UNSA Rubah Sampah Jadi Bernilai Ekonomis Tinggi

oleh -10 views
bankntb

SUMBAWA BESAR, SR (10/06/2017)

Sampah selalu menjadi persoalan di masyarakat. Selain menimbulkan kesan kumuh karena dibuang semmbarangan, sampah juga menjadi sumber penyakit. Namun Universitas Samawa (UNSA) menemukan solusinya. Melalui Program Iptek Bagi Mayarakat (IBM), UNSA merubah sampah menjadi barang yang bernilai ekonomi tinggi yang mampu menopang kehidupan rumah tangga. Program tersebut merupakan salah satu bentuk pengabdian dosen UNSA untuk Tana Samawa. Untuk pelaksanaannya mereka memilih Desa Penyaring Kecamatan Moyo Utara, dan melibatkan 30 ibu rumah tangga. Kegiatan tersebut merupakan tindaklanjut dan realisasi atas keberhasilan tim pengusul meyakinkan reviewer sehingga Kemeristekdikti mendanai kegiatan tersebut. Mengangkat judul “Pengolahan Sampah Skala Rumah Tangga” proposal IBM yang disusun oleh Tim Pengusul terdiri dari Dwi Mardhia ST, M.Sc sebagai ketua dan Alia Wartiningsih, S.P, M.Si sebagai anggota mampu menunjukkan bahwa SDM yang dimiliki UNSA mampu bersaing dengan dosen universitas lain di Indonesia.

Kegiatan IBM ini didasari kepedulian tim pengusul terhadap permasalahan sampah yang terjadi di Kabupaten Sumbawa khususnya di Desa Penyaring. Masyarakat Desa Penyaring termasuk masyarakat yang belum terlayani pelayanan sampah oleh Dinas Lingkungan Hidup sehingga muncul TPA ilegal di area permukiman yang akan berpengaruh terhadap merosotnya kualitas lingkungan. Dalam menangani sampah di Desa Penyaring masih menerapkan pola “buang dan bakar”. Sementara sesuai amanat UU Persampahan bahwa kegiatan penanganan sampah dengan cara membakar secara langsung dilarang karena akan berpengaruh terhadap kualitas udara dan secara luas akan berkontribusi pada global warming. Di samping itu masyarakat masih memandang sampah sebagai barang buangan yang tidak bernilai ekonomis, padahal sampah memiliki potensi ekonomi yang tinggi. Di Penyaring terdapat Bank Sampah Samawa (BSS) yang berdiri, Maret 2015 lalu. Keberadaan BSS diharapkan mampu menjadi salah satu solusi permasalahan pelayanan sampah di Kabupaten Sumbawa. BSS melayani penyerahan sampah yang dapat diuangkan secara langsung oleh nasabahnya dengan mengacu kepada standar harga sampah BSS atau melalui program tabungan. BSS menyediakan beberapa jenis tabungan bagi nasabahnya berupa tabungan reguler, tabungan hari raya, tabungan pendidikan dan tabungan sosial, yang semuanya dibayar dengan sampah. Melihat adanya potensi dan permasalahan tersebut maka tim pengusul mengadakan program IBM ini sebagai upaya penanganan permasalahan sampah melalui kegiatan penyuluhan, pelatihan dan pendampingan pengolahan sampah skala rumah tangga. Pengolahan sampah skala rumah tangga yang  diperkenalkan kepada masyarakat Desa Penyaring adalah kegiatan pemilahan sampah dan pembuatan kompos menggunakan metode takakura. Output dari kegiatan pemilahan sampah adalah masyarakat Desa Penyaring didorong untuk menjadi nasabah BSS. Melalui kegiatan ini juga dilakukan pembagian keranjang takakura sebanyak 30 unit.

Baca Juga  Saat Bandara Ngurah Rai Ditutup, Ini Kebijakan Lion Air Group

Ketua Tim Pengusul, Dwi Mardhia kepada SAMAWAREA, Sabtu (10/6) berharap kegiatan IBM ini akan mampu mewujudkan masyarakat Desa Penyaring yang mandiri dan terampil dalam memilah sampah dan mengolah sampah dapur menjadi kompos dengan metode takakura. Dalam pelaksanaan kegiatan IBM ini juga melibatkan 5 mahasiswa untuk meningkatkan keterampilan dan pengalaman mereka.

Sementara Alia Wartiningsih sebagai Anggota Pengusul memberikan pengetahuan lanjutan kepada peserta tentang pemanfaatan kompos sebagai penyubur tanaman holtikultura di pekarangan untuk mencukupi kebutuhan pangan dan memenuhi gizi keluarga. IBM ini diawali dengan kegiatan penyuluhan dengan penyampaian materi oleh 3 narasumber yaitu Lina sebagai perwakilan BSS dan dua narasumber dari Tim Pengusul IBM. Lina memperkenalkan profil BSS kepada masyarakat. Dari perkenalan ini BSS langsung mendapatkan 30 orang nasabah dan diharapkan akan semakin bertambah dan meluas ke wilayah lain di Kota Sumbawa. Kegiatan penyuluhan ini dilanjutkan dengan pelatihan tentang pengolahan sampah dapur menjadi kompos menggunakan metode takakura. Meliputi praktek pembuatan starter mikroorganisme, pembuatan bibit kompos dan praktek penggunaan keranjang takakura.

Sekdes Penyaring memberikan apresiasi luar biasa atas terlaksananya kegiatan IBM ini. Pasalnya kegiatan tersebut sangat pas dengan permasalahan masyarakat di desanya. Ia berharap melalui kegiatan ini dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya penanganan sampah yang tepat dan mampu meningkatkan keterampilan ibu-ibu rumah tangga dalam memilah sampah dan mengolahnya menjadi barang yang bernilai. (JEN/SR)

iklan bapenda