PENDIDIKAN DAN SADAR PENDIDIKAN

oleh -0 views
Yadi Saputra, KABID DIKBUD BADKO HMI NUSRA
bankntb

Oleh: Yadi Saputra (KABID DIKBUD BADKO HMI NUSRA)

SUMBAWA BARAT, SR (02/05/2017)

amdal

Seorang tokoh manajemen, namanya Zig Ziglar mengatakan “masa depan adalah milik orang-orang dan lembaga, termasuk perusahaan dan negara, yang berinvestasi untuk mengembangkan diri, mulai hari ini”. Hampir semua manusia memiliki cita-cita dan tidak terkecuali kita sebagai kaum muda yang tonggak perubahan bangsa ada pada pundak kita semua. Namun cita-cita dan kein inan tidak cukup untuk mendatangkan perubahan, perlu disertai perubahan dalam setiap individu dan menanamkan ikhtiar dalam setiap harapan atau dengan kata lain berinvestasi untuk mengembangkan diri. Pendidikan adalah sektor terpenting dalam membangun pradaban bangsa yang berkualitas. Dengan pendidikan hidup menjadi lebih terarah dan terukur.

Hari ini 2 Mei 2017 adalah Hari Pendidikan Nasional yang diperingati tepat pada tanggal kelahiran bapak pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Seorang tokoh pendidikan nasional yang memberikan sumbangsih pemikiran dan tenaga demi pendidikan di Indonesia, yang terkenal dengan konsep Laku Telu atau tiga peran dalam hal kepemimpinan Pendidikan (ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karso, tut wuri handayani) dan banyak pemikiran lainnya. Perlu digaris-bawahi bahwa pada dasarnya Ki Hadjar Dewantara meramu konsep pendidikan bukan dalam kemasan pengekangan atau paksaan. Namun pendidikan yang selalu didasari dengan orientasi pendidikan yang berbudaya dan kesadaran moral etika. Maka penting untuk kita bersama menghayati pesan-pesan yang ditinggalkan oleh Ki Hadjar Dewantara. Berbanding terbalik dengan kondisi pendidikan nasional saat ini. Pemerintah menggaungkan tentang reformasi pendidikan nasional namun yang diberikan adalah sistem yang begitu sangat labil. Carut marutnya pergantian kurikulum pendidikan, pengekangan peserta didik melalui peraturan perundang-undangn dan banyak lagi permasalahan lainnya yang telah mengantarkan sistem pendidikan melahirkan pendidik dan peserta didik yang labil. Tidak sampai disitu rongrongan dari luar juga terus dengan gagahnya coba menghancurkan orientasi pendidikan nasional yang bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Tekhnologi, informasi, dan komunikasi ternyata tidak hanya membawa peluang. Karena jika tidak mapan dan dewasa dalam menyikapi dan memanfaatkan niscaya bukan kemajuan yang menghampiri tetapi keterpurukan dan kehancuran generasi juga akan tetap mengintai dan menghantui generasi mendatang.

Baca Juga  UTS Luluskan 113 Wisudawan, Ini Tiga Pesan Penting Hj Niken

Mungkin ucapan seorang Arnold Toyinbi ada benarnya bahwasanya “persoalan adalah peluang”. Ya, persoalan di Indonesia adalah peluang bagi bangsa lain untuk menghancurkan secara perlahan. Juga budaya baca, diskusi, advokasi, dan menulis seharusnya tumbuh subur dalam lingkungan pemuda dan peserta didik. Tentunya itu adalah harapan. Karena itu cuma harapan yang tidak kemudian didukung dengan bekal dasar karakter yang mengarah pada harapan tersebut dan pada dewasa ini sangat sulit untuk ditemukan ruang-ruang atau lingkungan yang menghidupkan budaya tersebut. Yang pada niscayanya baca itu adalah hal yang sangat urgen untuk dilakukan, karena melalui bukulah banyak hal di dunia ini dapat diperbuat. Mengutip dari bahasanya Barbara Tuchman, dia mengatakan bahwa “buku adalah pengusung pradaban, tanpa buku sejarah diam, sastra bungkam, sains lumpuh, pemikiran macet, buku adalah mesin perubahan, jendela dunia, marcusuar yang dipancangkan di samudra waktu”. Jika di Indonesia budaya literasinya minim maka tunggulah bom waktu yang berbicara daripada nasib generasi kehancuran, yang mereka ada seperti tiada. Inilah budaya yang ada di ruang lingkup pendidikan kita. Pengaruh gaya hidup yang serba instan mengambil bagian yang sangat besar dalam mempengaruhi pendidikan, dengan dukungan fasilitas yang memanjakan, hingga lahir lah persaingan antara budaya baca dengan budaya nonton, budaya diskusi dengan budaya main game, budaya menulis dengan jalan-jalan di Mall dll. Ini realita yang sepatutnya kita harus sadari bersama bahwa sesungguhnya kita harus lebih cerdas dalam memilah dan memilih mana kebutuhan dan mana keinginan yang mengarah pada hedon.

Baca Juga  Menteri PUPR Resmikan Rusunawa UNSA Senilai 11 Milyar

Fenomena lain di kalangan peserta didik ialah ada banyak perkumpulan yang disibukkan dengan mengkritisi sistem dan anggaran yang dianggarkan oleh negara untuk pendidikan hingga lupa membangun kesadaran belajar pada diri dan lingkungan. Inikah yang diharapkan oleh bapak pendidikan kita? Saya pikir tidak. Untuk menjawab semua itu kita harus sadar bahwa di tangan kitalah perubahan itu akan datang khususnya untuk budaya dalam dunia pendidikan. Kita harus mampu menghapus hal-hal yang menghambat dalam diri setiap kita. Seperti yang dikatakan oleh Komarudin Hidayat yaitu “eksodus pemikiran” hijrah pemikiran secara besar demi pemikiran yang lebih siap. Tentu dalam bidang pendidikan sangatlah penting untuk menumbuhkan pemikiran dan jiwa yang kuat dalam membangun budaya literasi, diskusi, dan vokasi. Gantungkan cita-citamu setinggi langit jikalau engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang, Kata Soekarno (Presiden pertama Indonesia) namun jika hanya bercita-cita tanpa gerak dan ikhtiar niscaya kita takkan pernah jatuh karena kita tidak pernah mulai mendaki. Lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat haruslah bisa seirama dalam menerjemahkan pentingnya penanaman karakter budi pekerti demi pendidikan yang lebih baik. Saya mengajak kita semua untuk mari kita memulai menyadarkan diri kita demi pendidikan yang berkualitas mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena ini demi Indonesia. “SELAMAT HARI PENDIDIKAN NASIONAL”. (*)

 

iklan bapenda