Sumbawa Menuju Science Tourism

oleh -1 views
Iqbal Sanggo
bankntb

Oleh : Iqbal Sanggo*

SUMBAWA BESAR, SR (04/04/2017)

amdal

Sesungguhnya alam ini telah menyimpan banyak pengetahuan bahkan tak terhingga untuk diperoleh manusia. Sejatinya alam semesta ini di anugerahi kebermanfaatan yang melimpah oleh sang pencipta, tak terkecuali keindahan dan keanekaragaman alam yang telah tercipta. Semua belahan di bumi ini telah “dihadiahkan” keindahan alamnya masing–masing. Keindahaannya memiliki kekhasan dan keunikan yang ragam. Di beberapa negara pun banyak sekali dijumpai keindahan dan kekayaan alamnya tak terkecuali di Indonesia khususnya di Provinsi NTB.

Provinsi NTB khusunya Pulau Lombok telah menjadi booming di kancah nasional bahkan internasional. Tentu semua kita tahu bahwa Pulau Lombok memiliki magnet pariwisata yang menarik. Lantas kemudian apa yang membuat Pulau Lombok menjadi ramai dikunjungi wisatawan, jualan salah satunya adalah pesona alamnya. Selain juga keunikan dan kekhasan budaya yang dimiliki oleh Suku Sasak yang merupakan masyarakat asli Pulau Lombok.

Sekarang orang mulai mengenal Lombok bahkan hampir “lupa” kalau Lombok adalah bagian dari Provinsi NTB. Lombok telah menjadi trend center kepariwisataan nasional selain Bali. Lombok bahkan masuk dalam peringkat destinasi wisata terbaik di Asia. Di ajang world Halal Travel Award 2015 di Abu Dhabi, tak tanggung–tanggung Lombok juga mendapatkan 2 kategori yakni World Best Halal Honeymoon Destination atau wisata bulan madu halal terbaik di dunia, dan World Best Halal Tourism Destination atau tujuan wisata halal terbaik di dunia (Suara NTB). Tentu sebagai warga NTB saya sangat mengapresiasi dan bangga atas prestasi dan predikat yang didapatkan, tetapi sebagai warga Sumbawa saya merasa “cemburu”  dengan kemajuan Lombok.

Efek dari polularitas Lombok berdampak pada bertambahnya fasilitas dan infrastruktur pendukung. Selain daya tarik yang dimiliki Lombok, akses dan fasilitas terus dibenahi dan dibangun di beberapa kawasan wisata. Sebut saja kawasan Senggigi, kawasan 3 gili, Rinjani, kawasan Mandalika, Kota Mataram dll. Sejauh pengamatan, Lombok mengalami kemajuan yang pesat dalam konteks pariwisata. Sekali lagi ini tidak lain buah dari anugerah alam yang dimiliki, tentu tanpa meniadakan peran dan kerja keras semua pihak dalam mengupayakannya.

Sumbawa Science Tourism

Kalimat “yel–yel” yang digunakan oleh Pemerintah Provinsi NTB yaitu Visit Lombok Sumbawa yang sekarang sudah diganti menjadi Pesona Lombok Sumbawa, harus dikerjakan secara masif, terukur dan berkeadilan. Mengingat NTB memiliki dua pulau besar yang potensial yaitu Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Caranya tentu dengan dukungan perhatian, kebijakan anggaran dan program oleh Pemprov NTB. Sumbawa sebagai bagian dari NTB, juga punya kenunikan dan keindahan alam yang dimiliki. Seperti yang tertulis di awal tulisan ini, bahwa Sang Pencipta telah menganugerahkan kekayaan dan keindahan alam di semua belahan bumi ini.

Baca Juga  Infrastruktur Handal Mendukung Percepatan Pembangunan Daerah

Orang mungkin sudah banyak yang mengenal bahwa di Pulau Sumbawa terdapat Gunung Tambora, Pulau Moyo, dan Teluk Saleh. Sebagian orang menyebutnya dengan istilah SAMOTA (Saleh Moyo Tambora). Selain kawasan SAMOTA, ada banyak juga kawasan lain yang tak kalah menarik di Pulau Sumbawa seperti Pulau Kenawa, Desa Mantar dan Kawasan Sekongkang KSB. Di Kabupaten Sumbawa sendiri ada banyak destinasi wisata potensial seperti Gili Tomudung, Gili Kramat, dan Gili Bedil, Air Terjun Agal Marente, kawasan Batu Telu (Batu Tering, Batu Alang, Batu Lanteh ), Pantai Sili Maci Empang Tarano serta wisata budaya yang ada di Desa Poto Moyo Hilir dll. Intinya limpahan anugerah alam dan budaya telah tersaji luas dan beraneka, hanya saja memang belum tergarap dengan baik.

