Demi Kemanusiaan, Ayo Jadilah Pendonor Aktif

oleh -0 views
Direktur Unit Doroh Darah (UDD) PMI Sumbawa, dr. Hj. Nieta Ariyani
bankntb

SUMBAWA BESAR, SR (14/06/2017)

Kebutuhan darah semakin tinggi terutama bagi pasien di rumah sakit. Kebutuhan ini tidak sejalan dengan stok darah yang tersedia di Unit Doroh Darah (UDD) PMI Sumbawa. Stok darah yang ada menipis terutama ketersediaan trombosit. Salah satu penyebabnya adalah masih minimnya masyarakat untuk menjadi pendonor aktif. Kondisi ini diakui Direktur Unit Doroh Darah (UDD) PMI Sumbawa, dr. Hj. Nieta Ariyani saat ditemui di sela-sela kegiatan konvoi dan bagi takjil dalam rangka memperingati Hari Donor Darah se-Dunia, Rabu (14/6).

amdal

Terkait kondisi tersebut, pihaknya saat ini tengah mencari pendonor sukarela aktif sebanyak-banyaknya. Sebelumnya pendonor hanya dibatasi sampai umur 60 tahun. Tapi sekarang tidak berbatas usia, asal dia rutin berdonor dan lolos seleksi awal yaitu tidak termasuk berpenyakit. “Pendonor di Sumbawa tidak sampai 60 persen dari jumlah penduduk. Itupun belum kita pilah mana donor aktif dan donor pengganti. Donor pengganti ini hanya mau mendonorkan darahnya saat ada momen setelah itu tidak kembali lagi. Yang kita harapkan pendonor rutin yaitu 2 bulan sekali untuk laki-laki dan 3—4 bulan untuk perempuan,” jelas dr. Nieta.

Diakui dr. Nieta bahwa pihaknya kesulitan untuk ketersediaan trombosit. Apalagi sekarang hampir setiap satu orang membutuhkan trombosit 10 kantong. Sedangkan setiap harinya ada 2—3 orang yang membutuhkannya. “Bayangkan sehari kita sampai 30 kantong trombosit yang harus disiapkan. Tentu ini sulit, belum lagi ada permintaan pada malam hari karena orang enggan donor pada waktu tersebut, kecuali dari keluarga pasien sendiri,” katanya.

Baca Juga  Tidak Ada Lagi Pasien Covid Dirawat di RSMA, Semua Sembuh

Untuk trombosit memang tidak pernah ada stok. Sebab trombosit hanya bisa disimpan tidak lebih dari satu hari. Ada tersedia langsung dipakai. Ini karena tidak ada rumah tempat penyimpanan trombosit. UDD hanya memiliki alat proses trombosit dan raknya. “Kami masih kumpul uang untuk membeli rumahnya yang harganya mencapai Rp 345 juta. Kalau sudah ada rumah, kita bisa simpan trombosit sampai 4 hari,” ungkapnya.

Trombosit (warna kuning) ini berbeda dengan PRC (Packed Red Cell) yang berwarna merah. Untuk stok PRC masih cukup karena bisa disimpan dan bertahan sampai 21 hari dengan syarat tempat penyimpanan harus sesuai dengan suhunya.

Namun demikian ia tetap berharap adanya pendonor aktif. Pihaknya terus mensosialisasikan pentingnya donor darah guna menggugah masyarakat menjadi donor tersebut sebagai gaya hidup. PMI juga melakukan system jemput bola bekerjasama dengan kecamatan-kecamatan. Di samping itu PMI telah menjalin kerjasama dengan rumah sakit dan Dinas Kesehatan mengenai ketersediaan darah ini. Dikes telah menugaskan puskesmas untuk melakukan penggalangan atau seleksi awal donor. “Sudah banyak teman-teman kita yang melakukan penggalangan donor seperti Moyo Hilir. Kalau kita kesana kita akan lihat masing-masing desa sudah punya kantong pendonor. Mereka punya catatan si A kapan bisa berdonor,” katanya.

Upaya ini dilakukan untuk mendukung program Quick Win dari Kementerian Kesehatan RI untuk ibu hamil dalam rangka menurunkan angka kematian ibu karena pendarahan. “Satu ibu hamil harus menyediakan 4 calon pendonor potensial. Empat calon inilah yang dilakukan seleksi awal donor oleh bidan desa. Ketika ibu hamil melahirkan, pendonor ini bisa langsung datang ke tempat persalinan ibu melahirkan ini atau kita dari PMI jemput bola. Tujuan utamanya untuk menambah jumlah pendonor potensial dan aktif,” demikian dr. Nieta. (JEN/SR)

 

iklan bapenda