Kartini Juga Mengaji

oleh -6 views
R.A. Kartini, Pahlawan Nasional, pelopor emansipasi wanita
bankntb

Oleh: Yaya Qalbiyah Harisanti,S.Si (Aktivis Muslimah)

SUMBAWA BESAR, SR (08/04/2017)

amdal

April adalah moment yang mengingatkan kita pada perjuangan seorang perempuan, RA Kartini atau kerap dipanggil Kartini. Berbagai tulisan mencoba mengupas bagaimana hakikat perjuangan RA Kartini. Apa yang diperjuangkan Kartini dan bagaimana memahami perjuangannya. Tulisan singkat ini harapannya semakin jelas bagi kita sehingga kita bisa mengambil pelajaran dari Kartini.

Kartini tumbuh di lingkungan Jawa yang teguh memegang adat-istiadat. Di tengah kuatnya dominasi adat, Kartini berani berdiri untuk menantang semua adat itu. Kartini memahami bahwa setiap manusia sederajat dan mereka berhak untuk mendapat perlakuan yang sama. Kartini menolak adat Jawa yang membedakan manusia berdasarkan asal keturunannya. Tak salah jika Kartini memiliki kesimpulan seperti itu. Penjajah Belanda telah berhasil menanamkan rasa rendah diri kepada masyarakat pribumi. Diskriminasi yang dilakukan Belanda telah mengajarkan bahwa pribumi atau bangsa Timur adalah rendah dan bangsa Barat adalah mulia. Dan Kartini menyimpulkan bahwa pangkal kemunduran dan rasa rendah diri yang dialami oleh masyarakat adalah mundur dan minimnya pendidikan yang mereka rasakan. Kaum pribumi adalah kaum terbelakang dan bodoh. Pendidikan menjadi hak paten bagi kalangan ningrat dan para penjajah. Perjuangan Kartini diawali dengan membenahi pendidikan bagi kalangan pribumi, tak terkecuali kaum wanita. Kartini membuat nota yang berjudul “Berilah Pendidikan Kepada Bangsa Jawa” kepada pemerintah kolonial. Dalam nota tersebut, Kartini mengajukan kritik dan saran kepada hampir semua Departemen Pemerintah Hindia Belanda, kecuali Departemen Angkatan Laut (Marine). Kartini-pun merasa perlu belajar ke Barat. ”Aku mau meneruskan pendidikanku ke Holland, karena Holland akan menyiapkan aku lebih baik untuk tugas besar yang telah kupilih” (Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, 1900). Barat telah menjadi panutan dan kiblat Kartini untuk melepaskan diri dari kungkungan adat. ”Pergi ke Eropa. Itulah cita-citaku sampai nafasku yang terakhir” (Surat Kartini kepada Stella, 12 Januari 1900). Namun cita-cita itu harus kandas di tangan para sahabatnya yang tak menginginkan Kartini memiliki pemahaman lebih maju. Sulit bagi Kartini untuk bertahan di lingkungan yang bertentangan dengan pemikiran dan idealismenya. Di tengah kuatnya kungkungan adat dan derasnya serangan pemikiran Barat, Kartini mencoba mencari jawaban. Tahun-tahun terakhir sebelum wafat, Kartini menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang bergolak di dalam pemikirannya. Ia mencoba mendalami ajaran yang dianutnya, Islam. Ajaran Islam pada awalnya tak mendapat tempat di benak Kartini. Hal ini dikarenakan pengalaman yang tak mengenakkan dengan ustadzahnya. Sang ustadzah menolak menjelaskan makna ayat yang sedang diajarkan. Namun, pertemuannya dengan Kyai Haji Mohammad Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari Darat, Semarang, telah mengubah segalanya. Kartini tertarik pada terjemahan surat Al Fatihah yang disampaikan Sang Kyai. Kartinipun mendesak salah satu paman untuk menemaninya bertemu sang Kyai. (Dian Aniza Rahayu, Andai Karini Khatam Mengaji).

Berikut petikan surat Kartini.

”… tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna ? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat itu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai Peradaban ?” (Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902). ”Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama” (Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902).

Baca Juga  SMKN 3 Sumbawa Kembali Ditunjuk Jadi Pusat Tes CPNS

Kartini juga mengaji, maksudnya Kartini berusaha mengkaji Islam. Kartini memahami bahwa kebangkitan seseorang ditandai oleh kebangkitan cara berfikirnya. Kartini mengupayakan pengajaran dan pendidikan bagi wanita semata-mata demi kebangkitan berfikir kaumnya agar lebih cakap menjalankan kewajibannya sebagai seorang wanita. Tak ada sepatah kata-pun dalam surat tersebut yang mengajarkan wanita untuk mengejar persamaan hak, kewajiban, kedudukan dan peran agar sejajar dengan kaum pria.

Maka menjadi sebuah ironi jika atas nama perjuangan Kartini, para wanita saat ini justru terjebak pada nilai-nilai liberalisasi dan ide-ide barat yang justru ditentang oleh sang pahlawan. Perjuangan yang kini dilakukan oleh para feminis, pembela hak-hak wanita sangat jauh dari ruh perjuangan Kartini. Kartini tidak menuntut persamaan hak dalam segala bidang. Kartini hanya menuntut agar kaum wanita diberi hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Tak lebih dari itu.

Kartini bertekad untuk menjadi seorang muslimah yang baik dengan memenuhi seruan Surat Al-Baqarah [2] ayat 257, minazh-zhulumaati ilan nuur (Dari Kegelapan Menuju Cahaya) yang menjadi inspirasi buku beliau setelah diterjemahkan dari bahasa Belanda menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang, telah mendorongnya untuk berubah diri dari pemikiran yang salah kepada ajaran Allah. Tak berlebihan jika kita menyimpulkan bahwa tujuan Kartini adalah mengajak setiap wanita untuk menjadi muslimah yang memegang teguh ajaran agamanya. Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (Iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka daripada Cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (Q.S. Al Baqarah [2]: 257)

Baca Juga  Kunjungi NTB, DPRD Sulsel Diskusi Terkait Perda Insentif dan Investasi

Kartini mengaji, seandainya saja Kartini sempat mempelajari keseluruhan ajaran Islam (Alqur’an) maka tidak mustahil jika ia akan menerapkan semaksimal mungkin semua kandungan ajarannya. Kartini sangat berani unuk berbeda dengan tradisi adatnya yang sudah terlanjur mapan. Kartini juga memiliki modal ketaatan yang tinggi terhadap ajaran Islam. Menjadi pelajaran bagi kita untuk menguatkan ketaatan, mengkaji Islam, berusaha menerapkan, berusaha memperjuangkan di tengah ummat, hingga tegak dalam sebuah institusi yang kuat yang dicontohkan Rasulullah. Berani dalam ketaatan. Berjuang untuk Islam kaffah (total), menghentikan dominasi sistem Sekuler Kapitalis (yang memisahkan agama dengan kehidupan) yang rusak dan merusak. Allahu a’lam bi ash shawab. (*)

iklan bapenda