Bahagia Dunia Akhirat, Jaminan Keluarga Muslim Sejati

oleh -19 views
LINA APRILAWATI SKM RD
bankntb

Oleh: LINA APRILAWATI SKM RD

Keluarga, yang pada umumnya terdiri atas ayah, ibu, dan anak-anak sering disebut sebagai struktur masyarakat terkecil. Walaupun kecil, struktur rumah tangga merupakan unsur penyangga bagi tegaknya masyarakat. Kuat lemahnya institusi keluarga yang ada dalam masyarakat akan memberikan andil bagi kuat lemahnya masyarakat tersebut. Karenanya bangunan sebuah keluarga yang kuat dan kokoh sangat dibutuhkan keberadaannya, terlebih pada saat ini, di mana umat berada pada kondisi sangat memprihatinkan karena tidak diterapkannya aturan Islam di tengah-tengah masyarakat. Betapa sangat menyesakkan dada ketika kondisi ini terjadi di dalam sebuah keluarga di tengah-tengah umat. Saat aturan hubungan laki-laki dan perempuan di lingkup publik yang ditujukan untuk bermuamalah dan bekerjasama dilanggar, diganti dengan pandangan naluri seksualitas (pemikiran barat), tidak sedikit rumah tangga menjadi retak bahkan berujung perceraian karena perselingkuhan masing-masing di luar rumah. Belum lagi tayangan media massa yang merangsang naluri seks hingga menusuk ke jantung keluarga kita. Tak jarang justru penyimpangan seks terjadi di dalam lingkup keluarga. Belum lagi ketika kita dihadapkan pada dampak akibat diterapkannya sistem ekonomi kapitalis. Kemiskinan yang diakibatkan oleh distribusi barang dan jasa yang tidak adil dan salah sasaran membuat kehidupan masyarakat semakin sempit. Sistem ekonomi kapitalis yang tengah dianut umat saat ini membawa kerusakan pada tatanan kehidupan yang teramat luas. Ketika suami istri harus bertengkar karena masalah pemenuhan kebutuhan hidup. Daya beli masyarakat yang sangat rendah berdampak pada kecukupan gizi yang tidak terpenuhi. Sehingga terwujudnya generasi yang sehat dan berkualitas sangat sulit untuk dicapai. Dengan terpaksa ibu menjual bayinya, ayah menjual anak gadisnya di tempat pelacuran. Dengan berkorban perasaan ibu meninggalkan keluarga yang dicintainya demi bekerja di luar negeri. Karena kemiskinan, banyak anak tidak berkesempatan untuk sekolah.

Hal ini bisa kita lihat dan kita rasakan bahwa umat Islam telah terkucil dari sistem Islam, terutama sistem politik, ekonomi, dan pendidikan Islam. Biang keladi dari semua malapetaka yang menimpa keluarga muslim muaranya adalah ketika hukum-hukum Islam dalam keluarga tidak dijadikan pedoman dalam kehidupan keluarga-keluarga muslim. Nilai-nilai Islam di tengah keluarga pun sedikit demi sedikit menjadi luntur. Di sisi lain derasnya arus globalisasi yang dimaknai sebagai kapitalisasi dan liberalisasi, turut menggerus nilai-nilai Islam dalam keluarga bahkan aturan Islam menjadi asing di tengah-tengah umatnya.

Baca Juga  Dewan Pendidikan Sumbawa Apresiasi Spot Belajar Sehat Polsubsektor Kota

Musuh-musuh Islam memang tidak menghendaki kaum muslimin berpegang teguh kepada Islam secara utuh, sebagai sebuah sistem aturan yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Sehingga mereka tidak akan pernah tinggal diam terhadap upaya kaum muslimin untuk menegakkan syariat Islam, mereka berusaha keras untuk memisahkan kaum muslimin dari syariat Islam dan mengaburkannya serta mengikis sedikit demi sedikit syariat Islam dari kehidupan kaum muslimin. Dan ternyata usaha mereka berhasil, sedikit demi sedikit syariat Islam ditinggalkan oleh umatnya sehingga yang tersisa hanyalah aturan yang terkait dengan ibadah ritual belaka seperti : sholat, puasa, zakat, dan haji atau aturan-aturan yang berkaitan dengan keluarga seperti pernikahan, cerai, rujuk dan sebagainya. Akibatnya, tidak bisa disangkal lagi. Dengan semakin melemahnya nilai-nilai Islam dalam keluarga, semakin memperparah munculnya masalah-masalah dalam keluarga. Sebagai konsekuensi tidak dipahami dan tidak dilaksanakannya nilai-nilai Islam dalam keluarga, relasi suami istri yang menyangkut hak dan kewajiban pun terabaikan. Inilah yang kemudian menjadi sumber masalah dalam keluarga. Karenanya aturan yang berkaitan dengan keluarga merupakan benteng terakhir dan syariat yang tersisa bagi umat ini harus dipertahankan oleh umat Islam di samping tentu saja berjuang untuk menegakkan seluruh aturan Allah dan Rasul-Nya yang mencakup seluruh aspek kehidupan.