Sumbawa tentu tidak boleh latah apalagi meng-copy paste model pengembangan pariwisata Lombok, Bali dan daerah–daerah lainnya. Dengan keindahan dan keunikan alam yang dimiliki Sumbawa, kami ingin “menyuarakan” Sumbawa lewat konsep Science Tourism. Istilah Science Tourism yang secara makna berarti Wisata Pengetahuan mungkin sudah pernah disebut atau terdengar di sebagian kita. Tetapi secara nyata, belum ada upaya untuk memikirkan, memulai gerakan dan mewujudkan  untuk mem-branding pariwisata ke arah yang dimaksud. Judul besarnya adalah Science Tourism yaitu orang tidak hanya melihat dan menikmati sebuah keindahan alam atau obyek wisata tertentu tetapi juga mendapatkan, memperoleh dan “dihadiahkan’ pengetahuan dan informasi.

Sumbawa Science Tourism hendak menekankan pada prinsip bahwa wisatawan atau pengunjung tidak sekedar hanya melihat dan menikmati keindahan alam, tetapi mendapatkan pengetahuan, informasi dan pendidikan yang baik. Setiap orang yang datang bisa disajikan sesuatu yang well informed  tentang setiap keunikan, keanekaragaman serta keindahan alam yang dimiliki. Pertanyaannya, Kenapa mesti kita menyebut Science Tourism ? Karena setiap spot atau tempat yang dikunjungi harus berbasis data yang terkandung di dalamnya pengetahuan dan informasi.

Cita–citanya adalah bahwa Science Tourism menjadi komparasi dan kekhasan tersendiri di antara daerah-daerah lainnya di Indonesia bahkan di dunia. Ujicoba science tourism bisa dimulai dari kawasan Teluk Saleh dan Istana Dalam Loka Sumbawa. Dua tempat ini bisa dikatakan sebagai ikon wisata Sumbawa. Teluk Saleh mendapatkan “predikat” sebagai aquarium dunia, sedangkan Istana Dalam Loka mendapatkan “predikat” sebagai rumah panggung terbesar di dunia. Dan saya membayangkan, dengan judul science tourism ini, di kawasan Teluk Saleh orang akan mendapatkan banyak pengetahuan tentang keanekaragaman flora dan fauna, jenis ikan, biota laut, manfaat ikan dan manfaat–manfaat lain yang terkandung di bawah laut Teluk Saleh Sumbawa. Begitu juga di Istana Dalam Loka Sumbawa, tentu ada banyak pengetahuan tentang peradaban masa lampau Sumbawa baik tentang konstruksi bangunannya, sejarah, budaya, dan kearifan lokal yang terdapat di dalamnya. Karena Istana Dalam Loka merupakan hasil teknologi masa lampau masyarakat Sumbawa yang seyogyanya bisa menjadi ilmu dan pelajaran bagi setiap orang yang datang.

Baca Juga  2.304 Guru di Sumbawa Terima Tunjangan Sertifikasi Tahun 2018 

Wujud Science Tourism

Alam ini telah memberikan kita banyak pengetahuan tentang segala hal. Begitu juga alam Sumbawa telah tersaji banyak pengetahuan secara alami. Untuk itu, keindahan alam Sumbawa atau lebih konkritnya destinasi wisata mestinya harus direspon secara cerdas dan kreatif agar termanfaatkan dengan baik. Science Tourism dapat dikembangkan dengan konsep tradisi tau Samawa yaitu Batuter (bercerita, bertutur ) dan Manto (visual). Setiap orang yang datang ke suatu tempat wisata di Sumbawa harus disuguhkan pengetahuan dan informasi baik itu lewat bercerita atau menjelaskan tentang segala hal yang menjadi pengetahuan dan informasi maupun lewat media visual (foto, video dan film) selain media Batuter dan Manto, wujud science tourism bisa juga dengan membuat mini lab, sehingga setiap orang bisa berwisata sambil belajar ilmu pengetahuan. Kalau di Lombok ada wisata halal dengan menandakan tempat ibadah, makanan halal sebagai unsur halalnya, maka di Sumbawa ada wisata pengetahuan dengan menandakan mini laboratorium, papan pengetahuan, dan tentu media Batuter dan Manto sebagai unsur pengetahuan, informasi dan pendidikannya.

Gerakan Science Tourism sedikit menuntut kita untuk sejenak berpikir di luar kebiasaan kita melihat sesuatu hal dan belajar meng-create sesuatu agar lebih punya warna, bernilai dan berbeda. Science Tourism akan menjadi daya tarik tersendiri dan jualan yang menarik dalam konteks pariwisata, asalkan ada kerjasama dan kolaborasi semua pihak baik pemerintah sebagai fasilitator dan pembuat regulasi, kalangan perguruan tinggi sebagai tim peneliti dan penghimpun data, serta masyarakat sebagai pelaku dan penerima manfaatnya. Semoga semua upaya yang dilakukan berharap mendapat manfaat sebaik-baiknya bagi masyarakat. Sehingga dengan mendorong pengembangan pariwisata tidak hanya dinikmati oleh para pemodal, para elit, dan orang–orang tertentu saja, tetapi dirasakan manfaatannya oleh masyarakat banyak.

(*Penulis Adalah Wakil Rektor Bid. Kerjasama Dan Pengabdian Masyarkat Universitas Teknologi Sumbawa)

iklan bapenda