Plus Minus Budaya Nikah Dini (Studi Perspektif di Suku Sasak)

oleh -9 views
Dina Supiani
bankntb
 
Oleh: Dina Supiani, Mahasiswa Semester VI  Pendidikan Ekonomi Fakultas Keguruan dan Ilmu        Pendidikan (FKIP) Universitas Samawa (UNSA) Sumbawa Besar
SUMBAWA BESAR, SR (07/07/20167)
Menurut UU No.1 Tahun 1974 tentang Penikahan atau Perkawinan bahwa pernikahan merupakan sebuah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan untuk membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal yang didasarkan pada Ketuhanan Yang Maha Esa.
Dalam kompilasi hukum Islam No. 1 Tahun 1991 mengartikan pernikahan atau perkawinan adalah akad yang sangat kuat atau miitsaaqa ghaliidhan untuk menaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah. Pernikahan juga bisa diartikan sebagai suatu ikatan yang menghalalkan hubungan antara perempuan dan laki-laki untuk mendapatkan kebahagian dan keturunan. Untuk menjalani sebuah rumah tangga harus ada kesiapan baik kesiapan secara jasmani maupun rohani. Siap secara jasmani ini maksudnya adalah setiap orang yang ingin menjalankan pernikahan harus sehat secara fisik (tidak sakit-sakitan) dan sudah mampu menghasilkan pendapatan untuk memenuhi kebutuhannya serta didukung dengan usia 20 tahun. Sedangkan siap secara rohani adalah kesiapan secara mental untuk menjalankan sebuah pernikahan.
Salah satu persyaratan yang sering menjadi perbincangan masyarakat adalah batas usia dalam menikah. Hal ini sering mengemuka seiring dengan munculnya kasus yang menjadi sorotan publik di berbagai daerah. Permasalahannya adalah berapa batas usia menikah dalam undang-undang di Indonesia ? Tentu untuk menjawab hal tersebut kita harus merujuk kepada perundang-undangan yang berkaitan dengan masalah tersebut.
Menikah Dini
Pernikahan dini merupakan pernikahan di bawah usia yang seharusnya belum siap untuk melakukan pernikahan (Nukman, 2009 ). Menurut Zakiah Daradjat (2004  bahwa pernikahan dini merupakan institusi agung untuk mengikat dua insan lawan jenis yang masih remaja dalam satu ikatan keluarga. Remaja itu sendiri adalah anak yang ada pada masa peralihan antara masa anak-anak ke dewasa, dimana anak-anak mengalami perubahan cepat di segala bidang. Mereka bukan lagi anak, baik bentuk badan, sikap serta bertindak namun bukan pula orang dewasa yang telah matang.
Dapat ditarik kesimpulan bahwa pernikahan dini merupakan suatu ikatan yang dilakukan oleh pria dengan wanita di bawah usia yang seharusnya belum siap untuk melakukan pernikahan baik secara jasmani maupun rohani.
Di dalam Undang-undang No.1  Tahun 1974 tentang Perkawinan bab 2 pasal 7 ayat  1 berbunyi “perkawinan hanya diijinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai 16 tahun”. Jadi sudah jelas  di dalam undang-undang tentang pernikahan bahwa persyaratan ataupun batas usia yang ditentukan bagi pria dan wanita untuk usia menikah dimana usia pria minimal 19 tahun dan usia wanita minimal 16 tahun. Dengan demikian diharapkan dengan menikah di usia yang dikategorikan sudah cukup untuk menikah mampu memberikan kebahagiaan, baik kebahagiaan yang lahiriah maupun batiniah bagi setiap pasangan sehingga terjalin rasa keharmonisan dalam menjalin rumah tangga.
Berbeda dengan kondisi yang terjadi dewasa ini, banyak di antara remaja-remaja khususnya kaum perempuan di Suku Sasak atau Lombok yang melakukan pernikahan di usia yang dikatakan belum cukup umur (14-15 tahun) atau nikah dini. Dimana pernikahan dini yang sebagian besarnya dilakukan oleh kaum perempuan ini sudah banyak merambah di berbagai desa-desa. Di tataran Suku Sasak bahwa pernikahan dini dikenal dengan istilah Merariq Kodeq  ini lumrah sekali sehingga tidak heran kebanyakan  remaja perempuan tidak melanjutkan pendidikan setelah tamat SMP karena banyak yang langsung menikah.
