Produk GMO untuk Ketahanan Pangan di Era Modern

oleh -17 views
Riski Dwi Nanda
bankntb

Oleh: Riski Dwi Nanda (Mahasiswa Fakultas Teknobiologi Universitas Teknologi Sumbawa)

SUMBAWA BESAR, SR (11/05/2017)

Pangan merupakan salah satu elemen yang sangat penting yang menopang kehidupan manusia. Perubahan budaya dan cara hidup membuat ketersediaan pangan menjadi hal penting bagi manusia. Salah satu cara untuk menyediakan bahan pangan manusia adalah dengan pertanian. Penggunaan bioteknologi dalam pertanian memiliki sejumlah keuntungan, antara lain tanaman atau ternak dapat menghasilkan produk yang lebih tinggi, pengurangan penggunaan pestisida dan herbisida pada lahan, dan memperpanjang daya tahan atau kesehatan tanaman atau ternak. Secara umum, konsumen akan memilih pangan rendah atau tanpa pestisida dan herbisida, nilai gizi tinggi, serta peningkatan rasa dan penampilan. Indonesia dan negara berkembang lain memiliki 4 keuntungan dalam pengembangan bioteknologi bahan pangan. Keuntungan tersebut adalah sistem pertanian yang dapat ditingkatkan produktivitasnya dengan menggunakan pengolahan konvensional termodifikasi, pemupukan alami lebih ramah lingkungan yang menjamin ketersediaan nutrisi pada tanah, potensi pertanian yang belum teroptimalkan, dan mereduksi penggunaan bahan kimia dalam pestisida. Pengembangan bioteknologi dapat mendukung ketahanan pangan Indonesia. Salah satu contoh dari pengolahan konvensional termodifikasi yaitu produk GMO (Genetically Modified Organism), yaitu tanaman yang telah disisipi atau memiliki gen asing dari spesies tanaman yang berbeda atau makhluk hidup lainnya. Penggabungan gen asing ini bertujuan untuk mendapatkan tanaman dengan sifat-sifat yang diinginkan, misalnya pembuatan tanaman yang tahan terhadap hama seperti jagung Bt.

Baca Juga  Gedung Penuhi Standar, Rusunawa UTS Siap Huni

Ketahanan jagung Bt terhadap serangga hama disebabkan oleh introduksi gen cry (cry1Ab, cry1Ac,cry1F, cry2b, cry3A, cry3Bd1, dan cry9c) dari berbagai subspesies bakteri tanah B. thuringiensis. Gen cry ini mengkode toksin “Bt”, sebuah deltaendotoksin, yang bersifat racun bagi beberapa spesies serangga, termasuk hama tanaman. Toksin Bt ini melekat pada sel reseptor di saluran pencernaan serangga, yang mengacaukan aliran-ion, menyebabkan saluran pencernaan tidak berfungsi sehingga terjadi kematian serangga. Mamalia tidak mempunyai receptor ini di saluran pencernaannya sehingga keberadaan toksin Bt ini tidak akan  mempengaruhi pencernaan mamalia. Ada dua jenis toleransi herbisida dalam tanaman transgenik berdasarkan bahan aktif dari herbisida, yaitu glyphosate (umumnya dikenal dengan Roundup Ready) atau phosphinothricin. Glyphosate menghambat sintesis asam amino esensial di tanaman, khususnya asam amino aromatik phenylalanin, tirosin, dan tryptophan secara meniru analognya yang menghambat enzim 5 enolpyruvylshikimate-3-phosphate synthase (EPSPS). Tanaman transgenik untuk toleran herbisida mengandung enzim EPSPS yang telah dimodifikasi sehingga toleran glyphosate, yang diisolasi dari bakteri Agrobacterium tumefaciens. Gen ini juga digunakan bersama-sama dengan gen yang mengkode enzim glyphosate oxidoreductase (GOX) yang me-nonaktifkan glyphosate tersebut. Tipe lainnya adalah toleran herbisida yang mencakup herbisid phosphinotricin. Bahan aktif dalam phosphinothricin adalah glufosinate ammonium yang dapat menghambat enzim glutamine synthase yang akan mengakumulasikan ammonium sehingga membunuh tanaman. Gen ini diisolasi dari bakteri tanah Streptomyces viridochromogenes yang mengkode PAT (enzim phosphinothricin-N-acetyltransferase) yang nonaktifkan glufosinate. Gen ini digunakan untuk pengendalian gulma. Sejumlah metode PCR bagi beberapa tanaman transgenik jagung yang umumnya beredar telah dipublikasi, misalnya metode deteksi tanaman transgenik atau produknya seperti jagung transgenik Bt11, MON810, event186, T25,dan GA-21.

Baca Juga  Bagi Guru, Menulis Itu ?

Karena itu, Bioteknologi diperlukan dalam mencukupi ketersediaan pangan. Peraturan tentang pangan hasil teknologi DNA diperlukan pada suatu negara dan dalam sistem perdagangan. Edukasi tentang bioteknologi dan GMO diperlukan untuk mengatasi keresahan konsumsi pangan GMO pada masyarakat Indonesia. Industri, universitas dan lembaga penelitian, dan pemerintah berperan penting dalam memberi kenyamanan masyarakat dan jaminan mutu dan keamanan pangan masyarakat. (*)

 

iklan bapenda