Petani Rumput Laut Gagal Panen, Pemerintah Siapkan Bibit Baru

oleh -2 views
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan KSB, Lalu Azhar
bankntb

KERJASAMA SAMAWAREA DENGAN BAG. HUMAS DAN PROTOKOL SETDA SUMBAWA BARAT

SUMBAWA BARAT, SR (30/03/2017)

Petani rumput laut Desa Kertasari Kecamatan Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) sudah tiga bulan ini gagal panen. Rumput laut yang ditanam selain terserang penyakit, juga mengalami kerusakan akibat cuaca ekstrim. Kondisi ini menyebabkan ekonomi mereka terpuruk. Untuk menanam kembali mereka kesulitan untuk mendapatkan bibit. Namun petani ini bisa bernapas lega, karena pemerintah setempat siap membantu dengan menyiapkan bibit baru.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan KSB, Lalu Azhar kepada SAMAWAREA, Kamis (30/3) mengakui jika petani rumput laut Kertasari ini mengalami gagal panen. Kondisi ini juga terjadi di berbagai wilayah NTB bahkan Indonesia. Hal ini terjadi karena cuaca yang tidak menentu dan cenderung ekstrim yang kerap disebut masyarakat sebagai musim barat. Sebenarnya pada musim tersebut para petani dianjurkan untuk tidak menanam rumput laut karena ombak besar yang membuat arus juga kuat. Akibatnya rumput laut mudah rusak.

Mudah rusaknya bibit rumput laut yang ditanam petani ini ungkap Azhar, karena sudah tua dan belum pernah diremajakan. Petani menganggap jika membeli bibit baru akan menambah biaya. Untuk itu setiap panen selalu menyisihkan separuh untuk bibit dan sebagiannya lagi dijual. Sehingga, bibit yang dihasilkan pun tidak produktif, dan tidak kuat dengan hantaman ombak.

Baca Juga  Besuk Warga Sakit Wujud Kepedulian Satgas TMMD

Guna membantu petani rumput laut di KSB ini, Azhar mengaku pemerintah daerah menyiapkan dana Rp 250 juta untuk pembelian bibit dan biaya tanam. Untuk bibit hijau sesuai jenis rumput di wilayah KSB, hanya ada di wilayah NTT. “Semoga April ini sudah bisa terealisasi, bersamaan dengan cuaca yang mendukung, ombak yang stabil dan perairan sudah jernih,” ucapnya.

Disinggung mengenai harga rumput laut yang selalu anjlok setiap musim panen, Azhar mengaku dinasnya sudah berkoordinasi dengan sebuah perusahaan dengan standar hingga Rp 900 ribu per kwintal. Catatannya perusahaan tersebut menyiapkan plastik dengan model penjemputan.

Bagaimana dengan rusaknya rumput laut diduga pencemaran laut akibat tambak udang ? Azhar menyatakan sangat kecil kemungkinannya. Sebab tambak memiliki tendon–tempat penampungan limbah untuk dinetralkan sebelum dibuang. Untuk memastikannya perlu dilakukan uji lab. (HEN/SR)

 

RUMAH DIJUAL

iklan bapenda