-pulau di sekitarnya.

Sumbawa Barat dengan etnis Samawa sebagai penduduk utamanya memiliki keragaman tradisi dan budaya yang khas. Kabupaten Sumbawa Barat kaya akan ragam budaya dan obyek wisata yang memiliki nilai jual. Salah satu permainan rakyat yang sangat disenangi oleh masyarakat kabupaten saat ini yaitu Sampo Ayam (Barapan Ayam). Jika Pulau Sumbawa terkenal dengan adat Barapan Kebo (balapan kerbau) dan Balap Jaran (Pacuan Kuda) merupakan jenis atraksi budaya yang sangat digemari oleh masyarakat Sumbawa, masyarakat Kabupaten Sumbawa Barat khususnya daerah Taliwang, Nusa Tenggara Barat, memiliki tradisi unik yang terus dilestarikan, yakni karapan ayam (Barapan Ayam). Barapan Ayam merupakan salah satu permainan yang telah menjadi tradisi rakyat Kabupaten Sumbawa Barat. Permainan yang dilakukan dua ekor ayam ini bukan semata-mata untuk melestarikan budaya melainkan juga untuk semakin mempererat silaturrahmi di kalangan masyarakat. Permainan ini sudah dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat Sumbawa Barat sejak lama walaupun dulu sempat tidak dilakukan lagi bahkan hampir hilang.

Kemudian di masa sekarang kembali dikembangkan oleh pemerhati budaya Sumbawa Barat dalam hal ini Lembaga Adat Tana Samawa (LATS) Ano Rawi Sumbawa Barat dan para penggemar Karapan Ayam. Itu terbukti hampir dalam setiap bulan diadakan kegiatan Lomba Sampo Ayam dan baru-baru belakangan ini diadakan hampir setiap 2 atau 3 kali dalam seminggu. Bahkan pesertanya ada dari luar Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Mulai sekarang dan seterusnya harus dijaga dan dilestarikan untuk mempertahankan budaya lokal yang ada.

Baca Juga  Gerakan “Ayo Kerja” Dicanangkan untuk Revolusi Mental 

Karapan Ayam atau dalam bahasa Sumbawa “Barapan Ayam atau Sampo Ayam”, tradisi unik permainan rakyat yang dapat anda jumpai jika berkunjung ke Taliwang, Sumbawa Barat. Pemandangan ini dapat disaksikan tiap acara Barapan Ayam di Taliwang Sumbawa Barat. Tradisi ini terbilang unik, karena biasanya, hewan ini dipakai sebagai ayam aduan saja. Selain itu, hewan yang termasuk dalam jenis unggas ini, sebenarnya agak mustahil untuk beradu lari cepat. Namun, di Sumbawa Barat, ayam-ayam khusus telah dilatih sejak dini untuk dapat berlari secepat-cepatnya. Hewan ini akan beradu cepat dalam tradisi “Barapan Ayam”. Barapan Ayam bisa menjadi hiburan bernilai seni. Tidak semua daerah di Sumbawa memiliki tradisi ini.

Kegiatan yang biasa dilakukan oleh Kaum Adam ini terbilang unik. Pasalnya, tidak hanya sepasang ayam yang dituntut memiliki kecepatan dan keakuratan menabrak SAKA (tiang tengah yang dijadikan target), tapi juga membutuhkan keahlian dan kelihaian sang Joki (penggiring) untuk mengendalikan ayam balapannya karena dalam permainan ini telah ditetapkan aturan main yang diterapkan dalam permainan ini dan harus dipatuhi oleh para peserta untuk menjadi pemenang, dimana joki beserta pasukan ayamnya ini harus mencatat waktu tercepat. Selain itu, ayam tidak boleh keluar dari garis batas arena dan Noga (tongkat) yang mengikat kedua ayam harus menyentuh saka di garis finish.

Dilihat dari aturan mainnya saja, telah terbayang betapa susahnya permainan ini, apalagi untuk mengendalikan ayam ini bukan perkara mudah. Banyak tim yang ayamnya terbang, nyasar kemana-mana, ada yang menembus kerumunan penonton atau bahkan ada yang berbalik arah menuju garis start dan hal ini biasa mengundang gelak tawa penonton. Belum lagi sang joki yang berlari bahkan jungkir balik mengarahkan ayam-ayam yang terkadang berlari semaunya sendiri.

