Wapres JK : Maulana Syaikh Layak Dihargai Sebagai Pahlawan Nasional

oleh -0 views
bankntb

MATARAM, SR (06/04/2017)

Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla menyampaikan bahwa pahlawan bukan hanya berjuang secara fisik. Akan tetapi, gelar pahlawan nasional diberikan kepada mereka yang telah melakukan tindakan yang heroik, perbuatan nyata yang dapat dikenang dan dilihat sepanjang masa. “Termasuk tidak pernah melakukan tindakan tercela, mampu berjuang menggerakkan masyarakat, berdampak nasional dan menunjukkan konsistensi serta hal-hal prestise lainnya. Karenanya, perjuangan TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid atau lebih dikenal Maulana Syaikh, sangatlah layak dihargai sebagai pahlawan nasional,” tegas Wakil Presiden RI akrab disapa JK saat membuka Seminar Nasional bertema “Dari Nahdatul Wathan untuk Indonesia: Jejak Perjuangan Tuan Guru KH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid” di Gedung Dewi Sartika, Universitas Negeri Jakarta, Rabu (5/4) kemarin.

amdal

Pada seminar yang menghadirkan para ahli sejarah terkemuka sebagai narasumber dan puluhan tokoh-tokoh nasional tersebut, di antaranya Gubernur NTB, Dr. TGH M. Zainul Majdi, Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah, DPD RI, Faroukh Muhammad, Suhaimi Ismi, Rektor UNJ, Keluarga dari TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dan para peserta dari civitas akademika berbagai perguruan tinggi di Jakarta dan NTB. “Hadirnya kita di sini menggambarkan apa yang telah dicapai Maulana Syaikh sepanjang hidupnya. Menggambarkan apa yang dicapai tidak jauh beda dengan apa yang diberikan pahlawan nasional sebelumnya. Jadi wajarlah apabila kita semua berdo’a, mengusahakan beliau menjadi pahlawan nasional,” ungkap putra terbaik bangsa kelahiran Sulawesi Selatan itu.

Baca Juga  KPU Sumbawa Batasi Metode Kampanye Paslon

Syaikh Maulana 1

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa dalam waktu 60 tahun ini tercatat sebanyak 169 tokoh diberikan gelar Pahlawan Nasional pada Peringatan Hari Pahlawan setiap tanggal 10 November. Provinsi Bali sudah memiliki 5 pahlawan nasional, NTT baru memiliki 1 orang pahlawan nasional, dan NTB masih sebatas baru diusulkan. “Perjuangan pejuang NTB tidak kurang heroik dari daerah lain, ini hanya masalah administrasi,” tegas Wapres.

Banyak pejuang muslim menjadi pahlawan nasional, ia meyakini apa yang dilakukan Maulana Syaikh tidak kurang dari apa yang dilakukan ulama lain. Ia berharap tim penilai memiliki penilaian baik sehingga apa yang diniatkan dapat terlaksana. “Saya secara pribadi akan memberikan dukungan,” pungkasnya.

Gubernur NTB, Dr. TGH M Zainul Majdi pada kesempatan yang sama menjelaskan setiap perjuangan Maulana Syaikh mencerminkan keyakinan akan kesatuan antara kesatuan nilai keislaman dan nilai kebangsaan di Indonesia. “Nama Nahdatul Wathan dipilih karena memiliki makna berjuang untuk bangsa artinya berjuang untuk agama. Sedangkan berjuang untuk agama pasti akan memberikan kebaikan untuk bangsa. Melalui penamaan itu, Islam dan kebangsaan dua hal yang tidak dapat dipisahkan,” jelas Gubernur yang juga cucu dari TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid ini.

Syaikh Maulana 2

Ia menambahkan bahwa keharmonisan di daerah eks Sunda Kecil yakni Provinsi Bali, NTB dan NTT yang berbeda mayoritas agama karena akrab dengan nilai-nilai kebangsaan. Maulana Syaikh adalah salah satu tokoh utama yang berkonstribusi kokohnya nilai kebangsaan di NTB. “Atas nama pemerintah dan segenap masyarakat Provinsi NTB berharap kiranya ikhtiar ini berujung pada pengakuan pemerintah yang memang sudah sepantasnya menjadikan beliau sebagai pahlawan nasional,” papar tokoh muda yang prestisius ini.

Baca Juga  Diterima Gubernur NTB, Upin & Ipin Sumbang 542 Juta untuk Korban Gempa

Pelaksanaan Seminar nasional yang dimotori UNJ dan Nahdatul Wathan (NW) ini diharapkan menjadi sinyal semakin dekat terwujudnya ikhtiar perjuangan inisiatif pemerintah dan masyarakat NTB, menjadikan TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid pendiri organisasi kemasyarakatan Islam Nahdatul Wathan (NW) sebagai pahlawan nasional benar-benar menjadi kenyataan. Dukungan pemerintah pusat ditunjukkan dengan hadirnya Wakil Presiden Republik Indonesia, Jussuf Kalla yang sekaligus membuka seminar tersebut. (NA/SR)

iklan bapenda