Minimarket Indikator Kemajuan Daerah

oleh -7 views
bankntb

MATARAM, SR (08/04/2017)

Kehadiran minimarket di suatu daerah merupakan salah satu indikator kemajuan ekonomi. Minimarket tidak saja menumbuhkan daya beli dan membuka lapangan pekerjaan, tapi juga memberikan ruang bagi pelaku UMKM lokal untuk tumbuh dan berkembang. Begitu pula di Lombok Barat, hadirnya minimarket berskala nasional yakni Alfamart di wilayah ini juga menunjukkan adanya peluang pasar yang siap untuk dikembangkan.

Branch Manager Alfamart Lombok, Danny Febrianto mengatakan, kehadiran minimarket di suatu daerah sangat membantu masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari. “Barang dari produsen bisa sampai ke tangan konsumen (end user) pasti melalui ritel termasuk minimarket. Itu sebabnya bisnis ini bisa tumbuh. Alasan lain, supply ada karena memang ada demand dari pasar,” katanya, Jumat (7/4/2017).

Peritel nasional juga menjadi tempat bergantung para produsen di tanah air, sebab merekalah yang menjadi jaringan pemasar produk-produknya sehingga bisa dinikmati langsung oleh konsumen. Dengan adanya ragam minimarket di suatu daerah, masyarakat mendapatkan kemudahan jangkauan berbelanja dengan pilihan harga yang wajar. Dari sisi benefit bagi pelaku UMKM, perusahaan memberikan ruang untuk berjualan di halaman toko dengan harga sangat terjangkau. Perusahaan juga memberi kesempatan kepada home industry untuk menjadi pemasok produk Home Brand Private Label (HBPL). Saat ini, terdapat lebih dari 200 pemasok produk-produk HBPL yang berasal dari UMKM secara nasional. “Di wilayah NTB, Alfamart juga menjual produk UMKM lokal seperti telur ayam negeri, Beras 69, Beras Cap Ikan, Kopi 555, air mineral Narmada, Minyak Oles Bokashi, Madu Hutan Sumbawa hingga permen susu cap Kerbau Perah hingga Kopi Berkah. Setelah ini akan ada lagi 10 item produk UMKM Lombok Barat dijual di toko,” jelasnya.

Baca Juga  Shalat Jumat Kembali Digelar di Islamic Center

alfamart 1

Sinergi lainnya dengan pelaku UMKM juga diwujudkan dalam bentuk pembinaan pedagang warung atau toko kelontong melalui program Outlet Binaan Alfamart (OBA) dan pelatihan manajemen ritel modern. “OBA ini merupakan CSR perusahaan, selain Alfamart Class (hibah laboratorium ritel di sekolah-sekolah kejuruan). Ini berbeda dengan donasi konsumen, keduanya merupakan CSR murni perusahaan,” katanya.

Keuntungan menjadi pedagang binaan Alfamart ini, mereka bisa memesan barang dengan fasilitas antar gratis oleh tim Member Relations Officer (MRO). Selain itu, mereka juga mendapatkan potongan harga spesial. Tujuan pemberian harga khusus ini agar pedagang bisa menjual kembali barang itu dengan harga yang kompetitif.

Selain itu, bagi member pemilik warung yang beruntung bisa mendapatkan dress up warung cuma-cuma setiap bulan melalui program Outlet Binaan Alfamart (OBA). Per akhir Maret 2017 tercatat 850 orang member atau pedagang binaan di wilayah NTB. Melalui donasi konsumen, sepanjang 2016 perusahaan secara nasional juga telah menyalurkan 20.000 paket bantuan sosial, 10.000 pasang sepatu sekolah, 35.000 paket perlengkapan sekolah, 60 unit rumah layak huni, 10.000 kacamata gratis, dan masih banyak lagi bantuan sosial yang difasilitasi oleh yayasan yang kredibel. Sedangkan dari sisi penciptaan lapangan kerja, industri ritel merupakan industri padat karya. Kebutuhan tenaga kerjanya besar. Untuk satu minimarket saja membutuhkan rata-rata 8 personil toko. Kebutuhan tersebut belum termasuk kebutuhan karyawan yang ditempatkan di kantor pusat dan kantor cabang Alfamart yang tersebar di Indonesia. “Misalnya ada penutupan 10 toko saja bisa berdampak pada pengangguran hingga 80 orang,” imbuh Danny.

Baca Juga  Bed Pasien Diduduki Polisi, RSUD Minta Ganti Rugi 250 Juta ?

Sampai dengan akhir Maret 2017, Alfamart di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) telah menyerap tak kurang dari 2.122 orang tenaga kerja di mana 96 persennya adalah warga pribumi NTB. Danny menambahkan benefit lainnya terkait kehadiran minimarket, yang tak hanya menyediakan produk kebutuhan pokok, tetapi juga memenuhi kebutuhan konsumen melalui berbagai fasilitas pembayaran seperti tagihan listrik, air, telepon, TV kabel, pajak, kredit kendaraan, pembelian tiket KA, pembayaran booking tiket pesawat hingga pengiriman uang.

Selain itu, bisnis minimarket juga memberi kontribusi terhadap pendapatan negara melalui Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Untuk setiap transaksi di toko juga berkontribusi bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui PBB, IMB, Pajak Reklame, Retribusi, dan lain-lain. “Kami menjalankan bisnis ini secara legal, itu sebabnya regulasi apapun yang diterbitkan oleh pemerintah daerah (pemda) yang merupakan stakeholder primer pasti kami patuhi. Kami berharap agar semua pihak mampu melihat bisnis ini tidak dengan sebelah mata. Ada sederet kontribusi yang diberikan, untuk itu kami berharap pemda juga bisa mendorong terciptanya iklim investasi yang kondusif melalui regulasinya,” tegasnya.

Persaingan dalam bisnis minimarket, tak dipungkiri semakin ketat sejalan dengan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN awal 2016. “Filipina sudah membuka akses bagi Alfamart untuk berekspansi sejak pertengahan tahun 2014. Minimarket asing juga mulai masuk ke Indonesia. Apabila regulasi pemerintah gagal melindungi produk lokal dan menjembatani kepentingan produsen domestik, maka perekonomian kita yang akan terancam,” pungkasnya.

Untuk diketahui, bahwa saat ini tercatat ada lebih dari 200 toko Alfamart beroperasi di Manila, Filipina. (NA/SR)

iklan bapenda