Hal menarik dari permainan ini yaitu ayam-ayam dihias sedemikian rupa dan diberi nama yang unik dan aneh yang biasanya mengundang tawa dari para penonton. Ayam-ayam yang akan mengikuti permainan harus didaftarkan nama dan alamat kepada panitia bagian pendaftaran yang nantinya akan diberikan kupon sesuai dengan nomor pendaftarannya sebagai bukti bahwa ayam tersebut sudah terdaftar namanya dan bisa mengikuti permainan dan biaya daftarnya sebesar Rp. 50.000,-.

Joki atau pelatih dalam karapan ayam tidak harus berasal dari pemiliknya, karena dibutuhkan pelatih khusus yang memiliki keterampilan khusus dalam melatih. Biasanya pelatih yang sudah mahir dan memiliki keterampilan akan dipilih oleh banyak pemilik ayam. Pelatih akan turun langsung ke lapangan melatih ayam-ayam ini dalam kegiatan yang disebut Meroba. Meroba dalam istilah barapan ayam dan barapan kebo berarti mencoba atau melatih. Meroba dilakukan secara rutin oleh para pemilik dan pelatih, minimal sekali seminggu. Namun sekarang karena seringnya diadakan perlombaan maka biasanya 2 atau 3 hari dalam seminggu. Hal utama yang dilatih adalah agar ayam dapat menjaga keseimbangan satu sama lain saat berlari sehingga dapat berlari lurus.

Baca Juga  Kunjungi Sumbawa, KONI NTB Bahas Persiapan PON di Jabar

Saat permainan berlangsung, Sandro (orang pintar tradisional yang dipercaya mampu memberikan kekuatan lain bagi ayam) ikut terlibat dalam persiapan ini. Sandro berfungsi menjaga patok garis finis (saka). Biasanya, sebelum barapan dimulai, sandro akan berdiri pada saka dan melakukan ritual mantera di sekitar saka. Tujuannya, memberikan kekuatan tolak pada pasangan ayam barapan yang hendak menabrak saka sebagai salah satu syarat juara.

Sebagai pemberi semangat kepada para peserta, panitia menyiapkan hadiah bagi pemenang berupa uang tunai dan uang pembinaan serta tropi dari panitia lomba. Namun sekarang ini hadiahnya sudah tidak berupa uang akan tetapi berupa hewan (sapi, kambing, ayam jantan, sarung, seperai, TV, kulkas, kipas angin dan lain-lain).

Karapan ayam ini tidak hanya diselenggarakan di satu tempat saja, namun juga digelar di tempat lain, biasanya juga jika ada event-event besar yang diadakan oleh daerah-daerah tertentu. Para pecinta karapan ayam juga turut diundang dalam memeriahkan event-event atau festival yang diadakan oleh tiap daerah. Seperti tahun belakangan kemarin, di daerah Sumbawa Besar diadakan Festival Moyo, selain menampilkan event-event lainnya yang menjadi ciri khas daerah Sumbawa seperti pengenalan jenis makanan khas, tarian, dan seni lainnya, di sini juga diselenggarakan event perlombaan seperti pacuan kuda, barapan kebo dan ternyata karapan ayam juga turut diundang untuk memeriahkan Festival Moyo tersebut. Tidak hanya di Sumbawa, akan tetapi karapan ayam Taliwang juga ikut memeriahkan event Festival yang ada di Pulau Lombok.

Karapan ayam ini selain sebagai bentuk pelestarian adat dan tradisi lomba juga dalam rangka menaikkan harga-harga ayam jago yang keluar sebagai pemenang, juga bernilai ekonomi tinggi, yaitu harga ayam jagoan menjadi sangat mahal. Harga satu pasang ayam juara pada karapan ini bisa mencapai jutaan rupiah. Tradisi ini juga selain sebagai hiburan,ternyata menarik minat masyarakat dan wisatawan untuk hadir dan menyaksikan lomba karapan ayam ini. Memang warga setempat sengaja menggelarnya secara rutin, dalam rangka pelestarian adat asli masyarakat yang hampir punah ini. (*)

iklan bapenda