Eco-Green, Langkah Maju Membangun Bumi NTB

oleh -1 views
bankntb

MATARAM, SR (24/04/2017)

Pembangunan daerah berbasis Eco-Green merupakan agenda jangka panjang pemerintah Provinsi NTB. Berbagai kebijakan dan peraturan gubernur telah dibuat untuk mendukung agenda pembangunan tersebut. Bahkan, Maret lalu, Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi beserta sejumlah kepala SKPD, melawat ke Korea Selatan untuk menukar informasi terkait eco-green atau eco-tourism. Di sana, Gubernur mengadakan pertemuan produktif dengan berbagai pihak untuk membahas peluang pembangunan berbasis ramah lingkungan. Hal ini dianggap langkah maju untuk membangun bumi NTB yang berbasis lingkungan hijau.

amdal

Menindaklanjuti pertemuan di Korea Selatan tersebut, Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi menerima laporan Tim Korea Selatan, terkait beberapa hasil kunjungan tim itu di beberapa spot wisata NTB. Tim yang terdiri dari Kim Nam Hong dan Mulyo tersebut beberapa hari sebelumnya telah mengunjungi Gili Trawangan dan KEK Mandalika untuk melihat lebih dekat peluang dan tantangan penerapan electrical vehicles di kedua destinasi wisata itu.  “Saya berharap ide-ide yang bagus bisa terlaksana, seperti yang kita bicara di Korea waktu itu, untuk electrical vehicles, biomass dan eco-tourism,” ungkap Gubenur NTB saat menerima tim di Pendopo Gubernur, Minggu (23/4).

Orang nomor satu di NTB ini meminta tim tersebut untuk menjelaskan berbagai langkah untuk mengembangkan eco-tourism di NTB, khususnya di Gili Trawangan. Menurutnya, sebagai sister city dengan Jeju, pengembangan eco-tourism tidak sesulit daerah lain yang wilayahnya cukup luas.

Baca Juga  Korban Banjir yang Sudah Pernah Direlokasi akan Diidentifikasi

Dari tim tersebut Tuan Guru Bajang (TGB) mendapat laporan, hal penting yang menjadi prioritas untuk segera ditangani adalah pengelolaan sampah di Gili Trawangan. Meskipun sampah di destinasi wisata dunia itu tidak terlihat, namun perlu diantisipasi dengan penerapan teknologi pengelolaan sampah yang mumpuni. “Sampah itu, bikin proyeknya sederhana saja. Tapi sampah itu bisa dimakan oleh larvanya. Larvanya itu sendiri bisa untuk ternak, seperti unggas, ikan dan dikomposing lagi,” jelas tim kepada Gubernur serta beberapa Kepala SKPD yang turut hadir di kesempatan itu. Penerapan teknologi ini, menurut tim sudah berhasil dilakukan di Sumedang. Di daerah itu dijelaskan, meskipun dengan lokasi yang kecil, mereka dapat mengolah sampah sebanyak dua ton sehari, yang 30 persen organik dan 70 persen dibakar.

Terkait hal itu, gubernur menanggapi sejumlah kriteria yang ada di Gili Trawangan seperti, lokasinya kecil, tidak boleh ada kebisingan yang merusak ketenangan wisatawan, tidak ada polusi udara dan bau, serta penanganan sampah harus selesai, tidak lagi ditimbun di daerah tersebut. “Sampah itu tidak boleh ditimbun, apalagi berbau. Itu akan mengganggu kenyamanan,” kata TGB.

Namun, tim tersebut menjamin pengelolaan sampah tidak akan menimbulkan polusi bau, bahkan akan menimbulkan efek positif lain seperti peternakan, perikanan dan potensi lainnya. (NA/SR)

iklan bapenda