Penyebab Terjadinya Pernikahan Dini
Menurut Soekanto (1992:65) pernikahan di usia muda terjadi karena masalah ekonomi keluarga si gadis. Orang tuanya meminta keluarga laki-laki untuk mengawinkan anak gadisnya, sehingga dalam keluarga gadis akan berkurang satu anggota keluarga  yang jadi tanggungjawab (makanan, pakaian, pendidikan, dan lain sebagainya).
Faktor  penyebab terjadinya pernikahan dini lainnya bisa berasal dari :
1.      Diri sendiri 
Terjadinya pernikahan dini kerena adanya dorongan dari dirinya sendiri untuk menikah di usia dini.
2.      Pergaulan
Pernikahan dini juga bisa terjadi akibat pergaulan yang tidak dibatasi, sehingga pergaulan bebas dapat memberikan dampak negatif terhadap remaja. Dengan demikian tidak sedikit remaja melakukan nikah muda karena kecelakaan (hamil di luar nikah).
3.      Ekonomi
Faktor ekonomi juga menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya pernikahan dini. Karena kondisi ekonomi orang tua yang tidak memadai membuat anak-anak putus sekolah sehingga anak mereka banyak yang menikah di usia dini.
4.      Keluarga
Keluarga merupakan merupakan faktor utama dalam menentukan keberhasilan seorang anak. Kurangnya pengawasan terhadap anak membuat anak terlalu bebas dalam pergaulan sehingga anak mudah terjerumus ke dalam hal-hal yang negatif. Keluarga yang tidak harmonis juga menjadi salah satu  pemicu seorang anak untuk melakukan nikah di usia dini. Karena ketidak-harmonisan tersebut membuat anak tidak nyaman bahkan membuat anak menjadi frustasi.
5.      Budaya
Suku Sasak dikenal dengan remaja yang sering melakukan pernikahan dini/merariq kodeq ini merupakan budaya yang menuntut kaum remaja khususnya perempuan untuk melakukan hal tersebut. Karena dianggap sebagai suatu budaya maka remaja-remaja tersebut ketika usia mencapai 15 tahun (tamat SMP ) mereka akan menikah. Karena melihat teman-teman yang seumuran di daerahnya yang menikah maka mereka ikut menikah karena takut dianggap tidak laku.
Dampak Negatif ( Minus ) Nikah Dini
Melakukan pernikahan dini atau nikah muda memiliki dampak atau pengaruh yang sangat signifikan dalam kehidupan. Ada beberapa dampak dalam melakukan nikah muda yaitu:
1.      Dapat menghambat pendidikan atau cita-cita.
Dengan melakukan pernikahan dini secara otomatis mereka tidak bisa melanjutkan pendidikan dengan demikian cita-cita ataupun keinginan merekapun akan terhambat.
2.      Terjadinya kebodohan dalam masyarakat
Semakin banyak yang menikah di usia dini maka  bisa dikatakan tingkat kebodohan akan semakin meningkat pula karena tidak ditunjang dengan tingkatan pendidikan serta skill atau keahlian yang dimiliki.
3.      Jumlah penduduk yang semakin meningkat
Dengan banyaknya remaja yang menikah di usia dini maka jumlah penduduk di suatu daerah lebih meningkat karena banyaknya produktivitas atau angka kelahiran yang terjadi sehingga tidak mendukung kesejahteraan pembangunan dalam suatu daerah.
4.      Dari segi kesehatan
Menurut ilmu kesehatan bahwa mereka yang melakukan nikah dini memiliki resiko melahirkan lebih besar (20 tahun ke bawah) daripada resiko melahirkan di usia 20-35 tahun. Sehingga tingginya angka kematian ibu yang melahirkan serta rendahnya kesehatan bayi.
5.      Pengangguran dan Kemiskinan
Pengangguran yang dapat menimbulkan kemiskinan akan semakin meningkat apabila nikah dini banyak terjadi di kalangan remaja. Mereka tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang layak karena tidak didukung dengan jenjang pendidikan ataupun skill yang dimiliki.
