Inovasi Bioteknologi : Atasi Kegagalan Pascapanen dengan Rekayasa Genetik

oleh -37 views
Faqih Abdul Aziz mahasiswa bioteknologi UTS.
bankntb

Oleh: Faqih Abdul Aziz (Mahasiswa Bioteknologi UTS)

SUMBAWA BESAR, SR (01/06/2017)

amdal

Indonesia merupakan salah satu negara yang dikenal sebagai negara agraris di dunia sampai saat ini. Hal itu dikarenakan potensi dari hasil bercocok tanam di Indonesia mampu terbilang cukup bagus dikarenakan memiliki beberapa faktor pendukung yang menguntungkan bagi para petani di Indonesia. Hasil panen dari setiap bercocok tanam pun mendominasi kebutuhan permintaan pasar yang diharapkan konsumen. Namun di sisi lain, kelebihan yang diperoleh para petani pada hasil panen dari bercocok tanam ternyata memiliki permasalahan yang sangat merugikan. Hal itu berasal dari kenyataan bahwa indeks kerugian dari proses pasca panen hasil bercocok tanam pun ternyata cukup tinggi untuk di wilayah negara berkembang. Menurut survei yang dikembangkan selama beberapa tahun terakhir menyatakan bahwa di negara maju indeks kerugian dari pasca panen mencapai 5-25% dan untuk di negara berkembang mampu mencapai 50% bahkan ada pada beberapa kasus yang disimpulkan terjadinya kerugian hingga 100%.

Dari kenyataan yang dipaparkan di atas, kerugian yang diderita oleh para petani akibat pascapanen akan berpotensi pada kesejahteraan penduduk Indonesia yang notabenenya merupakan penduduk yang bergantung pada bercocok tanam, serta mengganggu stabilitas negara sebagai salah satu potensi agraris dunia. Persoalan tersebut akhirnya menghantarkan Indonesia untuk mendalami berbagai kasus tersebut melalui disiplin ilmu Bioteknologi khususnya pada bidang rekayasa genetik. Rekayasa genetika merupakan suatu terobosan yang sangat potensial sebagai komponen teknologi untuk pemuliaan tanaman. Adapun keuntungan dari rekayasa genetika itu sendiri adalah dapat menghilangkan barrier antar spesies sehingga transgen dapat berasal dari spesies atau kingdom yang berbeda. Serta dalam banyak kasus, produk bioteknologi adalah produk akhir yang tidak memerlukan teknologi lain untuk mendukungnya.

Baca Juga  Buka Posko, PWI Sumbawa Distribusi Bantuan Korban Gempa

Pada kasus akibat kegagalan pascapanen tersebut, ada beberapa penanganan yang dibutuhkan melalui teknologi rekayasa genetika tersebut antara lain penundaan pelunakan buah, penghambatan biosintesis etilen dan pengubahan sensitifitas dari jaringan terhadap etilen. Pada penundaan pelunakan buah merupakan aplikasi yang diharapkan untuk mencegah komoditi hasil dari bercocok tanam cepat melunak dan tetap dalam keadaan keras. Salah satu penggunaan di dalam rekayasa genetiknya ialah menghambat dari aktifitas gen pengkode enzim poligalakturonase yang mengkatalisis pada hidrolisis rantai asam poligalkturonat pada dinding sel. Penggunaan teknik antisense telah dipercaya mampu menghambat dari kinerja aktifitas gen pengkode enzim poligalakturonase sehingga mampu menghambat proses pelunakan buah.

Namun ternyata belakangan telah diketahui bahwa setiap tumbuhan memiliki karakteristik tersendiri pada proses pelunakan buah melalui enzim-enzimnya sendiri. Sehingga penggunaan metode antisense ternyata belum mampu dalam mengontrol aktifitas gen pengkode enzim yang lain dalam proses pelunakan buah. Akhirnya dari analisis tersebut peneliti mampu mengdiagnosa terjadi aktifitas dari hormon zat pengatur tumbuh yang diketahui yaitu berupa gas etilen. Etilen merupakan zat yang secara alami berperan dalam fisiologi pascapanen dan zat tersebut terkadang memberikan sifat yang menguntungkan ataupun merugikan. Beberapa metode dalam pengontrolan biosintesis etilen sehingga aktifitas etilen mampu diturunkan antara lain dengan mengnonaktifkan gen pengkode ACC sintase, mengnonaktifkan gen pengkode ACC oksidase, metabolisme ACC sebelum menjadi etilen, dan metabolisme SAM menjadi produk lain. Dari proses tersebut pada akhirnya akan diubah pada sensitifitas jaringan terhadap etilen sehingga mampu menghambat persepsi terhadap etilen. Aplikasinya ialah dengan mengekpresikan gen-gen yang menyebabkan jaringan tertentu tidak sensitif terhadap etilen. Sehingga dari berbagai proses yang diketahui bahwasanya mekanisme di dalam penggunaan teknologi rekayasa genetika mampu membantu dalam menyelesaikan kerugian yang salah satunya disebabkan oleh sifat molekular makhluk itu sendiri ataupun dari yang lain. (*)

Baca Juga  Tol Trans Jawa Ambrol, BPN Prabowo Sandi: Pemerintah Berprestasi Bangun Tol Krupuk

 

iklan bapenda