Penggunaan Gen Pemrogram Racun Ekor Kalajengking Kurangi Hama & Tingkatkan Produktivitas Kol

oleh -37 views
Okto Abriansyah
bankntb

Oleh : Okto Abriansyah (Mahasiswa Fakultas Teknobiologi Universitas Teknologi Sumbawa)

SUMBAWA BESAR, SR (17/05/2017)

Sayuran merupakan salah satu komponen dari menu makanan yang sehat, maka tidak heran bila kebutuhan sayuran ini semakin meningkat sejalan dengan kesadaran masyarakat tentang kesehatan. Di antara bermacam-macam jenis sayuran yang dapat dibudidayakan, tanaman  kol merupakan salah satu komoditas sayuran yang memiliki nilai komersial dan prospek yang tinggi.

Kol atau kubis ini merupakan tanaman sayur family Brassicaceae berupa tumbuhan berbatang lunak yang dikenal sejak jaman purbakala (2500-2000 SM) dan merupakan tanaman yang dipuja dan dimuliakan masyarakat Yunani Kuno. Kol atau kubis ini dengan nama latin (Brassica Oleracea Var Capitata) pada mulanya merupakan tumbuhan liar di daerah subtropik. Tanaman ini berasal dari daerah Eropa yang ditemukan pertama di Cyprus, Italia dan Mediteranian. Tanaman kol termasuk golongan tanaman sayur semusim atau umur pendek. Tanaman kol hanya dapat diproduksi satu kali setelah itu akan mati. Pemanenan kol dilakukan pada saat umur kol mencapai 60-70 hari setelah tanam.

Tanaman kol ini kerap sekali mendapat serangan hama ulat. Hama ulat pada tanaman kol ada berbagai jenis. Salah satunya adalah ulat daun (cp xylostella), yaitu jenis ulat yang memakan daun pada tanaman dan mengakibatkan daun berlubang kecil-kecil hingga tulang daun saja. Selain ulat daun, hama lainnya adalah ulat krop (c. binotalis). Ulat ini akan merusak kol yang sedang membentuk krop, sehingga daun kol berlubang-lubang. Kerusakan ringan pada tanaman kol ini dapat menurunkan kualitasnya sedangkan kerusakan berat dapat menyebabkan tanaman kol tidak dapat dipanen.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut sekarang ini sudah banyak berkembang teknologi rekombinan DNA yang telah membuka peluang kita untuk merakit tanaman yang tahan atau resisten terhadap hama melalui rekayasa genetika. Untuk mencegah ulat hama sekaligus mengurangi penggunaan pestisida pada tanaman kol ini, kita dapat merekayasanya dengan cara mengambil gen yang bertugas memprogram racun pada ekor kalajengking kemudian dimasukkan atau disisipkan ke dalam  tanaman kol. Kol yang dimodifikasi secara genetik ini akan memproduksi racun kalajengking yang bisa membunuh hama ulat ketika ulat-ulat tersebut menggigit daunnya namun racun tersebut telah dimodifikasi sehingga tidak membahayakan manusia.

Baca Juga  Kepala SMKN 1 Tarano Pecat 6 GTT

Penyisipan gen pada suatu tanaman membutuhkan proses yang sulit dan panjang. Untuk menyisipkan sebuah gen pada sel tumbuhan, kita membutuhkan vektor tertentu. Vektor adalah organisme yang berfungsi sebagai kendaraan pembawa materi genetik yang akan disisipkan. Sel tumbuhan tidak memiliki plasmid seperti bakteri sehingga pilihan vektor yang berpotensi untuk memasukkan gen ke dalam sel tanaman juga terbatas. Sejauh ini, vektor terbaik untuk menyisipkan gen pada tanaman adalah Agrobacterium tumefaciens. Hal ini karena bakteri tersebut memiliki Ti-plasmid (Tumor Inducing Plasmid) yang dapat berintegrasi ke dalam DNA tumbuhan.

Langkah pertama yang dilakukan untuk menyisipkan genyang bertugas memprogram racun pada ekor kalajengking ke sel tanaman kol yaitu, Ti-Plasmid yang terdapat pada bakteri Agrobacterium dikeluarkan dari sel bakteri Agrobacterium kemudian dipotong dengan menggunakan enzim endonuklease restriksi. Kemudian yang kedua, Isolasi DNA pengkode protein (gen) penghasil racun pada ekor kalajengking. Ketiga, sisipkan gen penghasil racun tersebut pada plasmid dan rekatkan dengan enzim DNA ligase. Keempat, masukkan kembali plasmid yang sudah disisipi gen penghasil racun ke dalam bakteri Agrobacterium.Plasmid yang sudah tersisipi gen penghasil racun tersebut akan terduplikasi pada bakteri Agrobacterium.Selanjutnya, bakteri akan masuk ke dalam sel tanaman kol dan mentransfer gen.Kemudian, sel tanaman kol akan membelah. Tiap-tiap sel anak akan memperoleh gen baru dalam kromosom dari sel tanaman kol dan membentuk sifat atau karakteristik yang baru (yang sesuai dengan gen yang disisipkan).

Baca Juga  Polres Badung Ajak Pelajar Biasakan Hidup Tertib dan Patuh Aturan

Sementara itu proses transformasi gen pada plasmid ke sel tanaman dan proses perbanyakan (multiplikasi) sel-sel tanaman yaitu, bakteri yang telah terintegrasi dengan Ti-plasmid akan dimasukkan ke dalam potongan kecil dari sel tanaman/eksplan (misalnya potongan kecil dari daun kol). Metode untuk memasukkan DNA plasmid yang terdapat pada sel bakteri ke dalam sel tanaman ini disebut dengan transformasi. Di sini, gen penghasil racun yang sudah bergabung pada Ti-Plasmid akan tersisip pada kromosom tanaman kol.Selanjutnya, eksplan yang sudah memiliki gen penghasil racun tersebut akan dikulturkan atau dibiakkan secara in vitro (di luar tubuh tanaman, misalnya pada cawan petri). Eksplan dari tanaman kol akan tumbuh menjadi kalus (kumpulan sel) yang dapat diinduksi untuk membentuk batang dan akar. Kalus ini akan tumbuh menjadi plantlet (tanaman kecil). Plantlet kemudian akan tumbuh menjadi individu tanaman transgenik yang bisa ditanam di tanah.

Keberadaan kol transgenic (Kol Beracun) ini diharapkan dapat membantu pemerintah dalam menyediakan sumber pangan bagi warga yang pertumbuhannya kian hari semakin meningkat. Kol ini juga dapat membunuh ulat yang hendak menggangu dan mengurangi penggunaan pestisida. Selain itu juga tanaman kol ini tidak akan membahayakan bagi manusia yang mengkonsumsinya. (*)

 

 

 

 

iklan bapenda