Tiba di RSUP NTB, Bayi Dua Kepala Langsung Ditangani 

oleh -1 views
Ini salah satu fungsi mobil ambulance emergency, merujuk pasien ke luar daerah dengan menjaga kondisi tetap stabil mengingat peralatan medis yang dimiliki sangat lengkap
bankntb

MATARAM, SR (11/04/2017)

Bayi yang lahir kembar dempet dengan kondisi dua kepala asal Dusun Genang Genis, Desa Kerato, Kecamatan Sumbawa Besar, Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), telah ditangani di Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP) NTB. “Benar kami menerima pasien seorang bayi dari seorang ibu berinisial Z. Bayi itu terlahir dengan kondisi yang memprihatinkan dengan kondisi dua kepala, dua leher, tiga tangan, serta dua kaki dalam satu badan,” kata Direktur RSUP NTB, Lalu Hamzi Fikri saat ditemui SAMAWAREA, Selasa (11/4).

Ia menerangkan, bayi berjenis kelamin laki-laki tersebut lahir di Kabupaten Sumbawa dengan  Sectio Saecaria atau operasi cesar pada Senin (10/4) kemarin pukul 08.42 Wita. Anak ketiga dari Nyonya Z tersebut, kata Hamzi, terlahir dengan berat badan 3.500 gram. Saat ini RSUP NTB masih melakukan tindakan medis terhadap bayi tersebut. “Kami tengah melakukan observasi terhadap pasien ini. Telah ditangani oleh Dokter Spesialis Anak,” imbuhnya.

Selain itu pihaknya melakukan perbaikan KU (Keadaan Umum) dan observasi ketat, di samping bantuan alat pernafasan. Petugas juga secara intens mengontrol kondisi bocah malang tersebut.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa H Naziruddin Lambadji menerangkan, kondisi yang dialami bayi tersebut merupakan kasus pertama di Kabupaten Sumbawa. “Iya kembar siam. Ini kasus pertama di (Kabupaten) Sumbawa,” ujar Naziruddin saat dihubungi dari Mataram.

Baca Juga  Indonesia Siap Suguhkan Seri MotoGP 2021 yang Berbeda di Mandalika

Naziruddin menambahkan, saat ini pasien tersebut sudah dirujuk ke Mataram untuk mendapatkan penanganan medis. Mengenai pembiayaan saat persalinan sudah terlindungi melalui BPJS. Mengenai adanya kelainan sejak saat hamil, Naziruddin belum bisa memberikan keterangan lebih lanjut. “Kalau kelainan waktu hamil tidak tahu, dan kapan mulai terdeteksinya juga belum tahu,” demikian Haji Nazir. (NA/SR)

iklan bapenda