Sikapi Konflik Pagutan, Kapolda: Pentingnya Saling Menghargai

oleh -11 views
Kapolda NTB, Brigjend Pol Firli M.Si
bankntb

SUMBAWA BESAR, SR (02/07/2017)

Kerukunan umat beragama di NTB nyaris ternoda dengan adanya pertikaian dua kelompok massa dari Lingkungan Asak dan Lingkungan Presak di Jalan Bandasraya Kelurahan Pagutan Kota Mataram, Sabtu (1/7) sore. Dua kelompok yang masing-masing dilengkapi pedang, keris dan tombak saling serang dengan lemparan batu. Aksi ini tidak berlangsung lama, setelah jajaran kepolisian Polres Mataram dan Polda NTB diback-up Brimob dan TNI turun tangan. Kedua kelompok ini dipertemukan dan menghasilkan beberapa kesepakatan.

amdal

Menyikapi konflik Pagutan—sebutan dari peristiwa pertikaian dua kelompok ini, Kapolda NTB, Brigjend. Pol. Firli M.Si yang ditemui SAMAWAREA saat berkunjung ke Kabupaten Sumbawa, Minggu (2/7) menyesalkan kejadian itu. Konflik dua kelompok massa ini tidak akan terjadi jika menjunjung tinggi saling menghargai dan menghormati. “Negara kita didirikan atas kesepakatan, toleransi, dan saling menghormati. Ketika ada satu pihak yang tidak menghormati kesepakatan, pasti akan terjadi benturan dan ketegangan,” kata Kapolda yang didampingi Kapolres Sumbawa, AKBP Yusuf Sutejo SIK MT.

Seperti konflik Pagutan tersebut. Ketika ada kelompok rombongan pengantin dengan diiringi musik, harus melihat situasi dan tempat. Secara etika ketika melewati tempat ibadah, musik tidak dibunyikan karena akan mengganggu orang lain terutama yang sedang beribadah. “Di situlah titik tertinggi dan mendasar terhadap penghormatan HAM. Yang terjadi kemarin di Mataram mereka arak-arakan lewat masjid diminta supaya tidak membunyikan musik justru tidak menerima, sehingga terjadi ketegangan,” ujar Kapolda.

Baca Juga  P4GN Upaya Antisipasi Narkoba

Ada dan tidaknya kesepakatan orang-orang tua terdahulu mengenai larangan membunyikan music ketika melewati masjid saat orang beribadah, harus dikembalikan kepada etika, pantas dan tidaknya. Tidak hanya membunyikan musik, mobil yang melewati tempat ibadah tidak diperkenankan membunyikan klakson. “Lakukan yang pantas saja, yang tidak pantas jangan dilakukan. Intinya saling menghargai dan saling menghormati maka tidak akan ada persoalan,” ucapnya.

Ia selalu mengatakan bahwa suasana kondusif dan tidak terjadinya konflik itu sangat ditentukan oleh para tokoh. Konflik Pagutan bisa selesai karena tokoh masyarakat Hindu dan tokoh masyarakat muslim, turun tangan. Suasanapun kembali kondusif dan diharapkan situasi ini tetap terjaga. Masyarakat diminta tidak terprovokasi atau tidak menjadi provokator.

Seperti diberitakan, konflik Pagutan bermula ketika di Lingkungan Asak Kelurahan Pagutan Barat berlangsung prosesi penjemputan mempelai perempuan ke Pura Pemaksan Pagutan Lingkungan Karang Buaya Kelurahan Pagutan Timur Kecamatan Mataram. Penjemputan itu melalui rute Lingkungan Asak melewati Jalan Banda Seraya, Simpang 4 Pagutan, dan Jalan R.M. Panji Anom. Iring-iringan penjemputan penganten ini disemarakkan dengan musik Gamelan dimana ruas Jalan Banda Seraya konon telah ada kesepakatan orang-orang tua terdahulu antara Hindu dan Sasak bahwa tidak diperkenankan ada bunyi-bunyian atau musik gamelan. Ketika melintas di depan Masjid Pusaka Al-Hamidy Lingkungan Presak Timur Kelurahan Pagutan, iring-iringan penjemputan penganten ini ditegur oleh penghulu Masjid, Habibul Badawi. Namun teguran membuat iring-iringan penganten keberatan. Salah paham inipun ditengahi Polsek Pagutan dengan mempertemukan kedua belah pihak di Polsek. Pertemuan yang dipimpin Kapolsek Pagutan, dihadiri Penghulu Masjid Al-Hamidy Habibul Badawi dan perwakilan warga Lingkungan Asak. Pada pertemuan tersebut pihak Asak menanyakan perihal perjanjian tertulis mengenai larangan adanya bunyi-bunyian di ruas Jalan Banda Seraya. Tapi perjanjian tertulis itu tidak ada karena memang hanya disepakati secara lisan oleh orang-orang tua zaman Anak Agung antara warga sasak muslim dan warga Hindu sebagaimana yang dijelaskan Habibul Badawi. Atas jawaban tersebut pihak Hindu tidak terima dan tetap akan membunyikan Gamelan setiap melewati Jalan Banda Seraya. Pertemuan tersebut tidak menemukan kesepakatan yang akhirnya perwakilan dari kedua belah pihak warga yang bertikai membubarkan diri dan kemudian pulang ke lingkungannya serta mengumpulkan warganya masing-masing. Sehingga warga Asak ke Jalan Bandasraya dengan bersenjata tombak dan keris, sedangkan warga Presak juga keluar bersenjatakan pedang dan tombak, terlibat saling lempar batu. Aksi ini berlangsung selama 15 menit karena dihalau Polsek Pagutan yang kemudian diback-up jajaran Polda dan Polres Mataram. Warga dari kedua belah pihak dapat dikendalikan dan kembali ke rumah masing-masing. Selanjutnya, perwakilan tokoh-tokoh dari kedua belah pihak kembali mengadakan pertemuan di Polsek Pagutan. Kapolres Mataram, Wakil Walikota Mataram, Dandim 1606 Lobar, ketua PHDI NTB, dan Kapolsek Pagutan hadir dalam pertemuan yang menghasilkan sejumlah kesepakatan. (JEN/SR)

 

iklan bapenda