OPINI: Libas Tuntas Kriminalitas

oleh -30 views
Ilustrasi Bang Napi
bankntb

Oleh: Rahmawati, A.Ma (Praktisi Pendidikan)

SUMBAWA BESAR, SR (12/05/2017)

amdal

Ibarat sebuah pepatah jadul mengatakan hilang satu tumbuh seribu, kira-kira begitulah gambaran yang cocok disematkan kepada kondisi carut-marut negeri ini. Bagaimana tidak banyak sekali kasus kriminalitas, seperti perkosaan, seks bebas, bahkan kasus sanderapun kerapkali terjadi yang kini sedang marak di negeri ini yang merupakan negeri mayoritas muslim tersebut.

Dari beberapa analisa ada banyak motif dilakukan tindak kriminalitas tersebut bisa karena alasan ekonomi, gaya hidup atau yang lainnya yang membuat mereka berani melakukan tindak kriminal ini. Sebut saja contoh yang terjadi di Jakarta : Ibu dan anak disandera pakai celurit di angkot Jakarta Timur (Merdeka.com) karena pelaku terlihat terdesak karena hendak menjambret, namun mengundang perhatian dan dikejar massa. Lain di Jakarta lain pula di Medan, dengan peristiwa tewasnya satu keluarga di Medan, Sumatera Utara diduga pembunuhan berencana (Metrotvnews.com). Belum lagi kejadian yang tak kalah memilukan terjadi di Sampang, Jawa Timur Sabtu (8/4) malam, Petugas Polsek Ketapang, menemukan potongan tangan di lokasi, yakni perkelahian menggunakan senjata tajam jenis celurit secara massal di Desa/Kecamatan Ketapang sekitar pukul 15.30 WIB. Menurut pengakuan Kapolsek Ketapang AKP Aries Dwiyanto, Sabtu (8/4) malam, belum mengetahui secara pasti potongan tangan yang ditemukan di tempat kejadian perkara itu milik siapa, karena masih perlu dicocokkan. “Yang jelas, potongan tangan ini merupakan bagian tubuh dari tiga korban yang tewas di TKP tadi,” katanya lagi (Republika.co.id). Berita lainnya datang dari (Kicknews.today/polres Lotim) terjadi kasus pencurian dengan kekerasan (curas) karena dipergoki merampok, korban ditebas. Lima penjahat sadis ini ditangkap saat pesta miras di Lotim.

Lantas bagaimana dengan Sumbawa Barat ? apakah KSB minim dengan kasus kriminal ? Dari Suara NTB memberitakan tentang kasus kekerasan terhadap anak mengkhawatirkan di KSB. Di Taliwang (Suara NTB)-Satuan Bhakti Pekerja Sosial (Sakti Peksos) Kementerian Sosial RI Kabupaten Sumbawa Barat mencatat ada sekitar 40 kasus yang melibatkan anak-anak selama tahun 2016. Jumlah tersebut masih didominasi oleh kasus anak yang berhadapan dengan hukum dan kasus asusila yang melibatkan anak di bawah umur.

Baca Juga  Penyelidikan Kasus Dugaan SPPD Fiktif Wakil Rakyat Jalan Terus

Di Sumbawa juga baru baru ini dilansir samawarea.com antara lain empat pelajar SMA tertangkap curi ternak, ayah mencabuli anak kandung di Desa Kerato Kecamatan Unter Iwis, muncul kasus di Desa Kelungkung Kecamatan Batu Lanteh Seorang ayah berinisial JA (55) tega menyetubuhi anak tirinya, FT (16). Bahkan banyak kasus sebelumnya lagi.

Ragam tindak kriminal tersebut baru yang terekam oleh media. Sejumlah kasus tersebut kita ragu jumlahnya tidak bertambah pada tahun berikutnya. Sampai detik ini, orang tua mana yang tidak khawatir anaknya terkena jerat narkoba? Orang tua mana yang sudah merasa aman putrinya tidak diperkosa oleh segerombol binatang bejat? Dan semua tindak kriminal tersebut tumbuh subur, bahkan berkembang biak dan beranak pinak, bercucu dan bercicit, di alam sistem demokrasi saat ini.

