Dua Sastrawan Nasional Sambangi Sanggar “Riam Bagentar” Sebasang

oleh -11 views
bankntb

SUMBAWA BESAR, SR (05/05/2017)

Candra Malik–pengasuh Pondok Pesantren Asy-Syahadah yang juga dikenal sebagai tokoh sufi, sastrawan, wartawan, penyanyi dan pencipta lagu religi, actor film, dan penulis ini, mengunjungi Sanggar Seni Riam Bagentar, Desa Sebasang, Kecamatan Moyo Hulu, Kabupaten Sumbawa, Jumat (5/5) pagi. Dalam kunjungan singkatnya ini, pria kelahiran Surakarta Jawa Tengah, 25 Maret 1978 tersebut didampingi Ary Juliyant yang juga seniman pertunjukan nasional dan pembuat lagu yang lebih suka disebut Gerilyawan Seni.

Dua tokoh seni dan budaya ini berada di Kecamatan Sebasang sebagai rangkaian dari kegiatan bertajuk “Tirakat Nusantara”. Mereka akan menggelar berbagai kegiatan di Sumbawa hingga 20 Mei mendatang. Di antaranya Sarasehan Tirakat Nusantara dan Lokakarya Kesenian di Istana Dalam Loka, serta Pagelaran Tirakat Nusantara di Lapangan Pahlawan. Dipilihnya Sanggar Riam Bagentar di awal kedatangannya ini, karena dianggap sebagai miniatur seni dan budaya Sumbawa yang masih aktif dan lestari secara turun-temurun.

Kepada SAMAWAREA, Gus Candra—sapaan akrabnya, mengatakan, kegiatan yang dilakukannya ini merupakan upaya bersama sebagai anak bangsa yang merawat akar tradisi kebangsaannya. Sumbawa adalah salah satu di antara banyak kepulauan yang dimiliki Indonesia menjadi titik yang harus dikunjunginya. Sebab Sumbawa memiliki banyak potensi kesenian dan kebudayaan. Gus Candra mengakui bahwa budaya Sumbawa masih sangat relevan dengan perkembangan jaman saat ini. “Inilah yang menunjukkan kita sebagai manusia karena masyarakat Sumbawa ternyata memiliki upacara yang sangat lengkap mulai dari sebelum lahir hingga setelah meninggal dunia semuanya diupacarai dan ditulis dalam syair kemudian dilisankan dengan seni tutur yang beragam. Ada tarian dan banyak sekali potensi kebudayaan yang harus kita rawat,” jelas Gus Candra. “Kenyataan ini menegaskan kita jangan sampai modernitas menghapus identitas, dan jangan sampai globalitas menghapus lokalitas. Sumbawa saya Pikir masih sangat layak untuk diperhitungkan sebagai salah satu identitas dari kebangsaan nusantara kita,” imbuhnya.

Baca Juga  2019, Kegiatan Rutin Bidang Pembinaan Ketenagaan Dikbud Raib

Sesungguhnya ungkap Gus Candra, cara paling mudah untuk melenyapkan sebuah bangsa adalah memisahkan antara generasi muda dengan generasi tuanya. Generasi tua mungkin sebagai pemula atau orang yang lebih dahulu mengenal kebudayaan. Ketika mereka terpisah dengan generasi berikutnya maka akan ada jurang pemisah yang bakal melenyapkan kebudayaan tersebut. “Yang harus kita lakukan adalah menyelamatkan generasi muda dari pengaruh yang tidak kita inginkan dari dunia luar. Kita tidak menutup mata bahwa pergaulan dunia harus terjadi. Ketika tamu-tamu dari luar itu datang, kita sebagai tuan rumah harus sudah siap. Karena sesungguhnya yang diinginkan tamu adalah keaslian dari budaya kita, bukan sebaliknya kita ikut-ikutan tamu,” tandasnya.

Ditambahkan Ary Juliant, bahwa selama ini kesenian tersebut dianggap sebagai pelengkap. Padahal kesenian dan budaya itu penting karena memiliki hubungan atau keterkaitan erat dengan agama, peradaban, social, ekonomi, teknologi dan lainnya. Di Kabupaten Sumbawa, banyak kearifan local yang masih terjaga dan bisa dieksplor. Dengan berkembangnya budaya ini, Sumbawa ke depan tidak hanya dikenal sebagai daerah yang kaya sumberdaya alam tapi juga kaya akan kesenian dan budayanya.

Sementara Muhammad Irfan dari Dewan Kesenian Samawa, mengakui kehadiran dua tokoh seni dan budaya ini sangat bermanfaat. Pihaknya bisa bertukar pikiran terutama dalam penyelenggaraan event besar yang berangkat dari tradisi dan ritual. “Apa yang kami miliki,  jati diri masyarakat Sumbawa harus bisa menjadi pengikat dan penyemangat bagi gerakan masyarakat yang berbasis ritual,” katanya.

Baca Juga  Inilah Kuda Juara Final Pacuan Gubernur Cup 2016

Ke depan ungkap Ipun Gera—panggilan populer pejabat di Dinas Pariwisata Sumbawa ini, akan menggagas sebuah perhelatan akbar yang berbasis ritual. Apa yang menjadi tradisi masyarakat yang ada di kecamatan, itulah yang dipertontonkan. Gerakannya sangat massif, komunal dan serempak. “Contohnya memasuki musim tanam banyak sekali ritual di sektor pertanian ini yang nyaris punah. Melalui tamu kita ini semakin melecut kembali semangat berkesenian dan semangat berkebudayaan di Kabupaten Sumbawa,” cetusnya seraya menyatakan bahwa pihaknya menargetkan mulai tahun depan akan merancang event festival di semua kecamatan agar bisa mengisi kalender event setiap bulannya selama satu tahun. (JEN/SR)

iklan bapenda