Menggapai kebahagiaan keluarga dunia dan akhirat tentu menjadi harapan setiap muslim. Sayangnya, upaya mewujudkan hal tersebut menjadi tidak mudah terutama karena saat ini keluarga tengah mendapat ancaman yang sangat berat. Namun, berbekal Islam sebagai pedoman hidup, mewujudkan keluarga muslim sejati itu tentu bukanlah mimpi. Sebab, apapun ancaman dan tantangannya, sesungguhnya Islam telah memberikan jalan keluar dalam setiap persolan yang dihadapi. Oleh karenanya, idealisme dalam berkeluarga seharusnya didorong oleh ketundukan dan kepatuhan terhadap semua ketentuan Allah SWT agar setiap keluarga menempati fungsinya dengan baik.

Keluarga muslim sejati adalah keluarga yang mampu merealisasikan fungsi keluarga dengan baik. Setidaknya terdapat 8 (delapan) fungsi keluarga yaitu fungsi reproduksi, ekonomi, sosialisasi, protektif, rekreatif, afektif, edukatif dan fungsi religius. Bila semua fungsi ini direalisasikan dengan baik oleh keluarga maka keluarga akan memberikan pengaruh yang sangat berarti bagi kemajuan peradaban. Dari keluarga ideal inilah terlahir generasi unggul pembangun peradaban. Dengan peran keluarga ini pula masyarakat akan berjalan menuju kebaikan dan kemajuannya. Hal ini terjadi karena setiap anggota keluarga berperan optimal tidak hanya di dalam keluarga namun juga masyarakat. Walhasil, kebahagiaan dunia akhirat pun akan diraih.

Baca Juga  LIPI Siap Wujudkan Kebun Raya di Olat Maras

Menghadirkan Islam di tengah-tengah keluarga dan masyarakat menjadi kunci untuk mengembalikan peran strategis keluarga. Keluarga muslim sejati sesungguhnya dapat diwujudkan dengan menegakkan Islam sebagai pedoman hidup. Artinya, secara internal, keluarga muslim harus mengikatkan diri dengan Islam dalam seluruh aspeknya. Di sisi lain, umat juga harus mengupayakan berperannya Islam sebagai sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara sehingga mampu menopang tegaknya keluarga muslim sejati yang akan mampu menaklukkan tantangan masa depan. Sebagai agama yang sempurna, sesungguhnya Islam telah mengajarkan bagaimana seorang muslim membangun keluarga yang ideal. Keselarasan menjalani kehidupan berkeluarga dengan aturan (hukum syariat) yang ditetapkan Allah SWT menjadi kunci diraihnya kebahagiaan dunia dan akhirat dalam berkeluarga.

Di samping peran strategis keluarga diperlukan pula peran penting dari negara untuk menjamin kebahagiaan keluarga. Ibarat ibu, negara mendidik, melindungi dan mengayomi keluarga. Negara menghindarkan segala bahaya yang mungkin mengancam, baik dari dalam maupun dari luar. Dari dalam, negara menyediakan fasilitas untuk memberikan pemikiran dan pemahaman yang benar, membentuk aqidah yang kuat, menerapkan seluruh aturan Islam yang menjamin kesejahteraan, dan memberikan jaminan pendidikan. Dari luar, negara membentengi keluarga dari pengaruh ide, pemikiran dan budaya asing yang memberikan pengaruh negatif terhadap keluarga. Penolakan ini mudah dilakukan karena negara bersifat mandiri, tidak tergantung pada bantuan internasional yang mensyaratkan berbagai kompensasi sebagai alat penjajahan.

Negara yang mampu melakukan fungsi besar itu adalah negara yang kuat, serta memiliki ideologi yang dipegang erat, yaitu ideologi yang terpancar dari suatu aqidah yang tidak mudah goyah. Negara itu adalah negara Islam, Khilafah Islamiyah. Saatnya kita berubah menuju kehidupan lebih baik, membentuk keluarga tangguh di bawah naungan khilafah. Sehingga kebahagiaan dunia akhirat sebagai jaminan bagi keluarga muslim sejati dapat terwujud.(*)

 

iklan bapenda