Teknologi Biofertilizer untuk Lahan Kritis di Kabupaten Sumbawa

oleh -8 views
Safitri Lafahtian, Mahasiswa Semester 4 Fakultas Teknobiologi UTS
bankntb

Oleh: Safitri Lafahtian (Mahasiswa Semester 4 Fakultas Teknobiologi UTS)

SUMBAWA BESAR, SR (03/04/2017)

Kabupaten Sumbawa merupakan sebuah kabupaten yang terletak di provinsi Nusa Tenggara Barat. Pendapatan utama dari masyarakat Kabupaten Sumbawa yaitu pada sektor pertanian dan perkebunan. Pada sektor pertanian Kabupaten Sumbawa merupakan daerah lumbung padi secara regional bahkan nasional. Selain padi, jagung merupakan salah satu produk unggulan di Kabupaten Sumbawa. Sedangkan pada sektor perkebunan Kabupaten Sumbawa merupakan komoditas perkebunan yang terdiri dari kelapa, kopi, jambu mente, kaka, kemiri, asam, kapuk, pinang, vanili, lontar dan jarak pagar. Untuk dapat meningkatkan pendapatan masyarakat Kabupaten Sumbawa pada sektor pertanian dan perkebunan dibutuhkan sektor lahan yang luas, produktif dan tidak kritis.

Menurut pandangan Poerwowidodo, lahan dikatakan kritis karena akibat dari solum tanah yang tipis bermunculan batuan di permukaan tanah akibat adanya erosi yang berat yang menyebabkan produktivitas lahan tersebut menjadi rendah dan keadaan lahan menjadi terbuka. Berdasarkan Data Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Sumbawa, pada tahun 2009 kondisi daerah terkait luas lahan kritis di Kabupaten Sumbawa mencapai 560.538.44 Ha. Lahan kritis adalah lahan yang gundul dan sangat tandus dengan tingkat kesuburan yang sangat rendah dan tidak dapat digunakan sebagai lahan pertanian.

Lahan kritis
Lahan kritis

Permasalahan lahan kritis di Indonesia semakin besar dan semakin meluas. Salah satu faktor lahan dapat menjadi kritis dikarenakan pemanfaatannya yang melebihi kapasitas. Berdasarkan data dari Departemen Kehutanan RI, luas lahan sangat kritis dan lahan kritis pada akhir Pelita VI (awal tahun 1999/2000) seluas 23.242.881 ha terdiri dari 35 % dalam kawasan hutan dan 65 % luar kawasan hutan. Deforestasi hutan di Indonesia telah terjadi sejak tahun 1950, namun sejak tahun 1970-an deforestasi menjadi semakin besar dimana era penebangan hutan secara komersial dimulai secara besar-besaran. Antara tahun 1970-an dan 1990-an, laju deforestasi diperkirakan antara 0,6 dan 1,2 juta ha (Sunderlin dan Resosudarmo, 1996 dalam FWI/GFW, 2001). Lahan kritis sangat berdampak pada perekonomian Kabupaten Sumbawa karena mata pencaharian masyarakat Kabupaten Sumbawa dominan bergantung pada sektor pertanian dan perkebunan.

Rendahnya tingkat produktivitas tanaman pangan disebabkan akibat tingkat kesuburan lahan yang terus menurun. Revolusi hijau yang hanya mengandalkan pupuk dan peptisida memiliki dampak negatif pada kesuburan tanah yang berkelanjutan dan terjadinya mutasi hama dan pathogen yang tidak diinginkan. Penggunaan pupuk anorganik atau kimia secara berlebihan merupakan salah satu penyebab lahan menjadi kritis. Lahan menjadi kritis di sini dapat disebabkan karena unsur hara yang tidak seimbang dan pencemaran tanah yang cukup tinggi. Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), keberhasilan peningkatan produksi pangan sangat bergantung pada pemberian pupuk. Pemakaian pupuk kimia secara terus menerus dapat berdampak negative terhadap lingkungan.

Baca Juga  Warga Kelanir Titip Impian kepada Paket NURMAS

Salah satu alternatif dalam rangka peningkatan kesuburan tanah dan lahan adalah dengan menggunakan pupuk yang berbasis bakteri pemacu tumbuh. Bakteri pemacu pertumbuhan tanaman merupakan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria). Aplikasi mikrob pada pertanin organik dapat meningkatkan ketersediaan dan efisiensi penyerapan unsur hara dalam tanah, menekan mikrob pathogen tanah, memproduksi zat pengatur tumbuh (ZPT) yang dapat meningkatkan perkembangan system perakaran tanaman, serta meningkatkan aktivitas mikrob tanah yang bermanfaat melalui penambahan bahan organik. Bakteri tersebut berada di tanah rizosfer dan memiliki kemampuan menghasilkan fitohormon diantaranya IAA, sitokinin, dan giberelin. Aplikasi mikroba pada pertanian organik dapat meningkatkan ketersediaan dan efisiensi penyerapan unsur hara dalam tanah, menekan mikrob patogen tanah, memproduksi zat pengatur tumbuh (ZPT) yang dapat meningkatkan perkembangan sistem perakaran tanaman, serta meningkatkan aktivitas mikrob tanah yang bermanfaat melalui penambahan bahan organik.Bahan alami seperti kompos yang dapat berperan sebagai bahan organik tanah, dapat digunakan bersama dengan agen hayati berupa mikrob yang dikenal dengan pupuk hayati.

