Teknologi Transformasi Genetik untuk Rumput Laut Tahan Penyakit Ice-Ice

oleh -21 views
Naning Sufianti
bankntb

Oleh : Naning Sufianti (Mahasiswa Semester 4 Fakultas Teknobiologi UTS)

SUMBAWA BESAR, SR (03/04/2017)

amdal

Kabupaten Sumbawa merupakan salah satu daerah dari 10 Kabupaten/kota yang secara administratif termasuk dalam wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Terletak pada sentral Pulau Sumbawa (116” 42’ sampai dengan 118” 221’ Bujur Timur dan 8”8’ sampai dengan 9”7’ Lintang Selatan). Dengan luas wilayah 10.475,75 km2 yang terdiri dari wilayah perairan 3.831,73 km2, dan wilayah daratan 6.643,93 km2. Luasnya kawasan pesisir dan lautan yang kaya dengan biodiversitasnya menjadikan Kabupaten Sumbawa berprospek besar dalam pengembangan dan pemanfaatan kelautan daerah. Kegiatan pengembangan SDA hayati kelautan tersebut dapat dilakukan dalam berbagai kegiatan perikanan baik penangkapan ikan maupun kegiatan budidaya, yang memberikan kontribusi besar dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Salah satu kegiatan budidaya yang dikembangkan di wilayah Kabupaten Sumbawa adalah budidaya rumput laut yang merupakan salah satu komoditas unggulan. Sehingga kegiatan usaha budidaya rumput laut di Kabupaten Sumbawa merupakan jenis usaha budidaya yang cukup berkembang dengan baik, mengingat luas areal yang dapat dimanfaatkan cukup besar yaitu ±14.950 Ha. Adapun jenis rumput laut yang dibudidayakan oleh masyarakat di Kabupaten Sumbawa selama ini sebagian besarnya adalah rumput laut Eucheuma spinosum dan Eucheuma cottoni. Kedua jenis spesies rumput laut tersebut khususnya Eucheuma spmemiliki harga jual sekitar 1500-2000 per kg (basah) dan sekitar 3000-3500 per kg (kering). Fenomenanya adalah harga jual rumput laut ini terbilang rendah. Harga rumput laut ini dapat diperparah dengan tidak bermutunya rumput laut yang dihasilkan. Hal ini akan semakin mempersulit perkembangan budidaya rumput laut, sehingga selama ini belum mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Di sisi lain, jenis rumput laut yang tengah menjadi fokus usaha yang menguntungkan saat ini adalah rumput laut Nori (Gracillaria sp). Rumput laut Nori kini sedang menjadi fokus yang dikembangkan di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (kabupaten tetangga) dan memiliki nilai ekonomi tinggi.

Baca Juga  Pemerintah Sempurnakan Metode Penghitungan Data Produksi Beras

Petani rumput lautProvinsi NTB memiliki potensi yang sangat besar dalam budidaya dan produksi rumput laut. Namun pada kenyataannya, dalam pengembangannya masih terkendala beberapa hal. Salah satunya adanya serangan penyakit ice-ice pada rumput laut jenis Gracilaria sp. Pengendalian penyakit belum dapat ditanggulangi dengan baik, dan berakibat penurunan produksi rumput laut berkisar 70-100%. Penyakit ice-ice juga menyerang sentra budidaya di beberapa negara produsen rumput laut seperti di Filipina, Malaysia dan Tanzania. Kejadian yang sama terjadi di Indonesia seperti di Bali, Lombok, dan Madura. Serangan penyakit ice-ice di lokasi budidaya rumput laut mulai menarik perhatian pada saat mulai mewabah di beberapa pusat pengembangan kawasan budidaya rumput laut. Berbagai strategi diterapkan guna memberikan solusi dalam menanggulangi penyakit ice-ice ini, namun belum menunjukkan suatu hasil yang signifikan. Menyikapi permasalahan di atas, salah satu solusi yang dapat digunakan adalah berupa rekayasa genetika dengan gen lizozim yang diharapkan dapat menjadi solusi untuk masalah penyakit ice ice yang sangat merugikan petani rumput laut baik di Indonesia khususnya daerah Sumbawa maupun petani rumput laut di seluruh dunia.

