Pemuda Samawa dan LATS Bahas Konsep Saham Adat

oleh -6 views
bankntb

SUMBAWA BESAR, SR (09/07/2017)

Saham Adat yang digulirkan Pemuda Samawa dalam menyikapi keberadaan investasi pertambangan mendapat respon positif dari Lembaga Adat Tana Samawa (LATS) Kabupaten Sumbawa. Bertempat di Kedai Kopi “Oase Sumbawa” Ketua LATS, Ir. H. Iskandar M.Ec.Dev didampingi sejumlah pengurus di antaranya Syukri Rahmat S.Ag, Muhammad Ikraman S.Pt dan Ir. H. Junaidi M.Si menggelar pertemuan dengan Pemuda Samawa, Sabtu (8/7) malam. Diskusi berlangsung hangat dan tajam namun santai dan penuh nuansa kekeluargaan. Kendati hanya beberapa jam, namun Pemuda Samawa dan LATS sudah memiliki pemahaman yang sama mengenai konsep Krik Salamat Tau ke Tana Samawa yang menjadi visi besar dalam memperoleh saham adat.

amdal

Mengawali pertemuan itu, Inisiator Kegiatan, Muhammad Iqbal Sanggo menjelaskan bahwa kehadiran Pemuda Samawa untuk mempertemukan rasa simpati dan kepercayaan (satemung pamendi ke penyadu) untuk masyarakat dan tanah Samawa (tau ke tana Samawa). Pemuda Samawa ini merupakan elemen yang membantu memikirkan dan mewujudkan oproses pembangunan di Tana Samawa ke arah yang lebih baik. Selain itu Pemuda Samawa ini lahir karena kehendak ingin bersinergi dan berkolaborasinya energy-energi kebaikan yang dimiliki oleh banyak pemuda Samawa dari berbagai latar belakang, profesi dan asal-usul.

Diskusi yang digelar ini ungkap Iqbal, berangkat dari kegelisahan dan kegalauan para pemuda atas keberadaan tambang di Kabupaten Sumbawa. Ada kekhawatiran, bahwa Sumbawa akan bernasib serupa dengan daerah eks tambang lainnya karena tidak mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dari kekayaan tersebut. Setelah kekayaan alam dikeruk, perusahaan tambang akan mewariskan kerusakan, kesengsaraan dan kemiskinan bagi rakyatnya. “Kami tidak menggiring diskusi ini untuk menolak tambang. Kami welcome terhadap investasi. Kami hanya menuntut hak yang menyelamatkan Tau dan Tana Samawa melalui investasi yang memberikan manfaat bagi terciptanya kesejahteraan. Dan saham adat ini menjadi bagian dari alat diplomasi dan upaya membangun posisi tawar Tau Samawa dalam konteks adat,” cetusnya.

Untuk mendapatkan saham adat lanjut Iqbal, ada tiga rencana dan aksi kongkrit Pemuda Samawa. Pertama, terus berjuang mengawal “krik salamat tau ke Tana Samawa” salah satunya dengan cara mendapatkan hak tau Samawa baik dalam bentuk saham adat ataupun skema lain yang menjamin kehidupan tau Samawa ke arah yang lebih baik. Kedua, membangun kultur intelektual melalui kajian dan diskusi rutin, tulisan, serta publikasi dan dokumentasi kritis dan ilmiah dalam rangka mengawal dan membantu proses pembangunan di Tana Samawa. Ketiga, terus melakukan pendampingan serta mendukung secara materi dan non materi terhadap usaha-usaha kreatif dan mandiri yang dilakukan oleh para pemuda Samawa baik dalam bidang pangan, pendidikan, pariwisata dan ekonomi kreatif.

Baca Juga  Data Kemiskinan di KSB Masih Belum Jelas

Ketua LATS Sumbawa, Ir. H. Iskandar menilai upaya Pemuda Samawa merupakan gagasan yang besar karena tujuannya untuk “Krik Salamat Tau ke Tana Samawa”. Namun gagasan dan cita-cita besar tidak harus tuntas dibahas dalam semalam. Ini langkah kecil yang akan menentukan jalan yang panjang bahkan sanggup menapaki bukit yang terjal. LATS melihat tema yang dibahas dalam pertemuan ini adalah masalah tambang dan kemanfaatannya bagi masyarakat. Memang tema tersebut masih umum yang nantinya melalui diskusi panjang dan terus menerus akan mengerucut. “Kami tidak yakin sasaran teman-teman adalah saham adat, hanya kita belum ketemu sasaran akhirnya. Tapi kita dari sekarang sudah harus menetapkan satu titik yang kita bidik untuk mencoba melakukan perjalanan panjang ini. Kita juga memiliki persepsi yang sama terkait dengan investasi dan kita sangat welcome terhadap investasi,” ucapnya.

