Pimpinan DPRD Sepakat Smelter Harus di Sumbawa

oleh -0 views
Dari kanan: Lalu Budi Suryata SP (ketua DPRD), Berlian Rayes S.Ag M.Si (anggota Komisi II DPRD), Paryono SH MH (Kajari Sumbawa), Kamaluddin ST M.Si (Wakil Ketua DPRD) dan H. Ilham Mustami S.Ag M.Si (Wakil Ketua DPRD)
bankntb

SUMBAWA BESAR, SR (30/04/2017)

Pembangunan smelter (pabrik pengolahan hasil tambang) PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) sudah ditetapkan di Benete Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Hal tersebut ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Menteri ESDM, Ignasius Jonan, belum lama ini. Kenyataan ini membuat pemerintah dan masyarakat Kabupaten Sumbawa yang juga menjadi daerah penghasil, kecewa berat. Sumbawa terkesan ditinggalkan dan potensi Dodo Rinti yang hasil kajian kandungan tambangnya jauh lebih besar justru diabaikan. Kekecewaan juga diungkapkan Pimpinan DPRD Kabupaten Sumbawa.

Adalah Kamaluddin ST M.Si menegaskan bahwa pembangunan smelter di Sumbawa harga mati. Ia tidak menyalahkan KSB yang menginginkan smelter dibangun di daerahnya karena merupakan hak sebagai daerah penghasil. Namun ketika PT AMNT hendak menambang Dodo-Rinti yang terletak di Sumbawa dan kandungannya jauh lebih besar dari Batu Hijau KSB, sangat wajar jika pemerintah dan masyarakat Sumbawa menuntut hak yang sama. “Tanpa smelter, jangan harap Dodo Rinti bisa ditambang,” tegas politisi PPP ini.

Hal senada dikatakan H Ilham Mustami S.Ag M.Si—pimpinan DPRD Sumbawa lainnya. Selama ini diakui Haji Ilham—sapaan akrab politisi Hanura ini, Sumbawa sering ketinggalan untuk diajak duduk bersama tertkait berbagai macam kebijakan termasuk pembangunan smelter yang kemarin sudah dilakukan peletakan batu pertama oleh Menteri ESDM. Tidak dilibatkannya Sumbawa dalam hal pembangunan smelter ini, ungkap Haji Ilham, seolah-olah daerah tersebut tidak memiliki sumber daya dan potensi tambang, dan terkesan hanya KSB yang memilikinya.

Baca Juga  Tiba di Sumbawa, Jasad TKW asal Batu Rotok Disambut Isak Tangis

Hanya nanti ketika PT AMNT hendak melakukan penambangan di Dodo Rinti, masalah Pembangunan Smelter harus dibicarakan ulang termasuk membuat Ijin Usaha Penambangan (IUP) baru. “Jika tidak menjadi IUP baru, maka kami menolak pembangunan smelter di KSB. Kami meminta PT AMNT untuk duduk bersama guna menghindari konflik di kemudian hari. Karena sebelum ada kesepakatan soal kejelasan pembangunan smelter di Dodo Rinti, tidak boleh ada aktivitas penambangan di Dodo Rinti,” tandasnya.

Sementara Ketua DPRD Sumbawa, Lalu Budi Suryata SP mengaku kecewa dengan sikap PT AMNT. Sebab sebelum dilakukan peletakan batu pertama pembangunan Smelter di KSB, perwakilan PTAMNT sudah datang menemui mereka dan sudah bersepakat untuk duduk bersama membicarakan rencana pembangunan smelter. Namun sayang kesepakatan itu tidak di-follow up para petinggi PTAMNT, sehingga Sumbawa ditinggalkan.

Budi—sapaan politisi PDIP ini tidak menampik bahwa pembangunan smelter harus melihat factor efisiensi. Tapi tidak boleh juga mengenyampingkan factor potensi. “Efisiensi harus sejalan dengan factor potensi. Jika di daerah itu memiliki potensi yang besar, maka smelter harus juga dibangun di daerah tersebut. Nah Sumbawa memiliki potensi tambang lebih besar dari KSB, harusnya smelter dibangun di sini (Sumbawa, Red),” tukasnya.

Karena itu pihaknya mendesak PT AMNT untuk duduk bersama membicarakan persoalan ini. Ia tidak ingin investasi PTAMNT di Dodo Rinti terhambat hanya karena persoalan yang belum tuntas. Sebab keberadaan smelter di Kabupaten Sumbawa adalah keinginan pemerintah dan masyarakat setempat. “Ini harus segera dituntaskan sejak dini dengan melakukan koordinasi dan komunikasi lebih intensif serta para pihak bisa duduk bersama agar menghasilkan win-win solution dan permasalahan di kemudian hari tidak terjadi,” ucap Budi.

Baca Juga  Harga Cabai Kian Pedas, TPID Himbau Masyarakat Tidak Panik

Berlian Rayes S.Ag M.Si—Anggota Komisi II DPRD Sumbawa sepakat dengan pernyataan para pimpinannya. Politisi Golkar ini tidak ingin Sumbawa dianaktirikan dan harus diperlakukan secara adil. “Tidak boleh dong kami yang memiliki potensi tambang yang besar diabaikan. Jadi jangan salahkan jika kami mengabaikan PTAMNT dan menolak segala bentuk aktivitasnya di Dodo Rinti,” pungkasnya. (JEN/SR)

iklan bapenda