Lisozim adalah enzim yang terdistribusi secara luas, yang bisa ditemukan pada serum, mukus dan beberapa jaringan vertebrata tingkat tinggi. Lisozim dipergunakan untuk merakit ikan transgenik tahan infeksi bakteri, seperti ikan zebra, udang (Litopenaeus vannamei) dan ikan salmon (Salmo salar L.). Gen penyandi lisozim juga telah diintroduksikan ke dalam genom rumput laut (Kappaphycus alvarezii) dan padi (Oryza sativa) dan Kentang (Solanum tuberosum). Lisozim memiliki aktivitas bakterisidal yang mampu menghidrolisis ikatan β-1.4-glikosida dari peptidoglikan yaitu antara asam N-asetil glukosamin dan asam N-asetil muramat yang merupakan penyusun dinding sel bakteri gram positif dan bakteri gram negatif.

Lisozim ayam telah dilaporkan memiliki aktivitas litik terhadap Micrococcus lysodeikticus, Flavobacterium columnare, Aeromonas hydrophilla dan Vibrio anguillarum. Adanya aktivitas lizosim dalam membunuh bakteri secara enzimatis menjadikan lisozim sebagai salah satu komponen penting dalam pertahanan organisme terhadap serangan bakteri patogen. Berdasarkan struktur, sifat katalitik dan karakter imunologinya, lisozim dibagi menjadi 6 tipe yaitu goose-type (G-type), chicken-type (C-type), invertebrate-type (I-type), plant-type, bacterial-type, and phage-type. Selain itu, ada juga yang mengklasifikasikan lisozim menjadi tiga tipe, yaitu chicken-type (C-type), goose-type (G-type) dan T4-type. Lisozim yang paling banyak digunakan pada hewan atau tumbuhan budidaya adalah lisozim tipe c (chicken lysozyme). Lisozim tipe c merupakan lisozim yang disintesis pada saluran telur ayam.

Baca Juga  Sumbawa Raih Trophy Raksaniyata

Kajian aktivitas litik dari lisozim telah dilakukan pada F2 ikan salmon transgenik. Aktivitas lisozim pada ikan salmon transgenik adalah 40% lebih besar daripada ikan salmon non transgenik. F2 Ikan zebra transgenik yang mengekspresikan lisozim ayam menunjukkan bahwa 65% tahan terhadap F. columnare dan 60% terhadap infeksi Edwardsiella tarda, sedangkan semua ikan zebra non transgenik tidak tahan terhadap bakteri. Aktivitas lisozim pada ikan flounder sangat lemah terhadap E. tarda dan Streptococcus sp. Hasil ini menunjukkan bahwa aktivitas bakterial dari lisozim sangat bervariasi pada spesies yang berbeda. Variasi yang berbeda kemungkinan dipengaruhi oleh hubungan antara inang dan patogen dalam pertahanan bawaan pada inang, selain itu dipengaruhi pula oleh jenis promoter yang digunakan dalam mengontrol gen. Lisozim merupakan enzim antimikrobia yang diyakini memainkan peran penting dalam imunitas bawaan (innate immunity). Aktivitas litik dari lisozim didukung bagaimana lisozim tersebut berinteraksi dengan kandungan lipopolisakarida dari dinding sel bakteri sedangkan untuk produksi ataupun sekresi lisozim dalam banyak jaringan organisme di induksi oleh infeksi bakteri itu sendiri.

Penyakit ice-ice yang menyerang rumput laut jenis Gracilari sp. Rekayasa genetika dengan menggunakan enzim lizozim adalah solusi yang sangat cocok digunakan terhadap kendala yang dihadapi masyarakat dalam melaksanakan usaha budidaya rumput laut, khususnya dalam meningkatkan mutu bibit rumput laut Gracilaria sp. ini. Sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat pesisir khususnya daerah Sumbawa dan dunia. (*)

iklan bapenda