OPINI: Pendidikan Gagal Fokus

oleh -7 views
bankntb

Oleh:  Novi Dewi Sartika (Alumni Pascasarjana Institut Pertanian Bogor)

SUMBAWA BARAT, SR (17/05/2017)

amdal

”Gagal fokus” merupakan kata yang tepat bagi sistem pendidikan di Indonesia. Jika kita menoleh ke belakang, Indonesia telah 11 kali mengganti kurikulum pendidikan yang diberlakukan. Ada beberapa kurikulum yang terbilang sangat singkat diterapkan, yaitu Kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (1 tahun), Kurikulum Berbasis Kompetensi (2 tahun), dan Kurikulum 1994 (3 tahun). Pemberlakuan kurikulum yang singkat ini sangat mengusik dan menggalaukan para guru maupun peserta didik. Belum tuntasnya kurikulum yang lama, ternyata diganti lagi dengan kurikulum yang baru.

Kestresan dan kegalauan peserta didik sangat terasa ketika diberlakukannya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) pada tahun 2004. Kok bisa stress dan galau, ya? Ternyata, pada saat diberlakukannya kurikulum ini, sistem komputerisasi mulai diterapkan. Sungguh, tekanan mental mengaduk-aduk batin para siswa kala itu, di benaknya ada rasa takut yang mendalam ketika kelulusan tak ada digenggaman.

Pada era pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu II, kurikulum pendidikan diganti lagi dengan kurikulum 2013 (hingga saat ini). Menurut Mohammad Nuh mantan Menteri Pendidikan Republik Indonesia pada era tersebut menyatakan, bahwa kurikulum 2013 telah memenuhi tiga komponen utama pendidikan, yaitu pengetahuan, keterampilan dan sikap (trinbunnews, 19/04/2013). Beliau juga menambahkan bahwa kurikulum ini lebih menekankan pada penguatan karakter.

Mungkin terbesit pertanyaan dibenak kita, penguatan pendidikan karakter itu apa sich? Ternyata Pendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai karakter pada diri peserta didik sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat dan warganegara yang religius, nasionalis, produktif, dan kreatif (Pusat Kurikulum, 2010). Sedangkan menurut Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, penguatan pendidikan karakter dapat terwujud melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan dukungan pelibatan publik dan kerjasama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat yang merupakan bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM).

Pendidikan karakter memiliki tujuan, yaitu: 1) mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai manusia dan warganegara yang memiliki nilai-nilai karakter bangsa; 2) mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal serta tradisi budaya bangsa yang religius; 3) menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa; 4) mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan; dan 5) mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan (Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 2010).

Baca Juga  Mendikbud Tegaskan “Full Day School” Tetap Dilaksanakan

Pertanyaannya, apakah tujuan dari pendidikan karakter tersebut sudah terwujud? Alih-alih terwujud, yang ada malah pola sikap peserta didik yang kurang sopan dan semakin tidak terkontrol. Tawuran antar pelajar terjadi di mana-mana, mabok-mabokan, senang narkotika, dan hobi begadang serta kebut-kebutan mengendarai motor di jalan raya. Belum lagi tingkah lakunya yang sering melawan guru di sekolah, mencontek, membolos sekolah, berjudi baik online maupun offline.

Baru-baru ini tawuran antar SMA terjadi di Ciputat, Tangerang selatan. Ada sekelompok siswa SMA tiba-tiba berhamburan mengayunkan berbagai jenis senjata tajam kepada lawannya. Aksi saling lempar batu sempat berlangsung, untungnya tidak ada korban yang berjatuhan (metro.sindonews.com 07/04/2017). Ada juga tawuran yang terjadi di Bekasi yang melibatkan siswa SMK dan SMP yang menewaskan 2 orang korban (sindonews.com 11/03/2017), dan yang lebih mencengangkan, tawuran di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) yang dilakukan oleh dua geng motor karena salah paham, dan kejadian ini mampu melumpuhkan arus lalu lintas menuju kawasan perkantoran dan sekitarnya (iNews TV 11/03/2017).