Pernikahan dini/merariq kodeq ini saya anggap sebagai suatu budaya dalam Suku Sasak karena merariq kodeq ini sudah sejak lama mendarah daging di kalangan Suku Sasak. Bahkan di kalangan masyarakat Suku Sasak tidak sedikit yang melakukan nikah berkali-kali baik kaum perempuan maupun laki-laki bahkan sampai3-5 kali. Ini juga bisa dikatakan suatu budaya yang tidak lain salah satu penyebabnya adalah pernikahan dini tersebut. Melakukan pernikahan berkali-kali ini terjadi karena ketika terjadi suatu konflik dalam rumah tangga mereka, sedikit sekali yang menemukan jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah karena tingkat emosi mereka yang masih labil dalam menjalin pernikahan sehingga jalan keluar yang diambil adalah dengan berpisah atau bercerai.
Dampak positif (Plus) Nikah Dini
Pernikahan di usia dini tidak bisa dibiarkan begitu saja sebab banyak sekali dampak negatif yang akan ditimbulkan di kemudian hari. Selain dampak negatif ada beberapa dampak positif dari nikah di usia muda ini yaitu  terdiri:
1.      Belajar bertanggung jawab
Mereka yang menikah di usia dini akan belajar bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan keluarga
2.      Meringankan beban ekonomi keluarga
Mereka yang menikah di usia dini setidaknya meringankan beban orang tua, apalagi orang tua yang tidak mampu dalam memenuhi kebutuhan keluarga.
3.      Lebih mandiri
Mereka yang melakukan nikah di usia dini belajar untuk lebih mandiri dan tidak bergantung kepada orang tua/keluarga atau orang lain.
Pernikahan dini yang dianggap sebagai budaya di kalangan Suku Sasak ini, saya anggap sebagai budaya penyakit. Kenapa saya anggap sebagai budaya penyakit ? karena maraknya remaja yang melakukan nikah di usia dini akan menambah kebodohan yang terjadi dalam masyarakat bahkan kekerasan juga akan terjadi dalam rumah tangga. Konflik terjadi karena mengingat usia yang belum dewasa dan emosi yang masih labil dalam menjalin pernikahan. Inilah hal yang harus diminimalisir karena saya anggap masalah ini tidak bisa dihilangkan mengingat budaya nikah dini atau merariq kodeqini sudah sejak lama terjadi bahkan sudah  turun temurun di daerah tersebut. Ada pernyataan yang mencengangkan yang dilontarkan oleh remaja perempuan bahwa “ kalau belum menikah di usia 14 atau 15 tahun berarti gak gaul”. bahkan ada yang lebih mencengangkan lagi mereka mengatakan bahwa “kalau belum janda di usia 17 tahun gak gaul”. Mendengar pernyataantersebut membuat saya miris melihat kondisi generasi muda yang memiliki fikiran yang masih sempit karena keadaan lingkungan tersebut. Yang perlu dirubah adalah mindset berfikir seperti itulah yang mesti dihilangkan.
Melalui tulisan ini penulis mengharapkan perlunya peran orang tua dalam mengawasi dan mendidik anaknya sejak usia dini sehingga tidak terjerumus ke dalam  pergaulan bebas yang berdampak terhadap pernikahan dini. Bukan hanya peran orang tua saja yang terpenting tetapi harus ada kesadaran dari diri individu masing-masing serta mengubah mindset berfikir kita bahwa yang namanya pernikahan dini ini memiliki pengaruh yang sangat signifikan sekali dalam kehidupan. Diharapkan juga pemerintah daerah juga mampu meminimalisir hal tersebut dengan menetapkan aturan untuk pernikahan dengan menentukann batas usia yang boleh menikah dan siapa saja yang melanggar aturan tersebut akan di kenakan sanksi. Dengan demikian peristiwa menikah di usia dinipun bisa diminimalisirkan. Kita juga selaku mahasiswa beserta aparat pemerintahan juga harus mensosialisasikan masalah pernikahan dini karena sebagian besar yang melakukan nikah muda ini adalah kaum perempuan sehingga perlunya remaja-remaja perempuan ini mendapat pembinaan terkait hal tersebut. Karena peran perempuan sangat penting dalam tataran pendidikan, ekonomi maupun budaya. Bisa juga dengan melakukan pemberdayaan bagi kaum perempuan yang janda-janda dan masih berusia muda untuk memberikan kreativitas dalam berwirausaha ataupun menciptakan suatu karya agar perempuan tersebut mampu memiliki keahlian/skill yang dapat menjadi nilai tambah dalam suatu masyarakat. (*) 

iklan bapenda
Baca Juga  Anies: Keberadaan Ponpes Adalah Rahmatan Lil ‘Alamin