Dalam mendukung investasi, Haji Ande—sapaan Ketua LATS mengutip lawas Samawa “mana tau barang kayu lamen to sanyaman ate nan si sanak parana” (siapapun dia dan darimana asal-usulnya jika bisa menyenangkan dan membuat hati bahagia itulah saudara kita). Konsep atau filosofi itu sebagai gambaran sikap masyarakat Sumbawa terhadap investasi dan orang lain. “Yang kita rumuskan ini adalah bagaimana investasi itu membuat kita Tau Samawa ‘nyaman ate’ (hati bahagia). Ketika kita sudah menemukan rumusan ‘nyaman ate’ baru kita mencari bagaimana cara mewujudkannya. Pemuda Sumbawa sudah menemukan cara, salah satunya adalah saham adat, tapi ini bukan tujuan. Ini (saham adat) hanya cara pintas sebelum menemukan cara terbaik dan sesungguhnya yang menjadi acuan dalam melakukan gerakan dengan semangat dan visi besarnya tetap pada Krik Salamat Tau ke Tana Samawa,” ujarnya.

Saat ini LATS dan Pemuda Samawa sedang merancang langkah pertama untuk menggali sebuah kemungkinan menuju derap langkah yang lebih gagah di kemudian hari. LATS dan Pemuda Samawa akan tetap mendiskusikan ini dan terus menghasilkan progress yang kongkrit. “Tiga rencana gerakan Pemuda Samawa yang sudah dipaparkan tadi, menjadi satu kesatuan yang saling mendukung. Jangan sampai tiba-tiba saham adat ini lahir tanpa melalui pendekatan yang teknokratik. Semua harus step by step melalui diskusi yang tajam dan analisis serta kajian yang memadai kendati saham adat belum terdefinisi atau belum ada landasan teori yang spesifik,” terangnya.

Baca Juga  Hadiri dan Sukseskan Festival Teba Murin Lenangguar

Untuk konkritnya Haji Ande menyarankan agar menjaring aspirasi dan belajar dari pengalaman Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Perlu dilakukan pendekatan intelektual, teknokratif, dan pendekatan yang lebih ilmiah untuk mencari referensi berdasarkan pengalaman dan persepsi orang–orang di sana. Seperti apa mereka, kemauan mereka ketika tambang sekian lama beroperasi dan apa yang mereka rasakan. Sehingga dapat ditarik kesimpulan apakah kemauan mereka tidak terpenuhi, atau dari sisi mana kemauan mereka terpenuhi. “Jangan sampai perjuangan yang sudah kita lakukan ini sudah pernah diperjuangkan masyarakat KSB yang setelah terwujud pun tidak juga bisa senyaman ate,” tukasnya.

Karena itu penting diskusi berikutnya dapat mengundang masyarakat lingkar tambang di KSB baik yang merasakan menikmatan akibat adanya tambang karena mampu memanfaatkan peluang, maupun orang-orang yang tergilas oleh tambang. Selain itu ada juga dari dalam diri Tau Samawa seperti Suku Berco dan lainnya yang masih mempertanyakan gerakan ini. Untuk itu dibutuhkan rumusan yang lebih spesifik dan terukur agar semua orang bisa paham maksud dan tujuannya. “Kita tidak ingin terjadi saling beradu argumentasi yang begitu liar karena ketidakpersamaan persepsi. Paradigmanya itu yang harus disamakan dulu melalui diskusi-diskusi. Senyaman ate seperti apa yang sesungguhnya kita mau. Ini harus dirumuskan, sehingga orang lain atau investor bisa menterjemahkan kalau ingin senyaman ate Tau Samawa, inilah caranya,” pungkasnya.

Untuk diketahui, diskusi ini berjalan dinamis. Banyak masukan dan saran mengemuka. Tidak hanya dari jajaran LATS, tapi juga masukan tersebut disuarakan akademisi, LSM, pengusaha dan pers. Intinya yang diharapkan dalam pertemuan itu adalah konsistensi dari para peserta diskusi guna melakukan sebuah gerakan dalam mencapai tujuan yang bermuara pada Krik Salamat tau ke Tana Samawa. (JEN/SR)

iklan bapenda