Belum lagi pelecehan seksual yang dilakukan oleh para guru kepada siswanya, demam challenge di kalangan para remaja yang saat ini sangat viral bak jamur yang muncul di musim penghujan. Pembunuhan pun terjadi di kalangan pelajar dan para pendidik, aksi bunuh diri dipraktikan oleh seorang siswi SMA di Sumbawa karena diputusin pacarnya akibat sistem pendidikan yang gagal.

Inilah realitas yang sungguh merobek hati dan meluluh lantakan jiwa mengingat generasi merupakan ujung tombak pembawa perubahan di masa akan datang. Sebagai warga negara, pernahkah kita berfikir, apakah yang mengakibatkan sistem pendidikan menjadi rusak di negeri ini?

Sekulerisme Perusak Sistem Pendidikan

Sekulerisme merupakan sebuah aqidah yang memisahkan agama dari kehidupan. Sekulerisme secara komprehensif diadopsi oleh Barat dan disebar luaskan di negeri-negeri kaum muslimin, termasuk Indonesia. Sekulerisasi yang mengusung nilai-nilai kebebasan menutup mata kita akan problematika yang terjadi di tengah-tengah masyarakat saat ini, tidak terkecuali pada sistem pendidikan. Pergantian kurikulum merupakan metode untuk merealisasikan paham-paham sekuler dengan mencabut sedikit demi sedikit pendidikan agama pada kurikulum yang diterapkan. Jika diselidiki, pendidikan agama yang diajarkan di sekolah hanya 2 jam saja dan tidak mampu membentuk kepribadian para peserta didik sesuai fitrah yang sebenarnya. Maka, tidak heran fakta-fakta yang telah dipaparkan di atas akhirnya terjadi.

Baca Juga  Selamat !! Jamhur Husain Ketua PWI Sumbawa Terpilih

Menurut Fika Komara pada acara Konferensi Perempuan Internasional yang telah berlangsung di Jakarta 11 Maret 2017 menyatakan, bahwa proses sekulerisasi terus berestafet dengan ideologi kapitalisme yang menjadi driver utama di dalam dunia pendidikan modern saat ini, sehingga menyebabkan berkembangannya pragmatisme dalam pendidikan, yang tercermin dari tujuan pendidikan yang terlampau materialistik. Tujuan ini jauh dari tujuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan memperbaiki kualitas kepribadian. Walaupun, era saat ini disebut sebagai The Age Of Abundance Knowledge (zaman keberlimpahan ilmu pengetahuan dan teknologi) yang dikemukakan oleh professor James Duderstadt, namun tidak mampu menjawab krisis kemanusiaan, krisis ekonomi, krisis politik, krisis moral, dan krisis generasi. Produksi ilmu pengetahuan dan teknologi hari ini terjadi dengan luar biasa cepat, namun tidak mampu menciptakan dunia menjadi lebih baik. Manusia terus-menerus memproduksi ilmu pengetahuan namun terus-menerus pula memproduksi krisis, papar Beliau lebih lanjut.

Pergantian kurikulum tidak akan mampu memberikan solusi ketika sistem pendidikan yang diterapkan adalah pendidikan sekuler. Maka, solusi yang tepat dan harus dilakukan adalah menerapkan sistem Islam yang total di seluruh asfek kehidupan. Karena, Syari’ah Islam merupakan sistem terbaik yang telah Allah SWT jelaskan dalam firmanNya : أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ  “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS: Al-Maidah [5]: 50).

Dengan demikian, menerapkan Syari’ah Islam mampu membentuk kepribadian dan menghasilkan generasi yang bertaqwa serta taat kepada Allah SWT dan RosulNya. Dan secara otomatis, hukum-hukum atau aturan-aturan yang ditetapkanNya akan langsung dilaksanakan oleh seluruh hambahNya. Wallahu’alam. (*) 

 

 

iklan bapenda