Dalam demokrasi dikenal beberapa kebebasan seperti kebebasan mengeluarkan pendapat meskipun itu bertentangan dengan syariat Allah SWT, bebas dalam berperilaku karena sudah dijamin oleh HAM (Baca : Hak Asasi Manusia), dan hak dalam beragama. Sehingga wajar jika kita katakan bahwa masalahnya bukan sekedar terletak pada individu, tetapi pada sistem kehidupan yang kita anut saat ini. Sistem yang sejak kelahirannya memberikan peluang atas segala tindak kriminalitas. Sistem ini menjadikan kebebasan sebagai landasan kehidupan. Padahal kebebasan inilah yang menjadi pangkal segala tindak kejahatan. Orang pada akhirnya bebas membunuh, bebas menjual barang haram, bebas memperkosa, bebas merampok, bebas mencuri, dan bebas melakukan segalanya.

Demikian pula saat menyoal sanksi atas tindak kriminalitas. Sudah banyak pihak yang menggagas hukuman setimpal, hukuman seumur hidup, sampai pada hukuman mati bagi pelaku kejahatan. Namun lagi-lagi kita hidup dalam alam demokrasi. Nyatanya hukuman yang diberikan kepada pemerkosa Yuyun (oleh 14 orang) adalah vonis penjara. Ada alasan di bawah umur. Ke 14 “binatang buas” tersebut juga cengengesan ketika diperiksa dan diintrogasi oleh Polisi. Tak ada sedikitpun ada rasa penyesalan. Dan hukuman yang setimpal, yang membuat efek jera, semakin jauh, saat sayup-sayup terdengar suara pegiat HAM (Hak Asasi Manusia) Barat yang siap-siap membela pelaku tindak kriminal atas dasar HAM.

Baca Juga  Polres Loteng Tangkap Ayah yang Merampok Anaknya

Berbagai tindak kejahatan tersebut jika kita mengkaji kita simpulkan bahwa penyebabnya selain degradasi keimanan dan ketakwaan terhadap ajaran agama, ditambah lagi dengan kondisi ekonomi yang kian mendesak serta kelemahan hukum untuk menindak tegas para pelaku kriminalitas. Dalam kondisi yang demikian, Islam sebagai sistem kehidupan yang komprehensif mampu menyelesaikan masalah kriminalitas ini dengan langkah-langkah preventif yang cukup efektif. Langkah preventif tersebut adalah meningkatkan pemahaman ajaran agama yang telah melarang setiap individu untuk melakukan tindakan maksiat.

Lebih jauh dalam ajaran agama Islam, jangankan melakukan kejahatan, mendekati pun sudah diharamkan. Ajaran ini, jika tertanam dengan kuat dalam diri setiap individu, maka seorang Muslim tidak akan melakukan tindak kejahatan dalam bentuk apapun. Unsur tatanan hidup berdasarkan Islam yang berikutnya adalah falsafah hukum Islam. Unsur tersebut mengatur sanksi hukum atas setiap pelaku kejahatan, dimana salah satunya adalah sebagai pencegah. Contohnya, hukuman potong tangan terhadap pencuri. Itu bermakna pencegahan, supaya setiap orang takut melakukan hal serupa. Sanksi hukum dan mekanisme pengadilan yang diberlakukan saat ini tidak akan membuat orang jera atau takut untuk melakukan kejahatan.

Kita bisa mengamati, kini, praktik penyuapan di lingkungan pengadilan oleh para terdakwa dapat mudah dilakukan untuk bisa lolos dari jerat hukum. Hal tersebut tidak jarang memunculkan rasa ketidak-adilan bagi korban kriminalitas. Dalam Islam sanksi harus dibarengi dengan pelaksanaan pemerintahan yang adil, kebutuhan hidup pokok masyarakat terpenuhi dengan baik, mulai dari sandang, pangan dan papan, pendidikan, kesehatan, serta pekerjaan yang memadai. Dengan pemerataan, meminimalkan tindak kejahatan yang dilakukan karena terpaksa memenuhi kebutuhan hidup. Allahu’alam. (*)

iklan bapenda