SDIT Samawa Cendekia Inspirator Full Day School di Sumbawa

oleh -29 views
bankntb

SUMBAWA BESAR, SR (11/07/2017)

Ketika yang lain ribut-ribut soal kebijakan full day school (FDS) justru Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Samawa Cendekia (SC) enjoy-enjoy saja karena sudah 5 tahun melaksanakannya. Bahkan dengan kebijakan itu sekolah yang dikelola Yayasan Dea Mas tersebut menjadi sekolah favorit sekaligus pilihan utama masyarakat khususnya di Kabupaten Sumbawa. Sekolah yang berlokasi di Pondok Matahari Labuan Kecamatan Badas ini berkembang cukup pesat tidak hanya secara kuantitas dari juga kualitas. Dari pertama berdiri dengan hanya 75 siswa orang yang dibagi dalam 3 rombongan belajar (rombel) kini telah tercatat 470 orang dengan 16 rombel. Yang luar biasanya lagi, keberadaan SDIT ini ikut mendorong lahirnya SMPIT dan PAUD/TKIT SC yang kini total komunitas belajar di Samawa Cendekia mencapai 600-an orang. Salah satu kuncinya, sekolah menciptakan sistem pembelajaran yang menyenangkan dan kondusif bagi proses tumbuh kembang siswa. Tidak berlebihan jika SDIT SC menjadi inspirator Full Day School di Sumbawa.

amdal

Kepala SDIT SC, Sambirang Ahmadi S.Ag M.Si yang ditemui SAMAWAREA, Selasa (11/7) mengatakan bahwa konsep FDS bagi sekolah tidak ada salahnya. Namun bagi sekolah umum yang belum terbiasa memang sedikit menghadapi tantangan karena mereka harus merubah waktu dan budaya kerjanya. Untuk Sekolah Islam Terpadu (SIT) dimana saja, konsep penerapan kurikulumnya dari awal memang sudah full day school. SIT merancang program pembelajaran dengan tambahan muatan lokal yang sekaligus menjadi keunggulannya dibandingkan sekolah umum. Misalnya, pembelajaran Al Qur’an, Bahasa Arab, Bahasa Inggris, pembinaan Agama Islam, dan lain-lain. Apakah siswa tidak jenuh ?  Sejauh ini ungkapnya SDIT tidak melihat siswa-siswa jenuh karena proses pembelajaran dibuat serileks mungkin oleh guru-gurunya. “Di sinilah pentingnya inovasi dan kreatifitas guru. Belajar tidak harus indoor atau di dalam kelas melulu, tapi juga harus diimbangi dengan outdoornya. Di sini siswa-siswa bebas memilih mau belajar dimana, di dalam atau di luar kelas. Kadang-kadang di bawah pohon, di baruga-baruga, di masjid, bahkan seringkali ke luar lingkungan sekolah, seperti ke kantor-kantor pemerintah dan tempat-tempat wisata, sesuai tema pelajarannya,” beber pria yang kini tercatat sebagai tokoh pendidikan Sumbawa.

Baca Juga  Dihadiri 20 Negara, UTS Siap Jadi Tuan Rumah APO 2020

Penerapan FDS idealnya memang membutuhkan lingkungan sekolah yang kondusif. Sekolah-sekolah harus memiliki area yang sedikit lapang dan secara fisik harus ada tempat-tempat khusus untuk rileks bukan hanya bagi siswanya tapi juga gurunya. Ketika di sekolah ada kegiatan yang menyenangkan serta didukung lingkungan yang kondusif, anak-anak terkadang enggan pulang ke rumah. Semua ini tergantung dari gurunya bagaimana melakukan stimulasi yang mengasyikkan untuk anak-anak. Yang menjadi masalah jika gurunya biasa tidur siang yang dinilai sangat berat untuk merubah kebiasaan tersebut. Tidak heran FDS ini akan menjadi sangat ruwet dan mereka tidak siap untuk melakoninya. “Menurut saya masalahnya bukan pada anak-anak tapi gurunya. Kalau anak-anak ikut-ikut saja dan senang-senang saja di sekolah speanjang kegiatan lingkungannya nyaman buat mereka. Saya mencontohkan anak-anak mengikuti kegiatan camp (kemah), mereka bisa tahan dan betah tidak pulang-pulang. Karena memang camp itu kegiatannya sangat variatif dan menyenangkan. Jadi bagaimana menciptakan kegiatan menyenangkan bagi anak-anak agar tidak hanya kognitifnya yang terus diasah tapi fisik dan psikologis dirangsang untuk aktif, sehingga tidak terasa waktu cepat berlalu,” ujar mantan Ketua Komisi IV DPRD Sumbawa ini.

Kebijakan FDS dinilai sangat efektif dalam membentuk karakter anak-anak. FDS sebagai upaya mengantisipasi hal-hal yang cenderung menjebak siswa kepada kegiatan yang tidak produktif. Dengan FDS, anak-anak menghabiskan banyak waktunya di sekolah dengan kegiatan produktif sehingga berkurang kesempatan mereka untuk terlibat pada kegiatan tidak produktif di luar sekolah yang cenderung mengarahkan ke hal negative. (JEN/SR)

iklan bapenda