Pupuk hayati (biofertilizer) adalah pupuk yang mengandung mikroorganisme yang dapat mendorong pertumbuhan dengan meningkatkan kebutuhan nutrisi tanaman. Mikroba penting penyusun biofertilizer antara lain Bacillus sp., Pseudomonas sp., adalah bakteri pelarut fosfat, Rhizobium sp., Azospirillum sp., dan Acetobacter sp., sebagai penambat nitrogen, Celulomonas sp., Lactobacillus sp., perombak bahan organik dan mikroba penghasil antibiotic maupun hormone pertumbuhan.

Mikroorganisme dalam tanah dapat menghancurkan bahan organik. Mikroorganisme tanah juga dapat mengendalikan organisme pengganggu tanaman dan perombak persenyawaan agrokimia. Bakteri rizosfer yang termasuk plant growth promoting rhizobacteria (PGPR) memiliki kemampuan mengkolonisasi rizosfer secara agresif serta memberikan keuntungan bagi tanaman. Fungsi dari PGPR dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman secara umum terbagi dalam tiga kategori, yaitu sebagai pemacu atau perangsang pertumbuhan (biostimulant) dengan mensintesis dan mengatur konsentrasi berbagai zat pengatur tumbuh, sebagai penyedia hara (biofertilizer) dengan menambat N2 dari udra secara asimbiosis dan melarutkan hara P yang terikat di dalam tanah, dan sebagai pengendali pathogen yang berasal dari tanah (bioprotectant) dengan cara menghasilkan berbagai senyawa atau metabolit anti pathogen seperti siderophore, kitinase, antibiotic, dan sianida. Aplikasi pupuk hayati berbasis bakteri pemacu tumbuh dari kelompok Bacillus sp., Pseudomonas sp., Azospirillum sp., dan Azotobacter sp. telah terbukti dapat memacu pertumbuhan dan produksi padi dan jagung di rumah kaca dan di lapang.

Baca Juga  BIL Tutup Akibat Tertutup Abu Gunung Rinjani

Bahan alami seperti kompos yang dapat berperan sebagai bahan organik tanah, dapat digunakan bersama dengan agen hayati berupa mikrob yang dikenal dengan pupuk hayati. Aplikasi mikrob pada pertanian organik dapat meningkatkan ketersediaan dan efisiensi penyerapan unsur hara dalam tanah, menekan mikrob patogen tanah, memproduksi zat pengatur tumbuh (ZPT) yang dapat meningkatkan perkembangan sistem perakaran tanaman, serta meningkatkan aktivitas mikrob tanah yang bermanfaat melalui penambahan bahan organik.

Penggunaan pupuk hayati yang berasal dari konsorsium beberapa jenis mikroba akan meningkatkan daya serapan hara oleh tanaman, efisiensi nutrisi, peningkatan pH serta memaksimalkan pertumbuhan tanaman dengan zat pengatur tumbuh yang dihasilkan. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berbasis pada teknologi biofertilizer diharapkan lahan kritis yang tidak dimanfaatkan dapat direhabilitasi sehingga mengoptimalkan pemanfaatn lahan. Konsep penggunaan pupuk hayati untuk lahan kritis memainkan peran dalam meningkatkan perekonomian daerah di Indonesia terkhusus Sumbawa yang memiliki lahan kritis dan tidak terpakai cukup luas. Penanganan dengan teknologi pupuk hayati diharapkan mampu membantu pemerintah dalam mencanangkan pertanian sehat dan organik untuk masa depan pertanian Indonesia yang lebih baik.

Seiring dengan peranannya dalam meningkatkan produktivitas pertnanian di lahan kritis, teknologi pupuk hayati diharapkan menjadi sebuah produk yang bisa bersaing secara global terutama dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Teknologi pupuk hayati diharapkan mampu menggunakan potensi lokal untuk produk yang mengglobal. Penggunaan teknologi pupuk hayati ini diharapkan pula mampu menurangi dampak penggunaan pupuk kimia yang berlebihan yang bisa merusak ekosistem tanah dan berdampak pada produktivitas lahan pertanian. Secara berkesinambungan pengaplikasian pupuk hayati ini mampu berperan serta dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas pertanian di Indonesia sesuai dengan harapan pemerintah daerah dan pusat. (*)

 

 

 

iklan bapenda