Pohon Kelor Rekombinan: Sumbawa Sehat Bebas Diabetes

oleh -5 views
Tiara Dwi Yunindasari
bankntb

Oleh: Tiara Dwi Yunindasari, Mahasiswa Fakultas Teknobiologi Universitas Teknologi Sumbawa

SUMBAWA BESAR, SR (23/05/2017)

Diabetes mellitus (DM) merupakan suatu penyakit metabolik multisistem dengan ciri hiperglikemia akibat kelainan sekresi insulin, resistensi insulin, atau kedua-duanya. Terdapat dua tipe diabetes mellitus yaitu DM tipe 1 dan DM tipe 2. Pravelensi DM tipe 2 terus meningkat. Pada tahun 2020, jumlah penderita DM tipe 2 diperkirakan akan mencapai 250 juta orang di seluruh dunia, 95% dari penderita DM merupakan penderita DM tipe 2. DM tipe 2 dicirikan dengan adanya resistensi insulin.

Resistensi insulin berperan penting dalam  pathogenesis DM tipe 2. Manifestasi klinis dari resistensi insulin, intoleransi glukosa dan hiperinsulinemia  adalah konsekuensi dari ketidakmampuan insulin untuk merangsang penyerapan glukosa dalam jaringan target insulin, seperti otot dan lemak. Resistensi insulin pada penderita DM tipe 2 disebabkan oleh meningkatnya oksidasi lemak yang disebabkan oleh radikal bebas ROS (Reactive Oxygen Species). ROS dapat diuraikan dengan adanya antioksidan SOD (Superoksida Dismutase). SOD diproduksi oleh tubuh akan tetapi dalam jumlah yang sedikit sehingga diperlukan asupan SOD eksogen terutama dari bahan-bahan yang mudah ditemukan. Alternatif solusi yang dapat diberikan adalah pohon kelor rekombinan yang mengandung gen penyandi enzim SOD. Kelor atau moringa oleifera merupakan pohon yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Sumbawa khususnya daun dan buahnya, sehingga sangat berpotensi untuk dijadikan tanaman rekombinan.

Baca Juga  Sekolah di Sekongkang dan Poto Tano Terapkan Belajar Tatap Muka

Kelor (moringa oleifera) rekombinan diproduksi pada dua host yaitu host cloning dan host ekspresi. Host cloning menggunakan E.coly dan host ekspresi menggunakan tanaman kelor. Transformasi genetik kentang dilakukan dengan metode ko-kultivasi dengan menggunakan  A.tumefaciens. Gen SOD yang ditranformasi ke dalam tanaman kelor diisolasi dari tanaman Citrus maxima atau jeruk Bali dan diekspresikan di bawah kendali promotor 35S CaMV dan terminator Nos sehingga produk yang dihasilkan lebih banyak. Tanaman rekombinan tidak memiliki persentase keberhasilan yang tinggi sehingga setelah proses tranformasi diperlukan pengujian apakah gen yang kita transfer berhasil disisipkan atau tidak. Ada dua cara yang dapat dilakukan yaitu dengan menumbuhkan eksplan dari kelor di media selektif yang mengandung antibiotik ataupun pengujian secara molekuler dengan menggunakan PCR dengan primer spesifik.

Perbanyakan kelor yang mengandung gen pengkode enzim superoksida dismutase (SOD) diperbanyak dengan teknik kultur jaringan agar mendapatkan anakan dengan sifat yang sama dengan induknya yaitu mengandung gen penyandi enzim superoksida dismutase (SOD). Enzim SOD bekerja dengan menguraikan radikal bebas ROS menjadi H2O dan O2 yang bermanfaat untuk tubuh. Kadar SOD yang tinggi akan menurunkan kadar radikal bebas di dalam tubuh sehingga oksidasi lemak menurun dan angka resistensi insulin dapat menurun karena tidak adanya kompetisi substrat antara glukosa dan lemak. Bibit yang diperoleh dari hasil kultur jaringan dapat ditanam di rumah-rumah warga di Sumbawa sehingga masyarakat Sumbawa dapat mengkonsumsi dengan mudah kelor yang memiliki kandungan enzim SOD yang tinggi sehingga dapat dijadikan altenatif pengobatan penyakit diabetes mellitus tipe 2. Kedepannya dengan adanya pohon kelor rekombinan dapat menjadikan Sumbawa Sehat Bebas Diabetes Mellitus. (*)

Baca Juga  Naskah UN SMA/MA/SMK Tiba 12 April

 

 

iklan bapenda