Benarkah Aparatur Sumbawa Gila ? Ini Tanggapan Sekda

oleh -2 views
Sekda Sumbawa, Drs. H. Rasyidi saat diwawancarai wartawan, Selasa (13/06/2017)
bankntb

SUMBAWA BESAR, SR (13/06/2017)

Postingan akun bernama Ardian Jose Samsa di media sosial (Facebook) pada 9 Juni lalu hingga kini masih menjadi pembicaraan hangat. Dari postingan yang dilansir sekitar pukul 17.32 Wita ini memantik beragam komentar dari para netizen. Ada yang geli, lucu, salut, bahkan emosional. Seketika postingan yang berisi kritikan terhadap kinerja aparatur pemerintahan Husni—Mo tersebut menjadi viral. Postingan ini tertulis “Dibutuhkan Tenaga Psikiater di lingkungan Pemkab Sumbawa, guna mendeteksi kondisi kejiwaan para birokrat, pejabat dan PNS yang telah mendapat promosi jabatan. Apakah masih waras atau sudah Gila setelah mendapatkan posisi jabatan baru ?. Jika Masih waras, pasti berdampak dengan hasil kinerja sesuai tupoksi. namun Jika Gila, jabatan diduduki tidak menghasilkan kinerja apapun”.

amdal

Postingan ini menjadi sangat menarik karena ada komentar salah satu netizen yang diketahui seorang aparatur sipil negara dan notabene seorang pejabat di salah satu instansi pemerintah. Adalah Pincun Nurhinsyah dalam komentarnya mengharapkan agar yang memberi jabatan perlu ditest karena kemungkinan juga gila. “Termasuk yang memberi jabatan perlu ditest kikikik nakena SAMA GILA” cuit Pincun. Namun komentar ini langsung ditanggapi netizen lainnya yang menilai postingan itu sama dengan mengatakan Bupati dan Wakil Bupati gila. “Saya tidak tertarik dengan status Ardian Jose Samsa tapi saya geli melihat komen pak Pincun Nurhinsyah yg mengatakan pemberi jabatan juga. gila…. Wah…wah…bukankah yg memberi jabatan adalah Bupati dan Wakil Bupati yg nota bene adalah atasan bapak juga, kok bisa ya bapak mengatakan GILA….” balas Ridwan Amor.

Baca Juga  JIWA Siap Kalah, Jika Menang Banyak yang Menangis

Sekda Sumbawa, Drs. H. Rasyidi yang dimintai tanggapan di ruang kerjanya, Selasa (13/6), menilai postingan Ardian Jose Samsa itu hanya candaan, tidak serius dan permainan kata-kata. Seorang aparatur sipil negara (ASN) jika dikatakan gila atau ditemukan ada yang gila maka ada proses pemberhentian. Sebab tidak mungkin seorang ASN itu adalah orang yang tidak waras. Jika dinilai secara positif, ungkap Sekda, postingan itu ingin membangkitkan semangat aparatur agar benar-benar bertanggungjawab terhadap amanah yang dipercayakan kepadanya. “Jangan sampai karena belum mampu memberikan kepuasan dengan kinerja yang ada, orang menganggap kita gila beneran. Kita rasional saja bahwa kita mampu dan cerdas untuk itu sehingga nanti kita akan coba buktikan dengan kinerja yang diharapkan,” tukas Sekda.

Jika postingan itu serius, Sekda menantang untuk berhadap-hadapan guna membuktikan siapa yang sebenarnya gila. “Mau gak orang yang disebut gila itu dikatakan gila. Jika tidak mau tentu akan ada proses lebih lanjut terkait dengan tudingan itu,” ujarnya.

Di bagian lain, Sekda tidak setuju dengan adanya ASN yang ikut-ikutan menuding aparatur gila, apalagi mengesankan yang memberikan jabatan juga ikut gila. Ini diibaratkan menepuk air di dulang terpecik muka sendiri. “Kalau memang pegawai yang ngomong begitu, termasuk dirinya sendiri juga dikatakan gila. Kalau memang dia waras jangan lagi berkata seperti itu kepada kita dan rekan-rekannya sendiri. Saya rasa masih banyak kata-kata lain yang lebih pantas dan sopan santun. Apalagi ini bulan puasa, kita ingin beramal memberikan kebahagiaan sebanyak-banyaknya agar kita memperoleh pahala,” pungkasnya. (JEN/SR)

 

Baca Juga  Dukung Sumbawa Smart City, UTS Serahkan 7 Rancang Bangun Aplikasi e-Government

 

iklan bapenda