Permintaan Kenaikan Harga Daging di KSB Dinilai Wajar

oleh -0 views
Kabid Peternakan DPPP KSB, Kusmirin
bankntb

KERJASAMA SAMAWAREA DENGAN DINAS KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA KSB

SUMBAWA BARAT, SR (31/05/2017)

Dinas Pertanian Perkebunan dan Peternakan (DPPP) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) menilai wajar permintaan para pelaku usaha daging untuk menaikkan harga daging Rp 5.000 mengingat harga beli sapi semakin meningkat. “Wajar permintaan kenaikan harga daging dari Rp 100 ribu per kilogram menjadi Rp 105 ribu, karena sirkulasi jual beli ternak di KSB yang semakin meningkat,” kata Kabid Peternakan DPPP, Kusmirin saat ditemui SAMAWAREA, Rabu (31/5).

Menurut Kusmirin, harga jual ternak dari peternak sapi di KSB yang selalu naik dan tidak pernah turun membuat para pengusaha daging semakin kesulitan untuk mengatur harga jual daging di pasaran. Tidak jarang dari para pengusaha daging mencari ternak hingga ke luar daerah yang harganya cukup terjangkau untuk bisa disesuaikan dengan harga pasaran di KSB. “Itulah sebabnya mengapa harga daging di KSB tidak pernah turun kalau sudah naik, karena harga ternak dari petani juga tidak pernah turun. Dengan semakin sulit dan tingginya harga ternak saya kira wajar apabila harga daging di KSB dinaikan Rp 5000,” ujar Kusmirin.

Disinggung mengenai stok daging, Kusmirin meyakini dapat memenuhi kebutuhan masyarakat KSB sehingga tidak perlu dikhawatirkan. Pasalnya, 95 persen pembeli daging di Pasar Tana Mira KSB berasal dari perjual pentolan dan bakso. Sementara penjual pentolan dan bakso ini sebagian besar dari luar KSB yang akan mudik sehingga jumlah pembeli semakin sedikit, dan stok daging di KSB aman.

Baca Juga  Diskominfo KSB akan Wujudkan Program Smart Desa

Zul—penjual pentolan asal Mamben Lombok Timur mengaku setiap hari membutuhkan 4 kilogram daging. Seperti biasa dua minggu menjelang Idul Fitri, dia mudik. Mengenai kenaikan harga daging menjelang hari besar, Zul menilai sangat wajar dan sangat memakluminya. Hanya yang membuat aneh ketika terjadi kenaikan harga daging tidak pernah turun kembali. “Kami merasa kesulitan untuk menyesuaikannya setiap tahun, karena pelanggan kami tidak mau tahu masalah harga daging. Yang mereka tahu hanya kualitas rasa pentol kami,” tukasnya. (HEN/SR)

 

iklan bapenda